features

Komunitas Onthel Watutumpeng Madiun, Melaju di Atas Roda Kenangan

Para pencinta sepeda tua di Madiun guyub rukun dalam sebuah wadah yang bernama Komunitas Onthel Watutumpeng (Kowat) Madiun. Terbentuk sejak 2018, Kowat menaungi puluhan penyuka sepeda tua dari rentang usia 15 hingga 60 tahun. Banyak sepeda langka dimiliki anggota Kowat.
……….
BUNGAH hati Suwandi ketika mendapat hadiah sepeda tua dari saudara. Mbah Somo –sapaan Suwandi- yang memang hobi gowes itu lantas jadi rajin memacu sepeda tuanya. Hampir setiap akhir pekan menuju Monumen Kresek bersama tiga rekannya. Di perjalanan, Mbah Somo dipertemukan dengan para pehobi sepeda tua lainnya. ‘’Akhirnya semakin banyak yang ikut gowes,’’ kata Galih Prasetyo, anggota Kowat Madiun.
Dari awalnya hanya Mbah Somo dan kedua rekannya, lambat laun jumlah pesepeda yang ikut gowes bareng menjadi 30-an. Jadilah Mbah Somo, Galih, dan para pehobi sepeda tua resmi membentuk Kowat pada 2 November 2018 lalu. ‘’Sekarang jumlah anggotanya sudah 50 orang. Berusia 15 tahun sampai 60 tahun,’’ paparnya.
Anggota Kowat punya beragam koleksi sepeda tua. Banyak yang merupakan barang langka. Seperti Fongers, The Mister, Philips, atau Teha. Jika dinominalkan harganya ada yang sampai belasan juta rupiah. Guna menjaga keakraban, Kowat rutin menggelar kopi darat di markasnya di Karangrejo, Wungu. ‘’Kami juga rutin menggelar gowes setiap akhir pekan. Rutenya menuju Monumen Kresek,’’ terang Galih.
Sejak pandemi Covid-19 merebak, Kowat rutin menggelar bakti sosial. Kegiatan sosial semacam itu penting sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. ‘’Kalau sudah gowes bareng, rasanya menyenangkan. Selain sebagai sarana refreshing, juga bisa bertemu sesama pehobi dan berbagi wawasan seputar sepeda tua,’’ pungkasnya. (irs/c1/naz)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button