Madiun

Komunikasi Antar-RS Tak Maksimal, Pemda Sering Tak Respons Provinsi

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Koordinasi dan komunikasi antar-rumah sakit (RS) di masa pandemi Covid-19 sangat penting. Apalagi, saat terjadi ledakan kasus hingga pasien membeludak. ‘’BOR (bed occupancy ratio) masih penuh hari ini,’’ kata Muhidin, koordinator pelayanan umum Rumah Sakit Lapangan (RSL) Joglo, Dungus, Jumat (2/7).

Kapasitas maksimal RSL Joglo 137 tempat tidur (TT). Hari ini (2/7), 19 pasien dijadwalkan boleh pulang. Kendati demikian, BOR tetap akan full. Sebab, ada 26 pasien yang mengantre masuk. Baik mandiri maupun rujukan dari puskesmas atau rumah sakit. ‘’Kalau kondisi seperti ini, kami selalu koordinasi dengan rumah sakit lain untuk mencari TT kosong, agar pasien tertangani,’’ ujarnya.

Muhidin menjelaskan, komunikasi antar-RS dilakukan melalui aplikasi. Antar-rumah sakit akan saling memberi kabar. Rumah sakit yang pasiennya penuh akan merujuk ke yang BOR-nya rendah.

Namun, lanjut Muhidin, belakangan ini komunikasi tersebut kurang maksimal. ‘’Saat kami mencari rumah sakit rujukan, kadang ada yang tidak merespons. Mungkin sibuk mengurus pasien di tempat masing-masing,’’ tuturnya mencoba positive thinking.

Saat komunikasi dengan aplikasi tak lancar, komunikasi personal jadi pilihan. Muhidin mengatakan, RSL Joglo bisa lebih intens dan leluasa berkomunikasi dengan RSUD Soedono. Itu lantaran sama-sama milik Pemprov Jatim. Sementara RS lain, milik pemerintah daerah (kota maupun kabupaten), kurang intens. ‘’Sudah dibentuk forum komunikasi antar-rumah sakit sejak April 2020 lalu,’’ ungkapnya.

Rujuk-merujuk pasien antar-rumah sakit kurang berjalan baik. Menurut Muhidin, hingga kini belum ada pasien dari Ponorogo dirawat di RSL Joglo. Padahal, di kabupaten tersebut kasus aktifnya tinggi. Pun dengan angka kematiannya. (den/c1/sat/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button