Komposisi Karya Dadang Wahyu Saputra Pukau Warga Negeri Sakura

Musik dangdut bergema di Negeri Sakura. Pekan lalu, Jakarta City Philharmonic (JCP) berhasil menghipnotis penonton yang memadati Tokyo Opera City Concert Hall. Siapa sangka, di balik sukses itu ada peran warga Kabupaten Madiun.

=================

NILAM RIFIA SAVITRI, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

PULUHAN musisi itu bersiap dengan instrumen masing-masing. Ada yang memegang violin, saksofon, cello, flute, piano, trombon, dan alat musik lainnya. Begitu sang dirijen memberikan aba-aba, mereka mulai beraksi.

Tak seperti lazimnya lagu orkestra, komposisi yang mereka bawakan terdapat nuansa dangdut. Setelah mengalun tujuh menit, puluhan musisi itu menyudahi aksinya diiringi tepuk tangan bergemuruh yang memenuhi ruangan gedung cukup besar itu.

Beberapa menit berselang, mereka serempak berdiri. Lalu, membungkukkan badan tanda pertunjukan selesai. ‘’Itu karya saya berjudul Potret Dangdut waktu ditampilkan di Tokyo 7 Oktober kemarin,’’ kata Dadang Wahyu Saputra sembari menghentikan video yang sedari tadi diperlihatkan kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Potret Dangdut kali pertama ditampilkan pada 2017 lalu. Itu setelah pemimpin Jakarta City Philharmonic (JCP) mencari komponis untuk membuat karya dangdut dalam kemasan orkestra. ‘’Teman-teman merekomendasikan saya, karena dikenal dulu pernah mengiringi musik dangdut,’’ ujar warga Kebonsari, Kabupaten Madiun, itu.

Butuh waktu setahun bagi Dadang untuk menggubah Potret Dangdut. Namun, perjuangannya terbayar lunas setelah komposisi itu dilirik JCP untuk dimainkan di Jakarta pada 2017 lalu. Bahkan, pekan lalu berkumandang di Jepang dalam acara Asia Week Orchestra 2019 di Tokyo Opera City Concert Hall.

Pria 31 tahun itu akrab dengan musik berawal saat masih duduk di bangku SMA. Kala itu, dia diminta mengiringi upacara tujuh belasan di sekolahnya. ‘’Kemudian, ada seorang guru yang nyeletuk kalau anaknya kuliah di ISI (Institut Seni Indonesia, Red) Jogja. Katanya, anaknya bisa baca notasi balok. Saya tertarik, akhirnya muncul keinginan kuliah di sana,’’ kenangnya.

Selepas SMA pada 2006 silam, Dadang langsung mendaftar ke ISI Jogjakarta jurusan musik. Sayang, kala itu dia gagal lolos. ‘’Akhirnya saya les piano selama satu tahun, untuk persiapan tes masuk ISI tahun berikutnya,’’ terang Dadang.

Tidak sia-sia, Dadang akhirnya diterima menjadi mahasiswa jurusan musik ISI Jogjakarta. Sejak itu, dia aktif membuat aransemen, meski berupa komposisi terbilang sederhana. ‘’Tahun 2012 lulus, langsung lanjut S-2 pengkajian musik, selesai 2015,’’ tutur warga Desa Balerejo, Kebonsari, Kabupaten Madiun, ini.

Bagi pria yang pernah menjadi pianis Gita Bahana Nusantara di Istana Merdeka enam tahun silam itu, karya mendapat apresiasi tinggi merupakan hal tak ternilai.  ‘’Seperti di Tokyo itu, saya merasa dihargai. Tidak sekadar materi, tapi sambutan dari masyarakat sana bagus sekali,’’ ungkapnya. *** (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button