Ngawi

Komitmen Bersatu setelah Ada Keputusan PSHT Pusat

NGAWI – Ketegangan dua kubu PSHT di Ngawi sementara mereda. Kedua belah pihak memutuskan membuat pertemuan lanjutan. Namun, ada komitmen jika dualisme akan berakhir jika sudah ada kejelasan status. Keputusan itu diperoleh dari proses mediasi yang dipimpin Kapolres Ngawi AKBP Pranatal Hutajulu kemarin (1/5). ’’Saat ini belum selesai, masih harus ditindaklanjuti,’’ tutur Suratno, salah seorang pengurus PSHT versi Parapatan Parapatan Luhur (Paluh) Jakarta 2016.

Ratno –sapaan akrab Suratno- menambahkan, dalam proses mediasi ikut hadir pengurus PSHT Ngawi versi Paluh Madiun 2017 di bawah kepemimpinan R. Moerdjoko. Sedangkan, Paluh Jakarta 2016 itu kepemimpinan M. Taufik. Selama ini, diakuinya ada dualisme kepemimpinan di tingkat pusat PSHT. Berikutnya kepengurusan di tingkat cabang ikut pecah menjadi dua. Seperti di Ngawi. ’’Yang penting kami sudah menyampaikan, niat kami mencari format organisasi yang betul-betul bisa memberi manfaat,’’ tegas Ratno.

Di luar itu, Ratno mengaku tidak ada niatan lain. Warga yang disahkan sejak tahun 70-an itu juga menyebut kepengurusan yang ada sepertinya belum bisa sesuai dengan format organisasi. Sebab, dia menjelaskan seharusnya organisasi itu berjalan sesuai dengan sistem. Sesuai dengan mekanisme. Sistem atau mekanisme dimaksud sudah dijabarkan dalam sebuah anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART). ’’Makanya nanti akan ada pertemuan lagi untuk menuju organisasi yang bermanfaat itu,’’ ungkapnya.

Mengenai nasib kepengurusan PSHT Cabang Ngawi ke depan, Ratno mengusulkan untuk mengikuti keputusan di pusat. Jika nanti pimpinan pusat menyatakan bahwa PSHT kubu M. Taufik benar, maka kubu PSHT R. Moerdjoko harus bersedia bubar. Begitu juga sebaliknya, jika PSHT M. Taufik bukan yang sah, maka juga harus membubarkan diri untuk melebur menjadi satu kepengurusan. ’’Kami meminta semuanya berjalan apa adanya tanpa harus saling menyalahkan hingga pimpinan pusat mengeluarkan keputusan,’’ ujarnya.

Sugeng Hariyono, ketua PSHT Cabang Ngawi versi R. Moerdjoko, usai pertemuan kemarin dengan tegas mengatakan dirinya ingin PSHT Ngawi tetap bersatu menjadi satu kepemimpinan. Dia tidak ingin ada dualisme kepemimpinan PSHT di Bumi Orek-Orek. Sebab, menurutnya, dualisme kepemimpinan justru akan menimbulkan masalah. ’’Karena akan menimbulkan masalah yang lebih besar lagi ke depannya,’’ ungkapnya.

Di sisi lain, pihaknya sependapat dengan kubu Suratno. Bahwa sekarang ini permasalahan sebenarnya ada di tingkat pusat. Karena itu, Sugeng setuju jika langkah yang akan diambil adalah menunggu keputusan dari pusat mengenai kepemimpinan siapa yang benar dan sah. Sugeng juga menegaskan, siapa pun nanti yang ditetapkan sebagai kepemimpinan yang sah harus sama-sama diikuti. ’’Sekarang ya biarlah berjalan apa adanya dengan tetap  menjaga kerukunan,’’ pintanya.

Jika semuanya sudah menyadari bahwa permasalahan itu sebenarnya di tingkat pusat, maka tidak perlu ada kepemimpinan baru lagi di Ngawi. Sebab, Sugeng khawatir jika dualisme kepemimpinan malah menimbulkan masalah baru. Setidaknya, hingga pimpinan pusat menetapkan kubu siapa yang sah, dia berharap tidak ada kepemimpinan lain kecuali kepengurusannya. ’’Kesimpulannya tetap menunggu dari pusat. Siapa pun yang terpilih di pusat itu yang akan diikuti,’’ tegasnya.

Karena itu, dalam pertemuan selanjutnya nanti dia akan mengusulkan agar tidak ada dualisme kepemimpinan PSHT Cabang Ngawi. Meskipun nantinya jika pusat hanya ada satu kepemimpinan, di Ngawi juga bakal melebur jadi satu. Tapi dia hanya khawatir dualisme itu bakal menimbulkan masalah.  Sugeng juga menyampaikan, siapa pun yang menjadi ketua cabang tidak masalah baginya. Dia juga tegas mengungkapkan tidak masalah jika tidak dijadikan ketua cabang. ’’Saya lebih memilih cinta damai daripada timbul masalah seperti ini,’’ ungkapnya tegas. (tif/c1/ota)

 

 

 

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button