Ponorogo

Komisi D DPRD Ponorogo Soroti Tingginya Pernikahan Dini

PONOROGO, Radar Ponorogo – Tingginya kasus pernikahan dini di Ponorogo menjadi sorotan wakil rakyat. Kamis (14/11) komisi D DPRD setempat meminta penjelasan kepada dinas pengendalian penduduk dan keluarga berencana (DPPKB) ihwal problem pasangan menikah di bawah usia 18 tahun. Rapat dengar pendapat (RDP) itu juga dihadiri dinas kesehatan (dinkes) dan RSUD dr Harjono. ‘’Kami ingin mengetahui, mengapa angka pernikahan dini begitu tinggi,’’ kata Sekretaris Komisi D DPRD Ponorogo Relelyanda Solekha Wijayanti.

Dalam hearing segiempat itu, Relelyanda menyoroti angka tingginya pernikahan dini dari kantor Kementerian Agama (Kemenag) setempat. Kepala DPPKB Harjono tak menampiknya. Sooko, Ngrayun, dan Pudak disebut sebagai kecamatan penyumbang tertinggi. Namun, dia menolak fenomena ini berkategori darurat. ‘’Ponorogo masih cukup jauh dengan angka di Jawa Timur,’’ kelitnya.

Harjono menyebut, faktor sosial, ekonomi, dan pendidikan menjadi penyebab pernikahan dini. Pihaknya menemukan sebagian remaja yang menikah dini itu lulusan SMP. Selain itu, sebagian masyarakat kabupaten ini masih memiliki budaya menikahkan anak di usia muda. ‘’Ada juga yang hamil di luar nikah. Di pengadilan agama, ada ratusan kasus seperti itu,’’ bebernya.

DPPKB tidak lantas tinggal diam. Para remaja di tiga kecamatan tertinggi pernikahan dini itu diberi pendidikan seksual lebih intens. Memberikan pemahaman bahwa banyak dampak negatif pernikahan di usia muda. ‘’Kesehatan reproduksi yang perlu dipahami kalau menikah di usia yang terlalu muda,’’ ujarnya. (naz/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button