Madiun

Klinik PWH Langgar SOP?

Seharusnya Noval Diperiksa Dokter, Bukan oleh Perawat

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Klinik Pratama Wahyu Husada (PWH) diduga melanggar standard operating procedure (SOP) dalam menangani pasien Mohamad Noval Mohtarom. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Madiun menyatakan pemeriksaan kali pertama bocah empat tahun itu, Minggu pagi (1/12), semestinya dilakukan dokter. Bukan perawat.

Warga Desa Nglambangan, Wungu, Kabupaten Madiun, yang awalnya mengeluh demam itu akhirnya meninggal dunia dengan kondisi sebagian anggota tubuhnya melepuh, Rabu (4/12). ‘’Memeriksa pasien itu wewenang dokter,’’ kata Kepala Dinkes Kabupaten Madiun Soelistyono Widyantono Kamis (5/12).

Soelis, sapaan akrabnya, menyebut pemeriksaan oleh dokter diterapkan di seluruh tempat layanan kesehatan. Bahkan, ketentuan itu salah satu syarat klaim pasien BPJS Kesehatan. Diduga klinik di Desa Dimong, Kecamatan/Kabupaten Madiun, itu kurang memahami SOP tersebut. Ketentuan itu tidak bisa menoleransi perawat meng-handle ketika dokter tidak ada di tempat dengan berbagai alasan. ‘’Kalau belum ada ya harus ditunggu,’’ ujarnya.

Dia menyebut, klinik PWH membuka layanan 24 jam. Sehingga, harus ada dokter stand by selama tempo tersebut. Biasanya ada pembagian sif pagi, siang, dan malam. Karena itu, dalam kasus Noval yang datang pukul 05.00, tidak bisa dijadikan alasan tidak ada dokter di klinik. ‘’Apa saja layanan kesehatan yang dibuka, ya dokternya itu harus siap kapan pun,’’ tegasnya.

Hari ini dinkes menjadwalkan supervisi ke klinik. Organisasi perangkat daerah (OPD) itu ingin menggali kronologis peristiwa yang membuat pihak keluarga Noval melapor ke polisi. Mulai perawat, dokter, hingga pengelola. Meskipun sudah menerima laporan kejadian dari petugas puskesmas setempat. ‘’Kami ingin memastikan kesalahan prosedur itu,’’ ungkapnya.

Hasil telaah sementara laporan, Soelis menengarai melepuhnya kulit Noval bukan akibat salah mengonsumsi obat. Melainkan sang anak alergi obat. Dalam kasus Noval adalah pasien lama dan terbiasa mengonsumsi obat yang sama. Soelis menyebut alergi terhadap obat itu tidak bisa diduga. ‘’Bukan berarti ketika pertama minum obat itu tidak apa-apa, sampai seterusnya bisa aman,’’ jelasnya.

Soelis belum bisa memastikan jenis alergi yang diderita Noval. Sebab, harus melalui pemeriksaan. Terlepas itu, jenis obat-obatan yang diberikan sudah tepat. Dosis juga sudah sesuai diagnosis panas, batuk, dan pilek. ‘’Kemunculan bintik-bintik semestinya bisa disadari oleh perawat yang kemungkinan alergi obat. Langkah yang diambil harus menghentikan pengonsumsian obat dan melakukan observasi,’’ paparnya seraya menyebut masyarakat harus mengetahui jenis obat yang bisa membuat alergi.

Soelis menyebut, tindakan untuk klinik jika ada kesalahan SOP adalah pembinaan. Pemilik diminta meningkatkan kualitas pelayanan dan sumber daya manusia (SDM). Seperti kesiapsiagaan dokter dan keahlian perawat dalam menjalankan tugasnya.

Pihaknya mengesampingkan sanksi mencabut izin karena bukan termasuk pelanggaran etik. Misalnya, praktik penggunaan obat-obatan terlarang di klinik. Disinggung dampaknya sampai menghilangkan nyawa, Soelis menjawab diplomatis. ‘’Namanya pekerjaan tentu ada risiko. Kesehatan kaitannya dengan nyawa,’’ tuturnya.

Bagaimana dengan masalah antara pihak keluarga dan klinik? Soelis mengatakan tidak akan ikut campur. Kewenangan lembaganya sebatas pembinaan. ‘’Masalah dengan korban tidak akan ikut-ikutan karena itu sudah ranah hukum,’’ pungkas Soelis. (cor/c1/sat)

Keluarga Tolak Otopsi, Polisi Butuh Saksi Ahli

POLISI akan menggunakan cara lain untuk mengungkap penyebab kematian Mohamad Noval Mohtarom, warga Desa Nglambangan, Wungu. Sebab, orang tua bocah empat tahun itu menolak jasadnya diotopsi. Walau melaporkan kematian janggal dengan kondisi sebagian tubuh melepuh dan mengelupas itu ke Polres Madiun. ‘’Meski menolak, penyelidikannya tetap berjalan,’’ kata Kasat Reskrim Polres Madiun AKP Logos Bintoro Kamis (5/12).

Satreskrim menerima laporan dari keluarga Noval didampingi kepala desa (kades) setempat, Rabu (4/12). Jenis obat dari klinik PWH Dimong untuk bocah itu diduga salah. Hingga membuat murid pendidikan anak usia dini (PAUD) itu meninggal. Namun, keluarga tidak bersedia tubuh Noval dibedah untuk mengetahui kondisi organ dalamnya. ‘’Sudah menandatangani pernyataan tidak otopsi,’’ ujarnya.

Menurut Logos, pihak yang terlibat dalam perkara ini bakal diperiksa. Yakni, orang tua dan pengelola klinik. Mulai pemilik, dokter, hingga perawat yang menangani Noval. Selain itu, penyidik akan meminta keterangan dokter di RS Santa Clara, Kota Madiun. Rumah sakit swasta itu sempat jadi jujukan rawat inap sebelum akhirnya Noval tutup usia.

Dia menegaskan, tanpa otopsi bukan berarti penyelidikan bakal sia-sia. Pihaknya akan memintai keterangan sejumlah saksi ahli. Mereka dimintai pendapat seputar bintik merah dan kulit melepuh. Juga obat-obatan yang dikonsumsi Noval dalam dua kali pemeriksaan pada Minggu pagi (1/12) dan malam. ‘’Anaknya kalau sakit sering dibawa ke klinik itu,’’ tuturnya seraya menyebut obat yang dikonsumsi dijadikan barang bukti (BB).

Logos menyatakan, penyebab kematian bakal ditentukan dari hasil rangkaian penyelidikan. Pun ada tidaknya unsur pidana. Sebab, arahnya adalah salah minum obat atau alergi obat. Pihaknya belum bisa berandai-andai, kendati hasil visum luar memang terdapat kulit yang mengelupas. ‘’Nanti diketahui dari hasil gelar perkara,’’ ucapnya. (cor/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button