Madiun

Kita Tak Pernah Tahu

SEJAK akhir 2019 lalu, kota kita memiliki sejumlah ikon baru. Setidaknya dua yang cukup menarik perhatian masyarakat. Yakni, kawasan patung proliman dan trotoar di Jalan Pahlawan, depan balai kota. Sebenarnya ada fasilitas-fasilitas baru lain. Seperti gazebo di Jalan Mastrip hingga taman hasil perbaikan. Pemerintah banyak memperbaiki taman dan trotoar sepanjang tahun lalu.

Tetapi, animonya tetap kalah dengan dua yang tadi. Trotoar di timur patung proliman dan di Jalan Pahlawan tak pernah sepi pengunjung sejak selesai dibangun. Ada saja yang datang. Terutama sore hingga malam. Kawasan itu memang pasnya untuk berkegiatan malam. Orang bilang lebih instagramable. Mungkin karena lampunya. Tetapi pagi juga sering terlihat ada yang foto-foto di sana. Kebetulan saya lewat dan melihatnya.

Malam minggu kemarin pemerintah melalui disbudparpora sengaja menyuguhkan seniman musik angklung. Seperti saat peresmian proyek fisik DPUTR beberapa waktu lalu. Ramai sekali. Itu wajar karena setiap harinya juga ramai biarpun tidak ada hiburannya. Ke Kota Madiun tidak hanya ke mal. Ada sejumlah tempat ikonik kini. Ada yang duduk-duduk, foto-foto, ada juga yang sekadar jalan-jalan.

Kawasan sekitar juga jadi ramai. Jalan Pahlawan padat merayap. Memang seperti itu harusnya. Lewat Jalan Pahlawan tidak boleh kencang. Jalan Pahlawan merupakan jantung kota. Kantor pusat pemerintahan. Kantor Bakorwil juga ada di di sana. Pengendara yang melintas harus menghormati. Paling tidak dengan jalan yang sedikit pelan. Makanya diberlakukan batas kecepatan maksimum di sana. Tidak boleh lebih dari 30 kilometer per jam. Di sepanjang Jalan Pahlawan juga tidak boleh digunakan untuk parkir. Semua parkir menggunakan jalan-jalan di sekitarnya.

Kendaraan juga tidak boleh masuk ke Jalan Pahlawan kecuali dari Jalan Jawa atau Jalan Ahmad Yani. Selebihnya merupakan jalan keluar. Itu mengapa Jalan Perintis Kemerdekaan dan Jalan Sulawesi berubah arah. Jalan akses keluar itu bisa digunakan juga untuk parkir. Saya sudah konsultasikan dengan ahlinya. Perubahan arus jalan bisa mengurangi potensi tumburan di Jalan Pahlawan. Nantinya, yang parkir di Sumber Umis juga seperti itu. Tidak boleh keluar lagi ke Jalan Pahlawan. Tapi, pintu keluarnya tembus ke Jalan Pandan.

Hal-hal baru yang menarik perhatian masyarakat seperti itu harus terus dicoba. Karena kita tidak pernah tahu. Seperti halnya kawasan proliman dan trotoar depan balai kota yang menjadi ramai seperti sekarang ini. Saya tidak pernah menduga sebelumnya.

Ke depan, banyak tempat-tempat baru di kota kita. Seperti sentra kuliner hingga lorong seni. Keduanya, saya optimistis juga bisa ramai. Karena berkaitan dengan yang sebelumnya. Sentra kuliner jelas berkaitan dengan patung proliman karena berada di kawasan tersebut. Gambar konsepnya sudah ada. Patung akan menjadi pintu masuknya. Jalan Rimba Dharma akan dibuat satu arah menuju barat. Begitu juga dengan Jalan Diponegoro yang satu arah dari barat ke timur.

Kalau lorong seni memanfaatkan sungai di Jalan Perintis Kemerdekaan, dekat Jalan Pahlawan. Sungai akan ditutup atasnya menggunakan box culvert hingga tembus Jalan Kalimantan. Saya yakin banyak anak-anak kreatif di Kota Madiun. Mereka akan diwadahi di sana. Wisatawan yang ingin barang seni juga mudah mencarinya. Bisa jalan-jalan pula. Bagi yang ingin ke mal, lokasi juga berdekatan dengan mal. Seperti yang di kota besar lainnya. Masyarakat tidak perlu ragu dengan hal baru. Karena kita tidak pernah tahu.

Saya memang suka dengan hal baru. Begitu juga di dalam pemerintahan. Beberapa hari kemarin saya juga menggelar rapat di Taman Lalu Lintas Bantaran Kali Madiun. Rapat saya rasa perlu di luar ruang. Apalagi, soal kesiapsiagaan bencana. Ke depan, mungkin bisa di aset-aset yang lain.

Kota Madiun punya banyak tempat terbuka yang nyaman dan mendukung. Bisa saja berdiskusi di trotoar atau di sentra kuliner dan lorong seni tadi. Trotoar di Kota Madiun memang dikonsep seperti itu. Luas, nyaman, dan dilengkapi tempat duduk. Tidak mengganggu pejalan kaki. Aset-aset seperti itu harus termanfaatkan secara maksimal.

Sekitar dua pekan lalu, saya juga melantik sejumlah pejabat eselon IV dan III di Pasar Besar Madiun. Tepatnya di aula kolam renang. Ini juga hal baru. Pelantikan biasanya di dalam ruang. Saya tidak ingin seperti itu. Di dalam pasar menyimpan banyak pembelajaran.

Saya ingin aparatur pemerintah kota meneladani pedagang di pasar. Terutama dalam hal melayani pembeli. Pedagang selalu memberikan salam dan memasang wajah senyum tatkala pembeli datang. Entah itu kenal maupun tidak. ASN harus seperti itu dalam melayani masyarakat. Harus totalitas. Jangan kalah sama pedagang. Ke depan, ada banyak hal baru. Jangan pernah ragu dengan hal baru. Karena kita tidak pernah tahu. (*)

Penulis adalah Wali Kota Madiun Drs. H. Maidi, SH, MM, MPd

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close