Madiun

Kita Dikejar Waktu

*Penulis adalah Wali Kota Madiun Drs. H. Maidi, SH, MM, MPd

SETIAP daerah memiliki ikon tersendiri. Saya pernah menuliskannya dulu. Waktu soal PeceLand itu. Yang mau dikerjakan mulai 2020 nanti. Ikon daerah bisa apa saja. PeceLand salah satunya. Tetapi ada ikon lain yang sudah dan sedang dikerjakan. Ada tugu pendekar di simpang lima Kota Madiun. Pengerjaannya dimulai beberapa bulan lalu. Saat ini, sudah selesai. Tugu sudah kokoh berdiri.

Tetapi ada yang kurang. Masyarakat menilai patungnya kekecilan alias kurang besar. Ramai di media sosial. Banyak laporan yang masuk ke saya. Bukan kurang besar. Tetapi tidak proporsional jika dibandingkan dengan tugunya. Jadi patung pendekar lambang program kerja Panca Karya itu terlihat lebih kecil. Lagi pula itu baru anaknya pendekar. Nanti bapaknya juga dipasang. Tapi tidak sekarang. Itu urusan mudah. Tinggal menggantinya, urusan beres.

Tetapi poin pentingnya adalah filosofi di dalamnya. Patung itu bukan simbol pendekar perguruan manapun. Seperti saya bilang, itu simbol program kerja, Panca Karya. Yakni, Madiun Kota Pintar, Melayani, Membangun, Peduli, dan Terbuka. Di simbolkan dengan lima jari. Tak heran, Gerakan tangan pendekarnya menunjukkan lima jari. Tetapi saya tambahkan karismatik di ujungnya. Yang kata ‘kar’ pada pendekar itu. Jadi Pendekar berarti lima karya plus karismatik sebagai goalnya.

Maksudnya berkarisma itu setelah melaksanakan lima karya tadi. Mudahnya begini, seorang pendekar akan memiliki karisma tatkala dia pintar, dia melayani, dia membangun, dia peduli, dan dia terbuka. Pintar berarti memiliki SDM unggul. Melayani berarti berjiwa sosial tinggi. Membangun, artinya mau berkorban demi kebaikan lingkungan ke depan. Bisa juga menggunakan kecerdasannya untuk pembangunan. Peduli berarti mau bergerak. Tidak hanya melihat. Sedang, terbuka berarti selalu jujur dan dapat dipercaya.

Tatkala seorang pendekar menerapkan sifat-sifat itu akan berkarisma di mata orang. Di mata pendekar lain. Di segani dan menjadi suri teladan. Begitu juga dengan kota kita. Saya ingin kota kita pintar, melayani, membangun, peduli, dan terbuka dulu. Baru setelah itu dilaksanakan karismanya akan keluar. Jangan terbalik. Karismanya didahukukan. Tetapi saat ditanya apanya yang berkarisma, tidak bisa memberikan contoh nyata. Berbeda cerita tatkala sudah melakukan lima kebaikan tadi. Tanpa dijelaskan orang sudah bisa menilainya.

Panca karya tadi tentu tidak hanya menjadi angan. Harus dilaksanakan. Segera dan secepatnya. Mengapa? Karena kita dikejar waktu. Waktu berjalan tanpa kompromi. Yang sudah lewat tidak akan kembali. Kita tidak bisa merubah yang sudah terlewat. Tidak perlu terlalu dipikirkan. Cukup menjadi pembelajaran. Sebaliknya, masa depan menanti di depan. Kita berhak mendapat masa depan yang lebih baik dari sekarang. Tentu dengan terus berusaha. Belajar dari kesalahan yang sudah terlewat tadi dan manfaatkan waktu sebaik mungkin.

Saya ingin filosofi waktu ini terus melekat di benak masyarakat. Khususnya, saya dan aparatur Pemerintah Kota Madiun. Agar terus diingat saya letakkan jam di empat penjuru arah di tugu pendekar itu. Jamnya juga cukup besar. Biar mudah dilihat sebagai penunjuk waktu orang yang melintas. Satu lagi, kita juga harus membuka diri terhadap siapapun dan darimanapun. Apakah itu pejabat atau masyarakat apa umumnya. Karena itu patung pendekarnya juga berputar. Saya ingin semua bisa menerima saran dan masukan dari segala arah. Bukan hanya pada satu arah. Sedang, sumber yang lain tidak pernah didengar.

Saya rasa memahami filosofinya lebih penting daripada sekedar mempeributkan ukuran patungnya. Sekali lagi, itu mudah. Tinggal diganti, semua beres. Patung anaknya pendekar itu bisa dipasang di tempat lain. Atau bisa juga setiap taman juga dipasang patung yang sama. Kalau Perlu miniatur tugunya sekalian. Bisa jadi pengingat Panca Karya dan pentingnya memanfaatkan waktu tadi. Patung baru sudah saya instruksikan kepada OPD yang menangani. Tetapi mungkin belum bisa di tahun ini. Apalagi, ini sudah akhir tahun. Administrasi sudah harus rampung tengah bulan ini. Mungkin awal tahun depan.

Saya senang dengan masyarakat sekarang. Kritis tetapi yang membangun. Saya ingin masyarakat Kota Madiun seperti itu. Harus pintar tadi. Pembangunan memang harus diawasi. Saya ingin masyarakat terlibat. Setiap kejanggalan segera dilaporkan. Saya sudah bertemu dengan para kontraktor beberapa waktu lalu. Saya tegaskan tidak ada toleransi bagi yang main-main. Kualitas pembangunan di Kota Madiun harus bagus. Rekanan yang sengaja mengurangi spesifikasinya untuk meraup keuntungan siap-siap berhadapan dengan hukum. Selain itu, jangan harap dapat pekerjaan lagi tahun selanjutnya. Seperti yang saya bilang tadi. Kita tengah dikejar waktu. Semua pekerjaan harus baik agar waktu yang terlewat termanfaatkan maksimal. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button