Pacitan

Kisah Tumiyem dan Paerah, Pedagang Legendaris di Gua Gong

Tetap Setia dengan Dagangan Tradisional meski Kalah Bersaing

Dua perempuan sepuh itu layak disebut pedagang legendaris di Gua Gong. Tiga tahun setelah gua dibuka sebagai objek wisata, keduanya sudah berjualan. Nasi tiwul pecel dan sale pisang tetap dijajakan hingga kini. Seperti apa suka dukanya?

=====================

DENI KURNIAWAN, Pacitan, Jawa Pos Radar Pacitan

SIANG itu, Tumiyem dan Paerah ramah menawarkan dagangannya kepada wisatawan di pinggir jalan jalur keluar wisata Gua Gong. Meski tak ada pengunjung yang mampir, tak ada raut kecewa di wajah dua perempuan sepuh tersebut. Tudung saji yang semula dibuka untuk memperlihatkan barang dagangan ditutup kembali. ‘’Jual tiwul pecel,’’ kata Tumiyem sembari mengibaskan tongkat kecil yang ujungnya diberi plastik agar barang dagangan tetap higienis.

Sejak 1998 Tumiyem jualan nasi tiwul pecel di tempat wisata Gua Gong. Pun beberapa gorengan khas setempat seperti tempe benguk. Lebih dari dua dekade perempuan 80 tahun itu mengais rezeki menjajakan makanan buatan sendiri. Sepi dan ramai dirasakannya selama ini. Tumiyem tetap setia menjajakan makanan tradisional tersebut. ‘’Bisanya cuma buat tiwul pecel dan gorengan. Tapi, kadang bawa lontong juga pas hari besar,’’ ujarnya.

Seiring waktu berjalan, penghasilan Tumiyen berkurang. Dulu, warga Desa Bomo, Punung, ini bisa mengantongi Rp 300 ribu per hari. Namun, sekarang Rp 100 ribu sekali jualan saja bisa dibilang laris. Momen hari besar erat kaitannya dengan pengunjung yang membeludak. Tapi, tak banyak wisatawan yang mampir ke warungnya. ‘’Pengunjung dulu selalu makan setelah keluar dari gua,’’ ungkapnya.

Banyak rumah makan atau warung bermunculan di kawasan Gua Gong. Itu adalah cerita lain di balik pertumbuhan ekonomi sekitar gua yang dibuka sebagai objek wisata 1995 itu. Kendati demikian, Tumiyem tetap setia dengan pekerjaannya selama 21 tahun itu. Saban hari dia tetap menanak tiwul. Wajan di dapurnya juga tetap berminyak untuk mematangkan berbagai gorengan. ‘’Kalau sedang benar-benar sepi, hasil jualan habis untuk naik ojek,’’ terangnya.

Selain Tumiyem, satu lagi seorang pedagang legendaris di Gua Gong. Adalah Paerah, warga Desa Piton, Punung, yang juga mulai berdagang sejak 1998. Bedanya, Paerah menjajakan oleh-oleh khas setempat seperti sale pisang. Irisan pisang yang dijemur lalu digulung membentuk menyerupai cincin, dibubuhi tepung, lalu digoreng. ‘’Buat sendiri seperti ini,’’ kata perempuan 64 tahun itu.

Paerah juga merasakan hal sama dengan Tumiyem, tetangga lapak di satu kios beratap seng sederhana. Penghasilannya tidak sebanyak dulu. Penyebabnya juga sama. Menjamurnya pedagang maupun pusat oleh-oleh di kawasan sekitar. Kendati demikian, Paerah tetap menaruh harapan besar untuk mendulang rezeki di Gua Gong. ‘’Tambah jualan yang lain, gula jawa dan petai kalau sedang musim,’’ ujarnya.

Hari-hari besar atau libur panjang dinanti-nanti. Namun, tak jarang Paerah kecele. Kendati pengunjung membeludak, tak banyak yang membeli dagangannya. Bahkan, Paerah acap merapikan lapaknya tanpa mengantongi duit dari pembeli. ‘’Kadang dapat banyak meski tidak sebanyak dulu. Kadang juga pernah pulang jalan kaki karena tak laku,’’ ungkapnya.*** (sat/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button