Ponorogo

Kisah Suyoto Puluhan Tahun Membersihkan dan Membedah Tubuh Mayat

Pemulasaran Ingatkan pada Kematian

Bau busuk dan belatung akrab di hidung dan mata Suyoto. Kakek 63 tahun itu puluhan tahun bekerja sebagai staf forensik RSUD dr Harjono. Bagaimana suka dukanya?

============================

DILA RAHMATIKA, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

BELUM lama duduk, handphone Suyoto berdering. Selang beberapa saat, sepeda motor yang terparkir di samping rumah digeber menuju ruang pemulasaran jenazah RSUD dr Harjono Ponorogo. Di sana, jenazah seorang pria menanti untuk diperiksa tubuh bagian luarnya. ‘’Sehari ini ada dua jenazah,’’ katanya.

Suyoto adalah staf forensik senior di instalasi forensik RSUD dr Harjono. Dia membantu tugas dokter. Sekadar visum atau otopsi semua jenis mayat. Baik yang berpotensi menularkan penyakit, tanpa diketahui identitas, maupun korban kecelakaan lalu lintas. ‘’Tugasnya memandikan, mengafani, dan menyalatkan seperti bapak modin,’’ ujar warga Jalan Banda, Kelurahan Mangkujayan, tersebut.

Kakek 63 tahun itu tidak pernah membayangkan hari-harinya bersentuhan dengan mayat. Sebab, 40 tahun silam, ketika kali pertama bekerja di rumah sakit, Suyoto adalah seorang satpam. Tidak sampai waktu lama, pimpinannya meminta tenaganya di ruang pemulasaran jenazah. Tanpa menggeser posisi penjaga. ‘’Tapi, sudah 10 tahun ini hanya sebagai staf forensik,’’ tuturnya.

Sebagai staf forensik, pekerjaan membedah tubuh mayat tidaklah mudah. Tidak sekadar memiliki keahlian khusus menggunakan alat bedah. Tapi juga mengikuti standard operating procedure (SOP). Mental juga harus kuat. Sebab, harus mencium bau busuk dan tidak jijik dengan belatung. Belum lagi diselimuti rasa takut setelah melakukan otopsi. Ketika kali pertama membantu otopsi, Suyoto susah tidur malam. Seiring berjalannya waktu mulai terbiasa. ‘’Saya niatkan kalau pekerjaan ini ibadah dan mengingatkan pada kematian,’’ ucap suami Emi Katemi tersebut.

Suyoto paling sering menangani jasad korban laka lantas. Selama puluhan tahun, ada dua kejadian yang tidak akan terlupakan. Yakni, kecelakaan maut bus Aneka Jaya pada 1982. Insiden itu merenggut nyawa 28 penumpang. Dari puluhan itu, 22 jenazah diserahkan ke keluarga. Enam sisanya dikubur masal di tempat pemakaman umum Jarakan.

Delapan tahun berselang, tabrakan bus dengan korban lebih banyak terjadi. Sebanyak 32 penumpang tewas. Seluruh korban berhasil teridentifikasi dan dibawa pulang keluarga. ‘’Puluhan mayat ditumpuk menanti pemulasaran. Prosesnya mulai pagi pukul 08.00 sampai 02.00 dini hari,’’ kenang Suyoto.

Berkaca insiden itu, kakek tujuh cucu itu menyadari perkembangan signifikan dunia lalu lintas. Jumlah tabrakan dengan korban meninggal dunia berkurang drastis sejak belasan tahun terakhir. ‘’Kondisi jalan yang semakin bagus dan mudahnya sarana transportasi menekan angka laka lantas,’’ ucapnya seraya menyebut dulu korban meninggal dunia karena tabrakan bisa sampai 20 orang setiap bulan. ***(cor/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close