Pacitan

Kisah Sujarno yang Tak Patah Semangat meski Tubuhnya Cacat

Sambung Hidup lewat Kerajinan Kayu

Sejak lahir, tangan dan kaki Sujarno tidak tumbuh selayaknya orang normal. Namun, hidup harus terus berjalan. Keterbatasan fisik itu tidak lantas membuatnya hanya berpangku tangan.

============================ 

DENI KURNIAWAN, Pacitan, Jawa Pos Radar Pacitan

DESING mesin terdengar di halaman rumah Desa Kasihan, Tegalombo. Suaranya semakin bising mendekati sebuah gubuk berdinding bambu anyaman. Di dalamnya, seorang pria sedang menghaluskan balok kayu dengan mesin pasah. Tubuhnya sedikit membungkuk karena ujung kedua kakinya mengecil. Pegangan mesin listrik itu dikaitkan pada ujung tangan yang tertekuk ke dalam. ‘’Kondisi cacat seperti ini sudah sejak lahir,’’ kata Sujarno.

Di sekitar tempat tinggalnya, pria 34 tahun itu dikenal sebagai perajin kayu difabel. Pekerjaan itu ditekuni lantaran kondisi fisiknya yang kurang beruntung. Tidak ada tempat yang sudi menampungnya sebegai pekerja. Apalagi, dia tidak pernah tahu rasanya mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dari guru karena tidak bersekolah. ‘’Tidak mau bergantung orang lain, saya membuat kerajinan sebisanya,’’ ujarnya.

Kali pertama, Sujarno membuat sangkar burung. Hasilnya sangat jelek. Sebab, pembuatan kerangka sekadar mengamati sangkar burung yang sudah jadi. Keterampilannya terasah setelah beberapa kali mencoba. ‘’Jualan pertama satu buah sangkar dibeli Rp 20 ribu,’’ ucapnya.

Sedikit demi sedikit uang hasil penjualan sangkar dikumpulkan. Hingga akhirnya bisa membeli peralatan mesin untuk membantu bekerja. Dari situ, jenis kerajinan yang dibuat berkembang. Sujarno sanggup membuat furnitur seperti kursi. ‘’Harganya puluhan sampai ratusan ribu rupiah. Tapi, pembelinya sedikit karena kalah bagus dengan perajin lain,’’ ungkap Sujarno.

Dia harus merawat bapaknya yang sudah renta di tengah keterbatasan fisik. Bantuan beras dari pemerintah setiap tiga bulan sekali disyukuri. Ketika tidak punya uang sama sekali, terpaksa cari pinjaman ke tetangga. ‘’Kalau di dapur ada nasi dan sayur sudah alhamdulillah,’’ ucapnya.

Dengan kondisi cacat, Sujarno selalu kerepotan ketika beraktivitas. Membuat apa yang dilakukannya seringkali tidak bisa maksimal. ‘’Apa yang diberikan Tuhan ya disyukuri,’’ ujarnya sembari berharap ada bantuan dari para dermawan untuk membantu usahanya dan menunjang aktivitas. ***(cor/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
               
         
close