featuresPacitan

Kisah Riyadi, Relawan Pemakaman Jenazah Covid-19

Pasrah, Yakin Tidak Tertular dan Tetap Sehat

Sejak merebak April tahun lalu, Covid-19 telah merenggut 35 nyawa di Pacitan. Namun, pemakaman jenazahnya acap bermasalah. Lantaran Satgas Penanganan Covid-19 setempat tak membentuk tim khusus. Beruntung, ada relawan yang sudi mengantar ke liang lahat.

SUGENG DWI, Jawa Pos Radar Pacitan

PENGAP dan tidak nyaman. Tiga lapis masker bedah dipakai sekaligus. Hazmat pun melekat sejak sejam sebelumnya. Alat pelindung diri (APD) itu tak hendak dilepas. Khususnya, saat warga Desa Bangunsari, Pacitan, itu mendapat panggilan tugas. Dia bukan tenaga kesehatan (nakes) di rumah sakit. Melainkan pengantar pasien korona ke liang lahat.

Berat peti jenazah tak dihiraukan. Bersama lima sejawatnya, mereka bahu-membahu menggotong kotak itu ke tempat pemakaman umum (TPU). Cukup jauh, dari ambulans berhenti sekitar 200 meter. Bukan urusan gampang. Selain gulita, juga risiko tertular Covid-19. ‘’Sudah pasrah. Lillahi taala, yakin tidak tertular dan tetap sehat,’’ tutur Riyadi, salah seorang relawan pemakaman jenazah Covid-19.

Bagi Riyadi, memakamkan jenazah pasien korona layaknya panggilan jiwa. Tak tega saat mendengar kabar orang meninggal tak kunjung dimakamkan. Meski sempat ditentang keluarga, rasa kemanusiaan serta pemahaman akan penyakit tersebut membuat mereka luluh. ‘’Sudah tiga kali ikut pemakaman, awalnya di desa sendiri lalu di desa sekitar,’’ ujar pria 35 tahun itu.

Beruntung, tak ada gejala paparan Covid-19 yang dialami. Keteguhan menjaga kesehatan hingga protokol kesehatan membuahkan hasil. Pun, tak ada keluhan dan cibiran tetangganya. Sebaliknya, support dan dukungan datang mengalir. ‘’Alhamdulillah, sampai saat ini sehat. Karena memang jenazah sudah steril, jadi yakin tidak tertular,’’ pungkasnya. *(sat/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button