Madiun

Kisah Pilu Siti Sulikah, PMI yang Disiksa Majikan di Malaysia

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Tidak semua pekerja migran Indonesia (PMI) meraih sukses di luar negeri. Kisah Siti Sulikah, warga RT 9, RW 3, Dusun Punden, Desa Nglanduk, Wungu, patut dijadikan perenungan. Di negeri jiran dia acap disiksa majikannya. Hari demi hari dijalani penuh penderitaan. Luka-luka buah ringan tangan sang tuan masih membekas. ‘’Setiap hari saya dipukuli,’’ kata Siti ditemui di rumahnya, Sabtu (26/6).

Berbagai macam benda keras kerap mendarat di tubuh perempuan 21 tahun itu. Mulai rotan, gagang sapu, sampai besi batangan. Tubuh lebam hingga kepala berdarah sudah dirasakan. Berbagai kata kasar tak ada jeda masuk telinga. Dia amat sakit hati. ‘’Sakit rasanya. Cuma bisa nangis. Luka-luka karena dipukul saya obati pakai tisu,’’ ungkap Siti. ‘’Pernah juga kepala bagian samping dibenturkan ke tembok. Pusing sekali,’’ imbuhnya.

Tak cukup dengan kekerasan fisik maupun verbal. Siti ibarat tak kenal perut kenyang. Majikan hanya memberi segelas beras dan sebutir telur. Itu bukan jatah satu porsi sekali makan, melainkan untuk sarapan hingga makan malam. ‘’Kadang pengin mi, tapi harus potong gaji,’’ ujarnya.

Siti tak dapat berbuat banyak. Dia terpenjara di dalam rumah. Majikan sama sekali tidak mengizinkannya ke luar. Yang ada cuma membersihkan kamar mandi, mengelap jendela, menyapu, dan menyiapkan seragam sekolah tiga anak majikan. ‘’Untuk buang sampah saja saya tidak dibolehkan. Rumah dipagar dan dikunci saat majikan pergi ke office (kantor),’’ terangnya.

Siti betul-betul dikurung. Dia tidak bisa berkeluh kesah ke keluarga di kampung halaman. Berbagai penderitaan ditanggung dan dirasakan sendiri. Siti tidak pernah pegang handphone (HP) selama jadi ART di Malaysia. Kali terakhir pegang HP saat kali pertama sampai di Malaysia. ‘’HP diminta agen yang menerima pekerja dari Indonesia di sana (Malaysia, Red). Majikan juga melarang,’’ urainya.

Awal nasib baik ketika Siti diminta mencuci mobil di halaman depan. Seorang tetangga yang lewat bertanya kepada Siti. Tentang kecurigaan seringnya suara marah-marah majikan kepada Siti yang terdengar hingga rumah tetangga itu. Merasa ada yang peduli, Siti memberanikan diri bercerita. ‘’Dilarang cakap-cakap ke orang luar, tapi saya sudah tidak kuat. Akhirnya saya ceritakan semua ke tetangga itu,’’ paparnya.

Pertolongan pun datang. Si tetangga lantas melaporkan ke pihak kepolisian setempat. Siti lalu dijemput. Dia pun membeber penderitaannya pada petugas. ‘’Luka-luka karena dipukul sudah difoto polisi dan diobati. Kemudian saya dibawa ke rumah perlindungan imigrasi. Seingat saya tempatnya di Jalan Sri Daman Sarah (Malaysia),’’ ungkap Siti. ‘’Setelah tiga minggu, saya dibuatkan surat-surat untuk pulang ke Indonesia,’’ imbuhnya seraya menunjukkan bekas luka memar di lengan.

Siti kembali ke Indonesia bersama kepulangan PMI di masa pandemi Covid-19 ini. Pada 26 Mei 2021, dia mendarat di Surabaya dan dikarantina tiga hari di Asrama Haji Sukolilo. Setelah itu, dia dijemput petugas Pemkab Madiun dan dikarantina lagi di selter Sanggar Pramuka, Jiwan, sebelum akhirnya bisa pulang ke rumah. ‘’Sampai di rumah, ibu saya ternyata sudah meninggal 12 April lalu,’’ ujar putri pasangan almarhumah Yasmini dan Amat Mujiono itu.

Penderitaan Siti bertambah. Dia tidak bisa menumpahkan kerinduan dan kesedihan kepada ibunya. Seandainya ada kesempatan berbicara, Siti hanya ingin bilang bahwa dia tidak mau ke luar negeri lagi. Dia trauma. ‘’Saat dirawat di kantor imigrasi (Malaysia) itu, saya mimpi ibu datang ke Malaysia, ngajak pulang,’’ kata Siti berkaca-kaca.

Siti menyesali keberangkatannya sebagai PMI 2019 lalu. Seumpama tahu bakal berakhir seperti ini, dia tidak akan menerima tawaran dari agen TKI. Dia ingat betul saat seorang agen tiba-tiba datang ke rumahnya. Karena kondisi ekonomi keluarga yang kurang, dia menyetujui. Dia dijanjikan gaji RM 1.100. ‘’Sebelum berangkat, saya dibawa ke rumah agen di belakang Pasar Dungus. Semua surat-surat diurus agen itu, tahun kelahiran saya diubah jadi 1997 di paspor (sesuai KTP tahun 1999),’’ beber Siti.

Siti berangkat dari Jogjakarta. Sampai di Malaysia, dia diserahkan ke agen di negeri jiran itu. Semalam menginap di penampungan, besoknya diantar ke rumah majikan. Dia sama sekali tak tahu keberadaannya saat itu di mana. Siti hanya ingat rumah majikan berada di Jalan Ipoh. ‘’Dari penampungan agen itu ke rumah majikan sekitar dua jam,’’ sebutnya.

Siti dibuat ”buta”. Selain tak tahu di mana keberadaannya selama 1,5 tahun di Malaysia, dia hanya hafal wajah ngamuk dan bentakan keras dari majikan perempuan. Hanya majikan perempuan yang menyiksanya. Siti juga tak tahu siapa nama majikannya. ‘’Saya manggil majikan perempuan madam dan majikan laki-laki bos. Kalau tiga anaknya itu, koko, cece, dan baby,’’ jelasnya.

Sejatinya, majikan tidak hanya mempekerjakan Siti. Ada satu lagi PMI dari Malang, namanya Lili. Namun, nasib Lili berbanding terbalik dengan Siti yang terus-menerus disiksa. Siti juga tidak pernah berbicara dengan Lili. ‘’Dia (Lili, Red) juga tahu kalau saya sering dipukul, dibentak-bentak, dan diberi makan seperti itu. Tapi diam saja,’’ ungkapnya.

Hanya kisah pilu yang dibawa pulang Siti ke kampung halaman. Dia sama sekali tidak membawa uang. Siti tak tahu mengapa seperti itu. Dia hanya ingat bahwa agen menjanjikan RM 1.100 per bulan sementara majikan RM 500 per bulan. Dia amat berharap bisa menerima gajinya. ‘’Katanya polisi di Malaysia, gaji saya mau diurus,’’ ujar Siti. ‘’Beruntung ada dua PMI yang masing-masing memberi Rp 50 ribu saat saya cerita masalah saya di Malaysia,’’ imbuhnya.

Kini, Siti hanya tinggal di rumahnya yang sederhana bersama ayah, kakak, nenek, adik, dan seorang anak yang masih berusia tiga tahun. Siti ingin membesarkan anak yang ditinggalkannya saat baru berusia satu tahun itu. Suaminya pergi begitu saja ketika anaknya lahir. ‘’Sebenarnya saya ingin bekerja sebagai penjaga toko, tapi tidak ada yang nerima karena cuma lulusan SD,’’ ujar Siti. ‘’Ini coba cari info kerja lewat HP yang diberi saudara dari Ponorogo,’’ tuturnya. (den/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button