Madiun

Kisah Painem yang Rumahnya Dialiri Listrik dari Penerangan Jalan

Magrib Menyala, Subuh Mati

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Zaman sudah serbadigital, tapi masih ada warga Kabupaten Madiun yang rumahnya belum teraliri listrik. Adalah Painem, 63, yang tinggal di RT 20, RW 08, Desa Sambirejo, Jiwan. Terang rumah seluas 35 meter persegi saat malam hasil penyambungan aliran listrik dari lampu penerangan jalan di lingkungan tempat tinggalnya. ‘’Waktu magrib menyala, setelah subuh mati. Siang tidak ada listrik di rumah,’’ kata Painem Kamis (10/9).

Sebelum nebeng lampu penerangan jalan, Painem menyambung listrik dari rumah tetangga yang juga kerabatnya. Namun, sejak pertengahan Agustus lalu, berhenti. Aliran listrik rumah tetangganya itu dicabut karena bermasalah. Painem lantas menerangi rumahnya saat malam dengan lampu minyak. ‘’Rumah nyaris terbakar karena saya tidak sengaja menyenggol jatuh ublik,’’ ungkap nenek tiga cucu itu.

Painem mengatakan, kobaran api lumayan besar. Beruntung, tidak sampai menjalar ke bagian bangunan atau perabotan. Api berhasil dipadamkannya dengan keset. Kejadian tersebut membuatnya trauma. ‘’Lalu, saya cerita ke Pak RT. Hidup sendirian, takut terjadi kebakaran kalau terus-terusan memakai ublik,’’ ucapnya.

Keluhan Painem kepada ketua RT memantik kepedulian warga setempat. Mereka sepakat mengalirkan listrik dari lampu penerangan jalan ke rumah janda satu anak itu. ‘’Ublik tersenggol karena penglihatan saya berkurang akibat penyakit diabetes. Kalau jalan harus pakai tongkat,’’ sebutnya.

Painem tinggal sendirian setelah suaminya, Sukadi, meninggal tiga tahun lalu. Putri semata wayangnya ikut suaminya di Desa Madigondo, Takeran, Magetan. Dia enggan merepotkan anaknya untuk sebatas ikut tinggal. ‘’Karena kondisi ekonominya juga belum bisa dibilang baik,’’ ujarnya.

Painem berharap rumahnya bisa dialiri listrik. Supaya bisa memasak nasi pakai penanak nasi listrik. Sejak ketajaman indra penglihatannya berkurang, dia kesulitan menanak nasi di kompor. ‘’Ada sisa uang Rp 600 ribu dari bantuan Covid-19. Kalau bisa untuk pasang listrik,’’ tuturnya sembari menyebut bantuan korona sebesar Rp 1,8 juta dari tiga tahap sudah habis untuk berobat.

Sebelum didiagnosis diabetes tahun lalu, Painem berjualan nasi pecel di depan gang tempat tinggalnya. Usaha itu kini tidak lagi dilakukannya. Dia lebih sering tinggal di rumah mendengarkan siaran radio baterai. ‘’Seumpama mampu (sehat, Red), tetap jualan. Tapi, sama sekali tidak bisa apa-apa. Kadang, makan diberi tetangga,’’ ungkapnya. (den/c1/cor)

Data Tidak Bisa Diproses PLN

DATA administrasi kependudukan Painem sengkarut. Nomor induk kependudukan (NIK)-nya disebut tidak masuk kategori penerima listrik bersubsidi. Sehingga Perusahaan Listrik Negara (PLN) tidak bisa melayani pemasangan listrik golongan R1/450 VA.

Padahal, nama warga RT 20, RW 08, Desa Sambirejo, Jiwan, Kabupaten Madiun, itu tercantum pada data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS). Bahkan, menerima bantuan langsung tunai (BLT) dari pemerintah pusat. ‘’Melihat kondisi Mbah Painem, semestinya bisa dan memang layak mendapatkan (aliran listrik),’’ kata Sekretaris Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Sambirejo Ajar Putro.

Ajar menyebut, kepala desa (kades) telah mengeluarkan surat keterangan tidak mampu (SKTM). Dokumen itu melengkapi KTP dan kartu keluarga (KK) yang diserahkan oleh Wahono, ketua RT tempat tinggal Painem. Namun, ketika didaftarkan ke PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Madiun, tidak bisa diproses. ‘’Katanya (PLN) tidak masuk kategori penerima listrik,’’ ujarnya.

Wahono mengaku tidak kuat hati kala mendengar curhatan Painem. Dia lantas mengajak musyawarah warga. Disepakati mengalirkan listrik lampu penerangan jalan ke rumahnya. ‘’Kasihan, hidup sendiri dan sudah tidak bisa bekerja karena sakit,’’ ucapnya.

Terpisah, Manajer Bagian Keuangan, SDM, dan Administrasi PLN UP3 Madiun Bintara Situmorang membenarkan pemasangan listrik bersubsidi Painem tidak bisa diproses. Muncul pemberitahuan ”data tidak ditemukan” ketika NIK KTP Painem coba dicek dalam sistem data kelayakan penerima listrik subsidi.

Baik kategori R1/450 VA maupun R1/900 VA. Pihaknya tidak tahu mengapa hal itu bisa terjadi. ‘’Kami sekadar menerima data dari TNP2K (tim nasional percepatan penanggulangan kemiskinan, Red). Kalau data sudah masuk, bisa difasilitasi,’’ kata Bintara.

Menurut dia, bisa saja status penerima BLT atau NIK terdaftar DTKS tidak masuk klasifikasi penerima listrik. Namun, dia juga tidak tahu penyebabnya. ‘’Karena kami hanya menerima data dan melaksanakan sesuai rekomendasi. PLN tidak bisa memodifikasi data tersebut,’’ terangnya. (den/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close