Ngawi

Kisah Azhar, Anak Kuli Bangunan yang Lulusan Bintara Polisi Terbaik

Berangkat Tes ke Surabaya Bermodal Duit Pinjaman Kerabat

Tekad kuat mengantar Muhammad Al Azhar berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi polisi. Bahkan, pemuda itu meraih predikat lulusan terbaik secara akademik SPN Polda Jatim 2020.

____________________________________

DUWI SUSILO, Ngawi, Jawa Pos Radar Ngawi

RUMAH Muhammad Al Azhar di Dusun Tempurejom, Desa Tempuran, Paron, siang itu tampak ramai. Beberapa orang –tetangga dan kerabatnya- silih berganti berkunjung. Pun, pemuda itu menyambut dengan ramah setiap tamunya.

Bukan tanpa maksud, mereka datang ke rumah Azhar untuk memberikan ucapan selamat kepada pemuda itu yang baru saja mendapat predikat lulusan bintara terbaik dari segi akademik Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Jatim tahun ini.

Azhar tidak pernah menyangka cita-citanya menjadi polisi terwujud, apalagi dinobatkan sebagai lulusan terbaik. Sebab, kondisi ekonomi keluarganya selama ini terbilang pas-pasan. Ayahnya hanya seorang kuli bangunan. Sedangkan ibunya penjual sayur keliling.

Impian Azhar menjadi seorang polisi kali pertama muncul saat masih duduk di bangku SMA. Kala itu dia berpikir mustahil melanjutkan kuliah karena kondisi ekonomi keluarganya. Pun, sejak itu pemuda 18 tahun tersebut rutin olahraga untuk membentuk tubuh. ‘’Awalnya asal-asalan. Baru setelah lihat di internet, pola latihan saya teratur,’’ ujarnya.

Tekadnya menjadi polisi semakin menebal saat mengetahui kakak tingkatnya yang memiliki latar belakang hampir sama dengannya diterima sebagai anggota kepolisian. ‘’Saat itu ingat saya masih kelas XII. Dari situlah saya semakin giat berlatih,’’ terang alumnus SMAN 2 Ngawi itu.

Bakat olahraga tenis meja dan maraton menjadi modal lain bagi Azhar meretas jalan menjadi abdi negara. ‘’Dulu pernah juara I kejuaraan pingpong tingkat madrasah se-Ngawi dan juara II maraton, tingkat kabupaten juga,’’ kata putra pasangan Heru Sukamto dan Khomsiatin itu.

Selain memperkuat fisik, Azhar juga getol mempelajari materi psikologi menjelang tes di SPN. Tak jarang dia meminjam buku milik teman, selain belajar dari internet. ‘’Saya download, lalu di-print dan kerjakan di rumah,’’ kenangnya.

Tiba saatnya mendaftar, Azhar berangkat ke Surabaya naik bus dengan berbekal uang pemberian orang tua dan pinjaman kerabatnya. ‘’Waktu mengikuti sejumlah tes, yang ada di benak saya hanya satu, melakukan semaksimal mungkin. Alhamdulillah bisa lolos sampai tahap akhir,’’ ucapnya. *** (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button