Ngawi

Kisah Adhiyasa Yulianto, Guru Honorer yang Beralih ke Usaha Laundry Sepatu

Waswas kalau Dapat Orderan Cuci Sepatu Mahal

Sebelum berhasil dengan usaha laundry sepatunya, Adhiyasa Yulianto pernah berganti-ganti profesi. Mulai berjualan online shop hingga menjadi guru honorer. Namun, kini dia mantap menjalani bisnis laundry sepatu. Suka duka dalam menjalankan usaha laundry telah menempanya hingga mampu membuka outlet sendiri.

=================

DUWI SUSILO, Ngawi, Jawa Pos Radar Ngawi

ADHIYASA Yulianto, 31, resah. Sepatu kesayangannya terlihat kumal. Dia ingin mencuci sendiri, tetapi khawatir sepatunya rusak. Terlebih, dia sering melihat sneakers yang dicuci sendiri malah semakin kusam.

Setelah bertanya kepada beberapa rekan, Adhi mendapat info bahwa ada laundry khusus sepatu di Solo. Bahkan, setelah dicuci sepatunya bisa kembali seperti baru.

Berawal dari kebiasaannya itu, Adhi lantas memutuskan untuk membuka bisnis cuci sepatu sendiri. Modal awalnya Rp 2,5 juta. Duit itu dipakai untuk membuka lapak di rumahnya di Jalan Siliwangi, Jururejo.

Awal mulanya memang sulit. Karena bisnis itu tergolong baru di Ngawi. Untuk mempromosikannya, dia memanfaatkan media sosial (medsos). Selain itu, dia bercerita dari mulut ke mulut kepada teman-temannya.

Hasilnya tidak sia-sia. Pelan namun pasti, usahanya tersebut membuahkan hasil. Kini dia bisa mengembangkan bisnisnya. Hingga mendirikan outlet sendiri. ‘’Pinjam modal Rp 10 juta dari teman,’’ ujarnya kemarin (19/12).

Menggeluti bisnis laundry sepatu ternyata tidak mudah. Apalagi, ketika mendapat banyak orderan untuk mencuci sepatu mahal. Perlu dibutuhkan kehati-hatian supaya sepatu itu tidak rusak. ‘’Sempat takut salah waktu itu. Tapi, semua saya kerjakan secara hati-hati. Syukur pelanggannya tidak komplain,’’ ujar pria 31 tahun tersebut.

Bapak satu anak itu menerangkan, pencucian sepatu atau sneakers tidak bisa sembarangan. Sedikit kesalahan dalam prosesnya rawan membuat warna sepatu berubah.

Banyak sedikitnya air dalam pencucian, menurut dia, merupakan faktor penentu hasil pencucian. Bahan yang berbeda-beda pada setiap sepatu menjadi dasar penggunaan air dalam pencuciannya.

Adhi lantas mencontohkan suede dan kulit yang pembersihannya tidak membutuhkan banyak air. Pembersihannya pun harus menggunakan sikat dengan bulu yang halus. ‘’Merawat sepatu sama pentingnya dengan menambah umur sepatunya. Kalau sepatu dibiarkan dalam kondisi kotor akan mengakibatkan sepatu berjamur dan lemnya akan mudah copot,’’ terang suami Cahyu Dwi Aviani itu.

Dia memang tak pernah mengira usaha laundry sepatunya bisa menghidupi keluarga. Sebelumnya, Adhi pernah menjadi guru honorer dengan hanya bayaran Rp 300 ribu per bulan. Tapi, semua itu coba dijadikannya sebagai pengalaman hidup. ‘’Sempat risau, karena masa depan yang tidak pasti membawa saya untuk menekuni pekerjaan sebagai cuci sepatu,’’ pungkasnya. ****(her/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close