Madiun

Rasakan Sulitnya Dapat Perizinan saat Era Orde Baru

MADIUN – Sosok KH Dahlan berperan penting dalam perkembangan organsasi kepemudaan Islam di Kota Madiun. Berkat tangan dinginnya pula, lahir sejumlah tokoh pemimpin andal di Madiun.

Dari pelataran, lambang organsasi Nahdlatul Ulama (NU) tampak jelas menghiasi dinding serambi rumah KH Dahlan di Jalan Tanjung Raya. Menginjakkan kaki ke dalam, sejumlah foto berfigura menggantung di tembok. ‘’Baru saja menghadiri acara pemkot di Gedung Diklat,’’ kata Dahlan.

Meski usianya sudah 67 tahun, Dahlan masih aktif di sejumlah organsasi. Di antaranya, pengurus MUI Kota Madiun komisi Ukhuwah Islamiyah dan Kerukunan Umat Beragama (KUB). Dia juga tercatat sebagai pembimbing haji di KBIH Jabal Rahmah dan jajaran Syuriah NU. Tidak ketinggalan menjadi pengurus Forum Kota Madiun Sehat (KMS). ‘’Kalau di lingkungan sini (sekitar rumah, Red) saya ketua takmir Masjid Al-Mujahidin,’’ ungkapnya.

Sejak muda, Dahlan gemar berorgansiasi. Saat masih bersekolah di Pendidikan Guru Agama (sekarang MAN 2 Kota Madiun) dia tergabung Ikatan Pemuda NU (IPNU). Ada peran penting Dahlan dan sejumlah rekannya kala itu hingga akhirnya terbentuk IPNU tingkat kecamatan. ‘’Bagi saya itu adalah sebuah kesuksesan,’’ ujarnya.

Selama menjadi pengurus IPNU, Dahlan dkk beberapa kali kesulitan mendapatkan izin saat hendak menggelar kegiatan. Saat akan mengadakan training kader di Dungus, Wungu, Kabupaten Madiun, misalnya. ‘’Dekorasi panggung dan pernak-perniknya sudah jadi. Tapi, karena tidak ada izinnya, perangkat desanya meminta dibongkar semua,’’ kenangnya.

Akhirnya, malam itu Dahlan menemui wakil Kepala Polres Madiun untuk meminta izin. Rasa kawatir akhirnya hilang setelah kepolisian mengizinkan kegiatan tersebut dengan catatan hanya boleh menyampaikan beberapa butir materi.

‘’Di proposalnya itu banyak materi yang dicoret-coret, artinya tidak boleh disampaikan. Sebagai gantinya ada materi dari kepolisian, dari badan penanggulanan kenakalan anak remaja. Kami tidak mempersalahkan, asalkan dapat izin,’’ paparnya.

Setelah mengantongi izin, acara training pun bisa terlaksana. Bahkan, tokoh IPNU Jawa Timur datang hingga memantik gairah daerah lain untuk mengaktifkan kembali IPNU di wilayah masing-masing. ‘’Selanjutnya, kegiatan sejenis semakin sering digelar di setiap kecamatan,’’  tuturnya.

Sulitnya proses perizinan tersebut tidak terlepas dari kebijakan politik rezim Orde Baru kala itu. Sejumlah organsiasi masyarakat (ormas) pun sempat mati suri. Namun, pelan tapi pasti akhirnya menggeliat. Kader-kader NU andal pun lahir. ‘’Termasuk Bupati Muhtarom. Itu dulunya tukang foto acara IPNU,’’  ujarnya.

Dari IPNU, Dahlan merintis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Madiun. Itu dilakukan beberapa tahun setelah berstatus mahasiswa IAIN Ponorogo. Namun, perkembangan organisasi tidak berjalan sesuai harapan. ‘’Karena kesulitan regenerasi. Sebenarnya banyak yang ingin berorganisasi, tapi karena mereka ingin menjadi pegawai (PNS, Red), tak berani berorganisasi,’’ sebutnya.

Pada 1977 Dahlan diangkat menjadi kepala KUA Kebonsari, Kabupaten Madiun. Bersamaan itu dia menanggalkan jabatannya di sejumlah organisasi. Namun, oleh direktorat khusus (sekarang bakesbangpol) terus diawasi. ‘’Pokoknya, jika ketahuan masih aktif dalam ormas, diberhentikan paksa. Ada dua teman yang seperti itu (diberhentikan, Red),’’ ungkap sarjana hukum Universitas Darululum Jombang ini.

Kasi Penyelenggara Haji Kemenag Kabupaten Madiun menjadi jabatan terakhir Dahlan di lembaga pemerintah sebelum pensiun pada 2007 silam. Namun, setelah itu Dahlan tetap aktif  organsisasi. ‘’Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk sesama,’’ ujarnya mengutip salah satu hadis Rasulullah SAW. *** (isd/bersambung)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button