Madiun

Kiprah Masykuroh 13 Tahun Jadi Orang Tua Asuh

MADIUN – Sudah 13 tahun Masykuroh menjadi orang tua asuh. Jumlahnya lebih dari sepuluh. Sekarang masih empat yang tinggal bersama dirinya. Sampai sekarang guru tidak tetap (GTT) di SMPN 1 Mejayan terus membuka pintu. Siapapun diperbolehkan menjadi anak asuhnya.

Suara riuh anak-anak di masjid seberang rumahnya bak jadi penenang. Artinya, anak-anak tetap dalam jangkauannya. Kendati begitu, Masykuroh juga balik ke masjid untuk menyelesaikan jam mengajar anak-anak TPA, di Desa Tulung, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun.

Aktivitas sebagai guru TPA itu dilakukan sejak 2006 silam. Saat itu, bapak mertuanya punya anak asuh. Jumlahnya mencapai lebih dari 20 orang. Mereka berasal dari berbagai daerah. Selain dibiayai untuk belajar, mereka semua dibekali ilmu bercocok tanam. Jika ada yang ingin bekerja, mereka pun juga dibekali keterampilan. ’’Mengikuti bapak mertua, saya juga punya anak asuh,’’ ujarnya.

Para anak asuhnya itu mengikuti rangkaian acara pengajian yang ada di masjid tersebut. Sebelum ashar, mengaji Alquran. Setelah magrib, tadarus bersama. Isya berganti mengaji kitab. Jika siang mereka full belajar di madrasah atau sekolah masing-masing. Imas –sapaan akrab Masykuroh- ingin kalau anak asuhnya benar- benar mendapatkan ilmu agama dan akademik yang seimbang. ’’Dan mereka serius menjalaninya,’’ jelasnya.

Saat itu, ada empat anak asuh yang tinggal di rumahnya. Ada Ahmad Syaifudin yang sudah kuliah. Leo Priyo Pratama, Zainun Anwar, dan Panju Wahyu Iskandar, bersekolah di Madrasah Aliyah. Keempat anak itu berasal dari Desa Sumberbendo, Saradan, Madiun. Mereka semua sudah tinggal bersama Imas sejak awal Aliyah. Imas merasa kalau rumahnya semakin ramai karena ada teman untuk kedua buah hatinya. ’’Anak saya kan dua, dan empat anak saya itu yang menemani mereka juga,’’ katanya.

Sebelumnya, ada lima orang yang ikut Imas. Namun, kelimanya kini sudah lulus. Lantaran semua sudah pamit untuk menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing. Dia bersyukur kalau tak hanya menikah tapi anak asuhnya juga memiliki perkerjaan yang layak.

Dia merasa bekal yang diberikan pada anak asuhnya tidak sia-sia. Meski begitu, Imas tak mengharap balasan apa-apa. ’’Saya senang kalau dengar kabar mereka dapat pekerjaan, apalagi menikah,’’ ungkapnya.

Bisa dibilang, penghasilan Imas dan suami tidak terlalu besar. Namun, dia menyebut kalau pasti ada saja rezeki jika butuh. Dia tidak memiliki usaha yang lain yang memang membuatnya terlalu banyak bergelimang uang.

Namun, dengan pekerjaan dan pekerjaan suaminya kini sudah membuatnya merasa cukup dan dia yakin kalau selalu ada rezeki untuk anak-anak asuhnya. ’’Dan kebetulan itu memang lewat saya dan suami,’’ ungkapnya.

Hingga kini, dia masih membuka pintu bagi anak-anak yatim atau anak yang tidak mampu untuk ikut dengannya. Tangannya selalu terbuka. Menurutnya, yang terpenting adalah semangat belajar tinggi. Perempuan 28 tahun itu merasa kalau rezekinya bakal cukup untuk membiayai kehidupan dan biaya sekolah anak-anak. ’’Tergantung kemauannya mereka apa. Mau kursus dan mau kerja apapun akan saya fasilitasi,’’ katanya. ****(ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button