Ngawi

Kiprah Arif Prianto sebagai Seniman Tato di Ngawi

Tangan Kiri dan Kaki Kanan Pernah Jadi Bahan Uji Coba

Pencinta seni tato di Ngawi berkembang begitu cepat. Tidak hanya dewasa, penggemarnya juga remaja. Meski seni bertato sudah ada ratusan tahun, namun tren atau aliran tato terus berkembang.

=========================

SUGENG DWI NURCAHYO, Ngawi, Jawa Pos Radar Ngawi

DAHI sang tattoo artist itu berkerut. Tanda sedang serius melukis di tubuh seorang model. Tangan sang model menjadi kanvasnya. Tempat menuangkan ide kreasinya. Bisa bunga lengkap dengan warnanya. Atau wajah orang tersayang.

Detail gambar tak boleh terlewatkan sedikit pun. Sedikit saja lekukan tak sesuai pola akan mengubah bentuk gambar. ‘’Kalau membuat tato memang harus hati-hati dan sabar,’’ kata Arif Prianto, seniman tato asal Desa Keras Wetan, Kecamatan Geneng, Kamis (5/12).

Sudah sepuluh tahun pekerjaan merajah tubuh orang itu dilakoni Ben, sapaan akrab Arif Prianto. Semua berawal saat dirinya merantau di Ambon pada 2009 lalu. Dia merasa penasaran ketika melihat tubuh rekannya dipenuhi tato. Dari situ, Ben meminta tubuhnya ikut digambar. ‘’Hasilnya jelek banget. Dan, ada rasa nggak puas setelah itu,’’ ujarnya.

Dua tahun setelahnya, Ben memutuskan kembali ke kampung halaman. Di Ngawi, dia mulai belajar menato. Awalnya iseng-iseng memakai dinamo tamiya dan jarum. Yang jadi kanvas adalah tangan kiri dan kaki kanannya. ‘’Merasa sudah yakin, saya coba beli alat tato sendiri dengan menjual vespa,’’ ungkap pria 31 tahun itu.

Ketika alat sudah terbeli, bukan berarti Ben langsung bisa menguasai. Dia lebih dulu belajar ke teman kenalannya di Jogjakarta. Merasa ilmu yang dipelajarinya sudah cukup, Ben memutuskan membuka studio tato kecil-kecilan. ‘’Paling aneh pernah dapat permintaan tulisan di dada, kilat bledek, dan sampai saat ini saya nggak paham apa maksudnya itu,’’ katanya. ****(her/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button