Ponorogo

Kiai Imam Sayuti Teruskan Perjuangan Kiai Hamzali

PONOROGO – KH Al Faqir Imam Sayuti Farid meneruskan estafet perjuangan Kiai Hamzali. Mendirikan Ponpes Ittahadul Ummah di lingkungan masjid peninggalan laskar Pangeran Diponegoro itu di Kelurahan Jarakan.

Pesantren Ittahadul Ummah didirikan 1970 silam. Dilatarbelakangi lesunya kegiatan pendidikan keagamaan di lingkungan setempat. Saat itu, KH Abu Manshur —pengurus utama masjid sudah uzhur, menginjak 90 tahun. Beliau merupakan generasi ketiga dari Kiai Hamzali yang babad wilayah Jarakan. Sementara regenerasi belum ada. Lalu, datanglah KH Sayuti yang tak lain santri KH Thoha Mu’id dari Bandar Kidul, Kediri. Ulama kelahiran Tulungagung yang masih memiliki hubungan darah dengan Ponorogo. Dari jalur ayahnya di keluarga Bani Abdul Ghoni, Gandu, Mlarak. Dari garis keturunan ibu juga masih satu jalur dengan Bani Abu Syukur, Kradenan, Jetis. Kedua tokoh tersebut merupakan kiai besar di wilayahnya masing-masing. Oleh karenanya, KH Sayuti terpanggil meneruskan syiar Islam di Bumi Reyog. Selain, ditugaskan Kemenag Jatim menjadi guru PNS ke Ponorogo. ‘’Bisa dibilang, beliau itu pendatang murni yang membangun pesantren dari nol,’’ ungkap Gus Kirom, salah satu pengasuh Ponpes Ittahadul Ummah.

Kehadiran KH Sayuti pun disambut hangat warga setempat. Tokoh sekaligus sesepuh pengurus masjid pun mempercayakan kegiatan keagamaan kepada beliau. Dari situlah lahir niat besar membangun pesantren di dekat masjid. Keinginan itu mendapat restu dari berbagai tokoh masyarakat, Kiai Sujak Sulam yang merupakan generasi penerus kiai Hamzali. Akhirnya, dia membangun pesantren dengan mendirikan madrasah diniyyah untuk membekali anak-anak dengan ilmu keagamaan. Selang dua tahun, tepatnya tahun 1970, KH Sayuti membulatkan tekad membangun pondok pesantren. ‘’Perlahan,  santri mulai berdatangan,’’ sambungnya.

Bangunan yang digunakan kegiatan santri merupakan bangunan lama peninggalan H Umar Shidiq dan H Idris di era 1930-an. Pembangunan masjid diawali babad kawasan tersebut. Dulu kawasan itu berupa hutan belantara tumbuh subur Pohon Jarak. Pohon tersebut juga membentang di pinggiran sungai. Dari situlah, kawasan di selatan pasaar relokasi itu dinamakan Jarakan. Tak kurang dari 185 santri diajarkan berbagai kitab salafi. Seperti tafsir jalalain, alfiyah ibn malik, fathul qorib, hingga qomi’uth tuhgyan. ***(fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button