Ponorogo

Kiai Ageng Umar Shodiq Tak Suka Keramaian, Rajin Membuka Lahan

Kiai Ageng Umar Shodiq dikenal sebagai tokoh panutan yang tak suka keramaian. Sikap zuhud itu terus diteladani. Sampai kini, warga pantang menyelenggarakan pertunjukan kesenian maupun pesta lain yang dekat dengan hura-hura dunia.

—————————

NUR WACHID, Ponorogo

PLAKAT bertuliskan makam Kiai Ageng Umar Shodiq terpampang di pinggir Jalan Raya Ponorogo-Madiun. Masuk ke timur dari pertigaan Babadan tepatnya di depan Perum Bulog. Komplek masjid dan makam berada di sisi barat jalan, utara perempatan pertama. Jalan menuju makam melewati masjid dan sekolah. Di sana, peziarah wajib melepas alas kaki. Di pemakaman berbentuk joglo itu terdapat dua makam yang dipercaya sebagai abdi Kiai Ageng Umar Shodiq. Di utaranya terdapat bangunan dengan dua pintu. Di situlah Kiai Ageng Umar Shodiq disemayamkan.

Komplek pemakaman ini terlihat bersih dan asri. Menandakan adanya pemeliharaan secara rutin. ‘’Sejarahnya ada beberapa versi,’’ kata Ispani Wiyono, ketua takmir masjid sekaligus generasi ke enam Kiai Ageng Umar Shodiq.

Ada dua versi sejarah tentang asal-usul sosok kharismatik tersebut. Dalam buku Babad Babadan karangan Purwowijoyo menyebutkan, Kiai Ageng Umar Shodiq merupakan putra dari Kiai Ketib Anom dari Pacitan. Disebutkan pula, Kiai Ageng Umar Shodiq menikah dengan keponakan Pangeran Sumendhe dari Setono, Tegalsari, Jetis. Namun, buku itu tidak menyebutkan nama perempuan yang dinikahinya. Tidak disebutkan pula, putra-putri hasil dari pernikahan keduanya. ‘’Ada versi lain. Saya dapat silsilah turun-temurun dari keluarga,’’ lanjutnya.

Dari versi silsilah keluarga yang turun hingga Ispani disebutkan Kiai Ageng Umar Shodiq merupakan putra dari Ki Ageng Tukum atau Ki Ageng Abdul Marsad. Silsilah juga menjelaskan urutan mulai Ki Ageng Klakah, Raden Patah, Pangeran Palembang, Ki Ageng Maloko, Sunan Ampel, Sech Abidin Arifin, Syekh Jumadil Qubro hingga sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Disebutkan pula bahwa Kiai Ageng Umar Shodiq merupakan saudara Kiai Anom Besari, Caruban. ‘’Ayahnya sama, Ki Ageng Tukum atau Ki Ageng Abdiul Marsad,’’ ungkap kakek 70 tahun itu.

Meski berbeda, kedua versi tersebut sama-sama menceritakan bahwa Kyai Ageng Umar Shodiq berkeliling ke hutan untuk membuka lahan dan mendirikan masjid. Konon, sebelum ke Babadan, Kiai Ageng Umar Shodiq babad alas di Majasem dan Tegalsari. Cerita ini terkait dengan sejarah pendirian Masjid Majasem. Selanjutnya, babad alas ke Tanjungsari, Jenangan. Sebelum akhirnya menetap di Desa/Kecamatan Babadan. Setiap babad alas, Kiai Ageng Umar Shodiq selalu mendirikan masjid untuk beribadah warga setempat. ‘’Itu artinya beliau merupakan ulama yang getol dalam menyiarkan Islam,’’ sambungnya.

Kiai Ageng Umar Shodiq juga dikenal sebagai ulama yang zuhud (tidak tergiur urusan duniawi). Saking sederhananya, beliau tidak suka dengan keramaian. Baik kesenian maupun pesta pora lainnya. Sikap hidup ini diteladani warga sampai sekarang. Mitosnya, siapa yang nekat menggelar pertunjukan kesenian atau hura-hura, bakal gagal. Cerita tentang warga yang nekad melanggar akhirnya gagal tidak terhitung jumlahnya. Termasuk Ispani saat menggelar hajat pernikahan putrinya. ‘’Awalnya mau ada pertunjukan kesenian. Sudah dirancang dipersiapkan semuanya, akhirnya pertunjukannya gagal,’’ kenangnya. *** (habis/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close