AdvertorialNgawi

Keunikan Pasar Jadul Ahad Legi, Koin Bambu Jadi Alat Transaksi

NGAWI – Suasana zaman kerajaan beberapa abad silam seolah hadir kembali. Sejumlah warga bertransaksi di pasar yang kental nuansa jadul. Para penjualnya mengenakan busana tradisional seperti biasa dikenakan penduduk kala itu. Uang untuk bertransaksi pun menggunakan koin dari bambu.

‘’Pengunjung yang akan belanja menukarkan dulu uangnya dengan koin bambu,’’ kata Kabid Pariwisata Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Ngawi Totok Sugiharto Minggu (30/6).

Pemandangan unik tersebut terlihat di event Pasar Jadul Ahad Legi di kompleks Taman Wisata Tawun. Pasar yang buka mulai pukul 07.00 itu menawarkan bermacam dagangan jadul. Mulai mainan hingga klithikan (kebutuhan sehari-hari). Juga makanan seperti nasi tiwul, nasi jagung, dan gethuk. ‘’Selain untuk nostalgia dengan barang dan makanan zaman dulu, kami ingin mengenalkan ini ke generasi muda,’’ ungkapnya.

Di luar dugaan, event Pasar Jadul Ahad Legi itu mendapat sambutan antusias warga. Baru sekitar satu jam dibuka, sedikitnya ada 5 ribu pengunjung yang hadir. Bahkan, saking ramainya, tutup lebih awal dari waktu yang dijadwalkn, yakni pukul 12.00 lantaran semua dagangan ludes terjual. ‘’Ini penyelenggaraan yang pertama. Untuk yang kedua nanti konsepnya masih sama, tapi akan kami tambah jumlah pedagang maupun jenis dagangannya,’’ tutur Totok.

Pasar Jadul Ahad Legi kemarin melibatkan 29 pedagang yang merupakan warga sekitar. Selain itu, komunitas barang antik dan beberapa perkumpulan lain. Di antaranya, komunitas Dolanan Jaman Biyen, Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti) Ngawi, pegiat media sosial GenPI, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Tawun serta Dimas-Diajeng Ngawi. ‘’Event ini juga jadi trending topic nomor empat nasional di Twitter,’’ sebutnya.

Kepala Disparpora Ngawi Rahmad Didik Purwanto menambahkan, Pasar Jadul Ahad Legi meningkatkan angka kunjungan wisata ke Tawun. Pun, diharapkan menimbulkan multiplier effect terkereknya pertumbuhan ekonomi warga sekitar. ‘’Kami yakin dengan meningkatnya wisatawan akan menimbulkan dampak luar biasa bagi masyarakat sekitar,’’ ujar Didik.

Didik menyadari, sebagai organisasi perangkat daerah (OPD) yang mengampu bidang pariwisata, disparpora memiliki tugas besar untuk dapat menciptakan multiplier effect tersebut selain mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) melalui sektor pariwisata. ‘’Kami akan terus berinovasi tingkat kunjungan wisata ke Ngawi semakin meningkat,’’ tuturnya. (tif/isd/adv)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button