Ngawi

Keuletan Mas Be Berdayakan Petani Kopi Nangka di Desa Ngrayudan, Jogorogo

Dulu Sepi Peminat, Kini Pesanan Datang dari Luar Negeri

Desa Ngrayudan tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata. Tapi juga sebagai salah satu penghasil produk kopi nangka jenis ekselsa. Kopi itu mempunyai cita rasa yang berbeda. Ada taste buah nangka. Di tangan Fajar Dwi Nofianto, kopi berasa alami tersebut mulai banyak diminati para pencinta kopi.

_________________________

DUWI SUSILO, Jogorogo, Jawa Pos Radar Ngawi

MENJELANG petang, bangunan kedai kopi yang tak begitu luas itu mulai dipenuhi pengunjung. Rata-rata masih belia. Sebagian lagi tampak para pekerja yang sepertinya tengah menghabiskan waktu lengang.

Kedai bernama Mas Be Coffee itu berlokasi di Dusun Glagar, Desa Ngrayudan, Kecamatan Jogorogo. Jika melihat dari luar, sepintas tak ada yang unik dari kedai kopi yang dimiliki oleh Fajar Dwi Nofianto tersebut. Namun, begitu masuk, pengunjung disuguhi menu yang memuat kopi nangka dengan jenis robusta, arabika, dan ekselsa. ‘’Jenis kopi yang paling dikenal adalah ekselsa,’’ kata Fajar, Senin lalu (10/2).

Dengan ditemani secangkir kopi, pria 33 tahun tersebut bercerita seputar kopi nangkanya. Menurut dia, kedainya itu dibangun tak sekadar mengikuti tren. Tetapi lebih cenderung mengenalkan produksi kopi lokal di desanya. Karena itu, konsepnya dibuat tidak biasa. ‘’Di kedai ini hanya menjual kopi lokal, khas Ngrayudan,’’ ungkap pria yang akrab disapa Mas Be tersebut.

Bapak dua anak itu mengatakan, produksi kopi di desanya terbilang melimpah. Hampir setiap lahan di rumah penduduk ditanami pohon kopi. ‘’Jenis kopi di sini terhitung langka karena usia pohonnya rata-rata puluhan tahun dan merupakan peninggalan dari orang tua mereka terdahulu,’’ terangnya.

Jika biasanya pohon kopi hanya setinggi 1–3 meter, di Desa Ngrayudan bisa tumbuh mencapai 5–8 meter. Hal tersebut dikarenakan kopi termasuk tanaman yang tumbuh liar dan jarang dilakukan perawatan. Pemangkasan baru dilakukan saat masuk musim panen. ‘’Idealnya secara berkala dilakukan pemangkasan. Tujuannya, selain memudahkan ketika panen, juga agar buahnya dapat maksimal,’’ jelasnya.

Berawal dari situ, Fajar kemudian mempunyai ide untuk mengangkat nilai jual kopi masyarakat Desa Ngrayudan. Persisnya pada 2017 lalu. Dimulai dengan seringnya dia mengikuti festival dan pameran kopi di sejumlah daerah. Beberapa kopi berikut ekstrak dan pengolahannya dipelajari olehnya. Selanjutnya, Fajar mempraktikkannya di rumah. ‘’Saya kemudian beranikan diri membuka kedai kopi sederhana dengan memanfaatkan garasi mobil yang berada di samping rumah. Selanjutnya saya mulai intens mempelajari pengemasan dan pemasarannya untuk jenis ekselsa,’’ paparnya.

Usaha Fajar tidak sia-sia. Kopi nangka jenis ekselsa olahannya makin dikenal banyak orang. Bahkan, dalam setahun dirinya mampu menjual hingga dua ton biji kopi nangka. Dari situ, para petani kopi di desanya diajak bekerja sama. ‘’Karena saat ini per kilo kopi kering saya beli dengan harga Rp 100 ribu dari sebelumnya hanya Rp 20 ribu di pasar tradisional,’’ ungkapnya.

Semisal, ketika membawa satu karung kopi, uang yang bisa dikantongi mencapai jutaan rupiah. Padahal, dulunya hanya sekitar Rp 200 ribu. Untuk menjaga kualitas kopi nangka jenis ekselsa olahannya, Fajar memberikan pengetahuan kepada petani tentang cara memilah jenis kopi yang bagus. Seperti hanya dipetik yang sudah memiliki warna merah. Lalu, setelah dipetik direndam air untuk memisahkan biji kopi yang berkualitas bagus. ‘’Kalau biji kopi mengambang berarti tidak diikutkan dalam proses selanjutnya,’’ ujarnya.

Kini kopi nangka olahannya sudah merambah ke luar negeri. Mulai dikirim ke Australia, Jerman, Taiwan, Thailand, dan Amerika Serikat. Namun demikian, usahanya itu bukan tanpa kendala. Menurut Fajar, masalah ada pada ketersediaan stok. Sebab, di tempatnya belum ada perkebunan dan masa panen kopi hanya dua kali dalam setahun. Sementara pesanan datang hampir setiap bulan. ‘’Kalau dihimpun keseluruhan, lahan kopi milik warga hanya mencapai 2–3 hektare. Sehingga, belum tentu bisa mencukupi kebutuhan pasar,’’ tandasnya. ****(her/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close