features

Ketulusan Usman Thomas Urusi Jenazah Pasien Covid-19

Tak Pernah Mengeluh, Selalu Jaga Imunitas Tubuh

TAK ada yang lebih tabah dari tim pemulasaraan jenazah pasien Covid-19. Hari-hari mereka diisi tugas kemanusiaan yang menuntut keberanian dan ketulusan. Satu dari pejuang garda depan itu adalah Usman Thomas.

SRI MULYANI, Jawa Pos Radar Madiun

HARI itu hampir pagi ketika handphone berdering pukul 02.00 dini hari. Seketika Usman Thomas terjaga. Beranjak dari tempat tidurnya, lantas bergegas bergabung bersama tim pemulasaraan jenazah Covid-19. ‘’Panggilan mendadak itu sudah biasa. Setiap saat harus siap siaga,’’ katanya.

Keikutsertaan Usman dalam tim pemulasaraan jenazah berawal saat rumah sakit tempatnya bekerja kesulitan mencari petugas yang mengurusi jenazah Covid-19. Lantas, direksi mencari anggota internalnya. Proses ini tidak semudah membalik tangan mengingat tidak semua petugas bersedia diamanahi tugas berat itu. ‘’Atas nama kemanusiaan, bismillah saya langsung siap saat ditawari. Mereka juga bagian dari saudara kita yang terkena musibah,’’ tuturnya.

Usman lantas mulai belajar dengan seniornya secara bertahap. Tak butuh waktu lama bagi suami Umi Mahmudah itu untuk menguasai perihal kepengurusan jenazah Covid-19. Usman tak pernah mengeluh. Meski kekhawatiran senantiasa membayangi mengingat di rumah dia memiliki dua balita. ‘’Khawatir jangan-jangan waktu pulang bawa oleh-oleh yang membahayakan. Alhamdulillah selama ini aman,’’ ucapnya.

Warga Jalan Merbabu itu senantiasa memperhatikan kondisi fisik setiap hendak menjalankan tugas. Juga rajin olahraga dan mengonsumsi vitamin. Pernah suatu ketika bertugas saat kondisinya kurang fit. ‘’Saat itu rasanya mau pingsan. Akhirnya angkat tangan keluar ruangan menghirup udara segar,’’ kenang pria 35 tahun itu.

Pemulasaraan jenazah Covid-19 berbeda dengan jenazah pada umumnya. Petugas yang menanganinya wajib mengenakan alat pelindung diri (APD) level 4 sejak di ruang isolasi. Seluruh peranti juga dipersiapkan secara detail dan disemproti disinfektan. Setelah jenazah rapi kemudian disalati, lalu dimasukkan peti yang tertutup rapat. Barulah setelah itu diangkat ke mobil ambulans menuju pemakaman. ‘’Terkadang dalam sehari bisa tangani dua-tiga jenazah,’’ terang pegawai bidang logistik farmasi di RSI Siti Aisyah Madiun itu. * (fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button