Pacitan

Ketika Ratusan Warga Desa Jeruk, Bandar, Pacitan, Menjadi Sineas

Karya Film Low Budget, Orientasi Bukan Komersial

Siapa pun bisa menjadi sineas. Terlibat aktif dalam produksi sebuah film. Komunitas Kampoeng Pilem beranggotakan warga Desa Jeruk, Bandar, ini menjadi buktinya.

______________________ 

SRI MULYANI, Pacitan, Jawa Pos Radar Pacitan

KAMPOENG Pilem lahir dengan Ali Mustofa sebagai bidannya pada 2012 silam. Komunitas film itu beranggotakan warga Desa Jeruk, Bandar, Pacitan. Para sineas itu mencapai 100 orang dari berbagai kalangan. Mulai petani, pedagang, anak-anak, hingga nenek berusia 80 tahun. ‘’Gabung sekaligus menjadi aktor dan aktris dalam film yang dibuat,’’ kata Ali.

Dalam kurun delapan tahun, ratusan karya film telah ditelurkan. Di antaranya berjudul Matahari di Garis Batas, Pak RW Kumis, Banyu, dan Pak RT Pelit. Ali dkk membuat film pendek berdurasi sekitar 4–5 menit dan maksimal 60 menit. Dikonsep seri atau episode. ‘’Lebih dari 10 judul film bisa dibuat dalam satu bulan,’’ ungkap pria yang menjadi sutradara di Kampoeng Pilem tersebut.

Banyak penghargaan telah diraih dari sejumlah film yang dibuat. Di antaranya masuk empat besar lomba tingkat Jawa Timur pada 2015. Dua tahun berselang meraih juara II dalam lomba di Jogjakarta.

Kampoeng Pilem terbentuk atas dasar keresahan Ali yang melihat vakumnya seni pertunjukan di Desa Jeruk. Ludruk dan ketoprak, misalnya, yang hanya  dimainkan kala ada yang mengundang. Ali yang merupakan tenaga pengajar di salah satu sekolah di Bandar lantas mengajak anak didiknya membuat film. ‘’Ada lima orang kala itu,’’ ujarnya.

Konsep yang dibawa komunitas sempat ditolak oleh tokoh desa setempat. Meski begitu, niatan berkarya tidak surut. Titik balik datang ketika salah satu film masuk empat besar lomba tingkat Jatim. ‘’Warga mulai mengapresiasi dan bergabung,’’ tutur Ali.

Kampoeng Pilem adalah wadah bagi para seniman desa setempat untuk berekspresi. Orientasinya bukan komersial, melainkan berkesenian tanpa ada beban. Sebab, konsep yang ditawarkan adalah pertunjukan low budget. Mulai dari kostum, latar panggung, dan lainnya. ‘’Tema film tentang kehidupan sehari-hari,’’ ujarnya seraya menyebut proses syuting film menjadi sarana refreshing para anggotanya.

Proses pengambilan gambar para pemain dilakukan spontan. Mereka tidak berlatih terlebih dulu agar hasilnya maksimal. Bahkan, cerita dan naskah dibuat ketika para pemainnya sudah siap. Sedangkan untuk pemutaran film menggunakan layar tancap. Cara itu dipilih agar budaya itu tetap lestari. ‘’Kami akan terus berproduksi dan berkoordinasi dengan Pemkab Pacitan. Semoga komunitas ini bisa dikenal luas,’’ harapnya. (cor/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button