Madiun

Ketika Pasangan Disabilitas Disatukan dalam Pernikahan, Begini Kisahnya

Setelah memendam keinginan 10 tahun, Margono akhirnya bisa menikahi Lestari, pujaan hatinya. Senang bercampur haru dirasakan pasangan disabilitas itu saat prosesi akad nikah di Kantor Urusan Agama (KUA) Manguharjo.

————————

NUR WACHID, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

SEBUAH mobil berpelat merah berhenti di depan KUA Manguharjo. Setelah pintu terbuka, tampak sepasang pengantin bersiap turun sambil tersipu malu. Mempelai laki-laki mengenakan jas warna hitam dan kopiah. Tangannya meraih tongkat bantu jalan. Beberapa orang berbaju batik membantunya turun dari kendaraan.

Setelah itu, mempelai perempuan berkebaya warna merah dengan make-up tipis menyusul turun sambil tersenyum semringah. Perempuan itu lantas digandeng mempelai laki-laki masuk KUA. ‘’Sebenarnya sudah lama saya ingin menikah,’’ kata Margono, si pengantin pria.

Margono dan Lestari menikah melalui program nikah gratis yang digelar Pemkot Madiun. Margono, warga Kelurahan Kejuron, Taman, itu merupakan tunadaksa yang mengalami kelainan pada kaki sejak lahir. Sementara, Lestari yang asal Kelurahan/Kecamatan Manguharjo adalah penyandang tunagrahita. ‘’Terima kasih kepada Pak Wali Kota, akhirnya kami bisa menikah,’’ ucapnya.

Margono jatuh hati pada Lestari sejak pandangan pertama sepuluh tahun silam. Kala itu, keduanya dipertemukan saat mengikuti program pelatihan yang diselenggarakan Persatuan Penyandang Disabilitas Kota Madiun (PPDKM) di Jalan Srindit. ‘’Setelah kenalan akhirnya jatuh hati dan ingin menikahinya. Tapi, karena masalah ekonomi, saya mengurungkan niat itu,’’ kenang pria kelahiran 1969 ini.

Sehari-hari Margono bekerja sebagai tukang servis barang elektronik. Dari pelatihan PPDKM itu pula keterampilan tersebut didapatnya. Beberapa bulan terakhir dia juga memproduksi pipa rokok.

Sementara, Lestari setiap hari tinggal bersama ibunya yang sudah sepuh. Perempuan kelahiran 1972 itu merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Keterbelakangan mental membuatnya tidak dapat berbuat banyak. Kendati demikian, di lingkungan rumahnya Lestari dikenal sebagai pribadi mandiri, supel, dan selalu ceria. ‘’Tambah semangat lagi ketika bertemu dengan perempuan yang saya suka,’’ imbuh Margono.

Meski mengikuti program nikah gratis, Margono tidak ingin sepenuhnya biaya ditanggung pemkot. Maskawin, misalnya, dia meminta menggunakan uang hasil keringat sendiri. ‘’Senang sekali pokoknya,’’ ucap Margono. ***(isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
close