Bupati Menulis

Ketika Istri Dirawat karena Covid-19

SAYA masih ingat istri di-swab dan hasilnya positif Covid-19 pada 8 Januari lalu. Sebelumnya dia mengalami demam, batuk, dan sesak napas sejak berada di Jakarta, 1 Januari. Saya putuskan agar dirawat di RSUD dr Sayidiman Magetan.

Ibu dan adik sudah lebih dulu kena Covid-19. Saya risau dan pikiran ke mana-mana. Mengingat penyakit ini belum ada obatnya, dan kala itu vaksin belum dilaksanakan. Istri terbaring lemah, mengenakan alat bantu pernapasan. Setiap hari saya menyempatkan berkomunikasi untuk menguatkan.

Setiap kali ditanya kondisi, jawabannya selalu baik. Namun, sorot matanya tidak bisa berbohong. Kondisinya sedang tidak baik. Kami sudah 38 tahun hidup bersama dalam pernikahan. Itu belum termasuk masa lima tahun berpacaran. Karenanya, saya tahu kelebihan istri yang bisa menahan sakit. Keluhan hanya disampaikan ketika benar-benar tidak bisa menahannya.

Saya menyerahkan sepenuhnya perawatan kepada dokter yang berkompeten. Berbagai simpati berdatangan. Baik melalui doa maupun bantuan semacam vitamin penguat daya tahan tubuh. Namun, istri tetap sendirian di kamar tanpa ada yang menemani. Gerak dokter dan perawat yang merawat pasien Covid-19 sangat terbatas.

Tenaga kesehatan (nakes) harus mengenakan alat pelindung diri (APD) level 3 setiap kali masuk ruang perawatan. Di dalam ruangan, interaksi dengan pasien juga tidak bisa lama. Seperti memasang infus, mengukur tensi, dan tindakan lainnya. Manusiawi kalau kemudian nakes harus dilindungi atau menjaga diri dari kemungkinan tertular. Sebab, sudah banyak nakes yang terpapar dan menjadi korban.

Dalam masa perawatan, ada informasi terapi plasma darah yang dapat membantu penyembuhan pasien Covid-19. Walau belum terbukti secara ilmiah, namun banyak pasien di berbagai negara sembuh karena transfusi plasma dari penyintas Covid-19. Saya tertarik mencobanya.

Dorongan itu diperkuat imbauan Wakil Presiden Ma’ruf Amin kepada pasien Covid-19 yang sembuh untuk mendonorkan darahnya. Tentunya ada persyaratan yang harus dipenuhi. Di Jawa Timur, daerah yang bisa memproduksi plasma konvalesen di antaranya Surabaya dan Malang.

Alhamdulillah dapat plasma darah dan ditransfusikan kepada istri. Kondisinya berangsur membaik. Dia tidak perlu alat bantu pernapasan. Infus juga dilepas. Aktivitas mulai longgar. Saat berkomunikasi mulai bisa tertawa. Betapa gembiranya.

Karena sendirian di kamar dan merasa sudah sehat, rasa bosan dan jenuh mulai melanda. Istri saya menghilangkan perasaan itu dengan cara membersihkan apa saja yang berada di dalam kamar. Seperti membersihkan sakelar listrik yang kotor dengan tisu basah. Juga, menggosok kerak di dalam kamar mandi. Sarang laba-laba yang menempel di langit-langit ikut dibersihkannya.

Istri mengirimkan foto sebelum dan sesudah barang dibersihkan. Tampak jelas perbedaannya. Saya sangat terharu. Dua minggu dirawat di ruang isolasi, meski secara fisik dan hasil pemeriksaan sehat, namun hasil swab masih positif. Istri lantas dipindah ke kamar perawatan orang tanpa gejala (OTG). Aktivitas positif tetap dilakukan. Semua peristiwa dan unek-unek di hati ditulis di laptop yang sengaja dibawanya.

Kesempatan membesuk datang 27 Januari lalu. Momennya setelah meresmikan laboratorium PCR dan kamar operasi khusus Covid-19 di RSUD dr Sayidiman. Saya sengaja pulang lewat lantai dua ruangan istri dirawat. Tepat di bawah jendela yang terbuka, saya memanggil agak keras.

”Dik….” Saya yakin istri sangat mengenal suara dan panggilan spesial itu. Tidak lama kemudian dia menampakkan wajahnya dari balik jendela. Menggunakan bahasa isyarat, dia mengatakan baik-baik saja. Lega rasanya.

Pada 28 Januari, swab ketiga menyatakan negatif. Istri diperbolehkan pulang. Untuk menjaga diri dan lingkungan, saya memintanya isolasi mandiri di rumah.

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari cobaan sakit Covid-19. Baik istri maupun saya sebagai suami. Namun, terpenting bagi pembaca jangan sampai terkena. Terapkan protokol kesehatan. Jangan lengah dan takut divaksin bila sudah mendapat kesempatan nantinya. (*/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button