Madiun

Keran Penyaluran Bulog Madiun Tersumbat

Beras BPNT Pro Pasar Bebas

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Temuan puluhan ribu ton beras rusak (disposal) di gudang Perum Bulog dikhawatirkan merembet ke gudang di daerah. Termasuk Perum Bulog Subdivre IV Madiun. Meskipun belum ada temuan, segala kemungkinan bisa terjadi. Terlebih, antara serapan dan penyaluran tidak seimbang. Ditambah masa simpan beras yang terbatas.

Kepala Perum Bulog Subdivre IV Madiun Sugeng Hardono membenarkan hal itu. Terlebih kini pemerintah menutup keran penyaluran beras lewat program Beras Sejahtera (Rastra). Diganti program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Mengakibatkan Bulog tidak dapat lagi menyalurkan ribuan ton beras setiap bulan. ‘’Seharusnya diimbangi antara penugasan penyerapan dengan penyaluran,’’ kata Sugeng.

Dulu, pihaknya dapat menyalurkan beras sedikitnya 1.500 ton tiap bulan ke tiga daerah. Meliputi Ngawi 900 ton, Kabupaten Madiun 550 ton, dan Kota Madiun 50 ton. Namun, penyaluran itu berhenti sejak Maret 2018 karena beralih ke program BPNT. ‘’BPNT acuannya pasar bebas, transaksi putus setiap bulan dan terus bergerak bebas,’’ ujarnya.

Sejak itu pihaknya kehilangan pintu penyaluran. Secara otomatis 1.500 ton beras yang biasanya disalurkan ngendon. Beruntung September lalu Pemkab Ngawi bersedia menerima saluran 400 ton beras tiap bulan. Meskipun turun separo lebih, setidaknya mengurangi stok yang terus menumpuk. ‘’Sehingga masih ada 1.100 ton beras yang biasanya tiap bulan disalurkan sekarang menumpuk,’’ ungkapnya.

Sugeng menuturkan, kebijakan itu sepertinya kurang match. Terutama pada penugasan antara serapan gabah beras dari petani lokal dengan penyaluran. Berdasarkan aturan yang ada, pihaknya wajib menyerap gabah beras dari petani lokal. Sementara, keran penyaluran mulai ditutup. ‘’Sepertinya pemerintah lebih memberikan kesempatan ke pasar bebas,’’ tuturnya.

Data terakhir mencatatkan serapan 14.500 ton beras. Itu akumulasi serapan tahun ini. Sedangkan total stok beras yang tersimpan di gudang mencapai 22 ribu ton. ‘’Itu serapan bertahap, terakhir September lalu,’’ sebutnya.

Ketimpangan itu dikhawatirkan berdampak pada menurunnya kualitas beras. Sebab, beras memiliki masa simpan terbatas. Maksimal hanya bertahan enam bulan. Melewati masa itu berpotensi rusak bahkan membusuk.

Tak tinggal diam, Bulog Subdivre IV Madiun telah berkoordinasi ke pihak terkait. Namun, pemkot dan Pemkab Madiun memilih BPNT ke pasar bebas. Pihaknya berharap persoalan ini menjadi perhatian berbagai pihak. ‘’Kami akan terus menjalin komunikasi,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

Kota Madiun Bebas Beras Impor

PEMKOT memastikan Kota Madiun bebas dari edaran impor beras. Jaminan itu dipastikan Kepala Dinas Perdagangan Kota Madiun Gaguk Hariyono mendasar survei dan inspeksi di lapangan. ‘’Kami pastikan tidak ada beras impor di kota ini,’’ tegasnya.

Harga edar di pasaran pun masih normal. Di Pasar Besar Madiun (PBM), IR 64 Rp 9.000 per kilogram. Sementara beras premium jenis mentik dan bengawan Rp 10-11 ribu per kilogram. ‘’Bahkan, kian mendekati Nataru (Natal dan tahun baru, Red) harganya masih stagnan,’’ ujarnya.

Sebagai antisipasi, pihaknya bakal berkoordinasi lebih intens dengan Tim Satgas Pangan dan Bulog. Terutama menjelang cuti bersama Nataru. Juga untuk memastikan tidak terjadi gejolak harga untuk komoditi lain. ‘’Sampai kini belum ada gejolak harga seperti biasanya,’’ ungkap Gaguk.

Justru, harga sejumlah komoditi lain saat ini mengalami penurunan. Harga ayam salah satunya. Dari yang sebelumnya Rp 33 ribu turun Rp 31 ribu per kilogram. Sementara harga kebutuhan lain masih terpantau normal. Diprediksi, harga kebutuhan mulai merangkak naik sepekan menjelang Nataru. ‘’Imbas dari cuti bersama,’’ tuturnya. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close