Pacitan

Kerajinan Batu Jeruk Stagnan, Promosi Tak Libatkan Perajin

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Kerajinan batu warga Dusun Watu Kudi, Jeruk, Bandar, Pacitan, tak berkembang. Lingkup pemasaran produk alat dapur dan pertamanan itu tak mampu menembus pangsa nasional. Predikat produk unggulan tingkat nasional 2012 silam tak membuat pemkab serius mempromosikan. ‘’Kami kesulitan memasarkan,’’ kata Mukimin, salah seorang perajin, Senin (5/8).

Dia mengaku, selama ini warga memasarkan sendiri produknya. Seperti tungku, cobek, dan aksesori taman yang dipajang di tepi jalan. Pemkab seringkali mengambil sampel produk untuk dipamerkan dalam berbagai kegiatan. Sayangnya, upaya promosi itu tidak melibatkan para perajin. Padahal, mereka bisa belajar banyak lewat pameran. Sehingga berpeluang mengembangkan usaha. ‘’Yang ada sebatas kalau laku uangnya dikasihkan, kalau tidak ya kembali barang,’’ ujarnya.

Padahal, lanjut Mukimin, sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA) kerajinan batu di Watu Kudi melimpah. Hingga kini tercatat lebih dari 20 perajin di bawah naungan delapan kelompok aktif berproduksi. Sedangkan tambang batu ada empat titik yang semuanya mengantongi izin. Persoalan lain, biaya cukup mahal untuk mengikuti pameran atau bazar di daerah lain. ‘’Pemasaran kami sebatas di kota tetangga,’’ tuturnya.

Suyatno, perajin lainnya, menilai peluang bisnis kerajinan batu masih bagus. Meraup untung dari tungku yang dihargai Rp 180 ribu–Rp 200 ribu. Itu belum dari produk lainnya yang harganya bisa lebih mahal. Karenanya, dia memilih bertahan ketimbang mengadu nasib ke luar daerah. ‘’Hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,’’ katanya.

Suyatno menambahkan, produk kerajinan dibuat tradisional. Tanpa campuran bahan lain. ‘’Sebenarnya ada alat modern untuk mempercepat produksi. Tapi kami tidak mampu beli,’’ ungkapnya. (den/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button