features

Kepiawaian Ghopex Airbrush Bergaung hingga Malaysia

Nama Arif Agustiyanto sudah tidak asing lagi di kalangan penggemar seni airbrush di Kota Madiun. Bahkan, customer-nya kini telah merambah kawasan luar pulau, bahkan Malaysia. Butuh perjuangan panjang sebelum pria itu berada di posisi seperti sekarang.

SRI MULYANI, Jawa Pos Radar Madiun

BERBAGAI peranti airbrush menjadi bagian dari keseharian Arif Agustiyanto sejak 15 tahun silam. Kini, tidak hanya orderan yang tak pernah sepi, sejumlah karya pria 43 tahun itu berhasil memenangi kompetisi tingkat nasional. Bahkan, karyanya dengan objek Ironman pop art sempat meraih predikat best of the best sebuah ajang di Malaysia.

Namun, jalan panjang harus dilalui Ghopex -sapaan akrab Arif Agustiyanto- sebelum menjelma menjadi seniman airbrush jempolan. Awalnya dia harus ‘’nyantrik’’ di bengkel airbrush milik temannya di Jakarta. Selama dua tahun Ghopex hanya boleh memegang ampelas. ‘’Baru tahun ketiga pegang alat airbrush,’’ kenangnya.

Dunia airbrush yang ditekuni Ghopex tidak terlepas dari bakatnya melukis yang mulai muncul sejak SMP. Bahkan, kala itu dia pernah menyabet juara I dan II kompetisi tingkat provinsi.

Karya Ghopex terdiri beragam aliran. Mulai realis, grafis, pop art, hingga animasi. Sedangkan untuk alatnya dia menggunakan produk impor seharga Rp 3,5 juta-Rp 5 juta. ”Airbrush itu sulit karena keluarnya cat. Ada patokan ukuran maupun tekanannya. Kalau tidak bisa atur tekanan tidak bakalan bisa,” sebutnya.

Selama ini Ghopex menggunakan berbagai media untuk melukis airbrush. Mulai motor, mobil, helm, hingga sangkar burung. Pun, durasi penggarapannya bervariasi. Pada media berukuran 25×38 sentimeter, misalnya, bisa selesai dalam tiga jam. ‘’Untuk helm dengan objek mirip helm Rossi (pembalap MotoGP Valentino Rossi, Red) tarifnya Rp 600 ribu-Rp 700 ribu,’’ ungkapnya sembari menyebut order datang hingga dari luar pulau seperti Balikpapan dan Manado, bahkan Malaysia.

Selama menjadi seniman airbrush, berbagai penghargaan sempat diraih warga Jalan Nggenen, Kelurahan Banjarejo, Taman, itu. Pada 2019, misalnya, karyanya meraih juara III kompetisi tingkat Jatim. ”Airbrush kan tiap tahun modelnya terus berkembang. Jadi, harus selalu update,” tuturnya. * (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button