features

Kepedulian Warga Tangkal Korona hingga Galang Dana Bencana

Wahyu Ngetem di Proliman, Catur Dibonceng Tetangga

Banyak cara meringankan beban sesama di masa korona. Kelompok masyarakat dan mahasiswa menggalang donasi untuk korban bencana alam. Di titik lain, warga berjibaku sterilisasi lingkungan dengan cairan disinfektan.

SRI MULYANI-RONAA NISA, Jawa Pos Radar Madiun

KARDUS di genggaman diedarkan ke setiap pengendara yang melintas proliman Diponegoro kemarin (24/1). Ada yang tanggap memberikan sumbangan. Ada yang hanya membalas dengan senyuman atau menangkupkan tangan. Sekali traffic light menyala merah, terkumpul puluhan ribu. ‘’Ini wujud kepedulian kami terhadap saudara yang tertimpa gempa di Majene-Mamuju, Sulbar, dan banjir di Kalsel,’’ kata Wahyu Ragil Saputra, seorang pegiat aksi.
Pria 32 tahun itu cukup terkesan dengan kepedulian masyarakat di masa pandemi ini. Siapa pun cukup terpanggil untuk meringankan beban sesama meski nun jauh di sana. Penggalangan dilakukan online maupun offline. ‘’Sampai kini sudah terkumpul Rp 1,8 juta dan langsung diserahkan kepada mereka yang membutuhkan,’’ ujarnya.
Di sudut lain, warga bersama-sama menyemprotkan disinfektan ke lingkungan. Salah satunya dilakukan Catur Kartiko. Warga difabel 47 tahun itu begitu semangat saat mengitari rumah-rumah di RT 12, RW 4, Rejomulyo, Kartoharjo. Dia dipercaya ketua RT setempat untuk mengurusi penyemprotan di lingkungannya. ‘’Kalau ada yang terkena korona, penyemprotannya seminggu tiga kali,’’ tuturnya.
Karena keterbatasan fisik, Catur mencari cara agar bisa menjalankan tugas yang diembannya. Biasanya dia membonceng sepeda motor. Kemudian melakukan penyemprotan saat duduk di jok belakang. ‘’Jika harus pakai semprotan gendong, saya akan meminta orang lain karena berat,’’ kata warga yang mengidap polio sejak balita itu.
Catur sadar tenaganya cukup dibutuhkan. Mengingat, di lingkungannya hampir semua warganya merupakan pensiunan. Dia pernah melakukan penyemprotan sebulan penuh lantaran tak ada penggantinya. ‘’Saya maklumi saja karena keadaannya memang begini,’’ ujarnya.
Catur tidak mengambil sepeser pun upah yang diberikan RT. Sebab, apa yang dijalaninya itu murni tugas sosial kemanusiaan. ‘’Kalau dikasih uang tetangga, saya kasihkan keponakan,’’ ungkapnya. * (fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button