Opini

Kepala Daerah Favorit (Belajar dari Para Lansia)

REFLEKSI HPN 2021

Oleh Satmiko Supraptono

Jurnalis Jawa Pos Radar Madiun

Pak Tua sudahlah

Engkau sudah terlihat lelah oh ya

Pak Tua sudahlah

Kami mampu untuk bekerja oh ya

GENERASI remaja era 1990-an tentu familier dengan refrain lagu Pak Tua ini. Salah satu tembang andalan album Tato milik Elpamas yang diluncurkan 1991. Penciptanya Pitat Haeng. Yang ternyata, nama lain Virgiawan Listanto alias Iwan Fals.

Konon, Iwan Fals sengaja menyamar agar lagu tersebut, juga grup rock asal Pandaan, Pasuruan, yang  membawakan, tidak dalam bayang-bayangnya. Sebuah tembang sarat kritik pada penguasa kala itu.  Bukan hanya sosok pemimpinnya yang memang sudah tua. Pun, pada rezimnya yang bercokol terlalu lama.

Saya tak hendak menggeneralisasi atau menjustifikasi. Bahwa kaum tua tidak berdaya. Sebaliknya, kalangan muda lebih berdaya. Banyak fakta membuktikan, pemimpin yang dianggap sudah sepuh lebih oke. Sebaliknya, enom-enoman malah memble.

Jika hari ini (9/2), bersamaan momentum Hari Pers Nasional (HPN) 2021, digelar pemilihan kepala daerah favorit se-Madiun Raya 2020 versi jurnalis, ini pilihan saya: Bupati Magetan Suprawoto (Kang Woto) di posisi ketiga. Kedua, Bupati Ngawi Budi Sulistyono (Kanang). Dan, favorit pertama saya adalah… Bupati Pacitan Indartato (Pak In).

Hanya kebetulan. Ketiganya berusia kepala enam 2020 lalu. Pak In, 66 tahun; Kanang, 60; dan Kang Woto, 64. Mereka layak dipanggil Pak Tua. Versi World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia, mereka termasuk kelompok lanjut usia (lansia).

Dari kacamata saya (insan pers), mereka sangat dewasa dan bijaksana. Bak buah matang di pohon. Bukan karbitan. Apalagi, hanya disemprot cairan etilena agar kulitnya menguning instan. Sedangkan daging buahnya mentah.

Mereka njawa. Paham betul makna pitutur luhur orang Jawa: Diuji ora susah, diujo ora bungah. Gusti paring pitedah liwat susah lan bungah. Makna bebasnya: Ketika menghadapi kesulitan tidak terlalu sedih, ketika mendapat kemudahan tidak terlalu gembira. Tuhan memberi petunjuk melalui kesedihan dan kegembiraan.

Makna lebih spesifik: Dikritik ora ngamuk (tidak emosi), disanjung ora umuk (tidak tinggi hati). Sebab, dalam kritik dan sanjung terkandung petunjuk untuk introspeksi dan evaluasi agar lebih baik lagi.

Para Pak Tua ini juga njawa fungsi kontrol pers. Pun, komitmen dan konsisten ketika mengklaim pers sebagai mitra. Bukan mitra ketika diujo (disanjung) saja. Diuji (dikritik) pun tetap bermitra. Tidak menganggap musuh. Apalagi mutung lalu nyatru. Mereka pun sangat sadar sebagai public figure yang acap jadi sorotan karena nilai ketokohannya.

Di sisi lain, para lansia ini juga berkarakter kuat. Karena terbangun sejak puluhan tahun. Saya menempatkan Pak In sebagai favorit pertama. Ya, karena saya mengenalnya sejak hampir seperempat abad silam. Ketika masih menjadi salah satu kepala dinas di Pemkab Pacitan.

Kesahajaan dan kerendahan hatinya nyaris tak pudar. Nyungkani. Memulai karir sebagai abdi negara dari sopir pribadi bupati. Ketika jadi bupati, lebih suka menggunakan mobil operasional sejuta umat (Toyota Avanza). Meski, kendaraan dinas lebih mewah tersedia.

Dan, yang paling membuat saya terkesan, Pak In adalah sosok paling gampang dan paling sering minta maaf. Kepada siapa pun. Atas kekurangannya sebagai bupati. Ibarat kata, didemo pun, Pak In tak sungkan minta maaf kepada pendemonya.

Favorit kedua saya Kanang. Saya juga mengenal dan mengamatinya sejak dua dekade silam. Tepatnya, sejak menjabat wakil bupati Ngawi periode pertama. Sosok yang unik. Santuy tapi tegas. Meski penampilannya ngenomi (layaknya anak muda), tapi suka dipanggil mbah kung (kakek).

Karakter mbah kung yang ngenomi itu mampu merangkul semua kalangan. Hingga kawan dan lawan pun segan. Itu dibuktikan selama dua periode menjadi orang pertama di Pemkab Ngawi. Hingga, saat macung periode kedua nyaris tanpa kompetitor.

Favorit ketiga Kang Woto. Sejujurnya, saya menempatkan di urutan pertama. Tapi, rasanya kurang objektif dan kurang fair. Menimbang, dibanding Pak In dan Kanang yang menjabat dua periode, Kang Woto baru separo periode.

Bagi saya, Kang Woto punya nilai plus. Sebagai mantan Sekjen Kemenkominfo, dia paling paham dunia pers. Elegan menyikapi kritik. Karakter ke-kakang-annya mengayomi semua. Tak terkecuali para pekerja pers yang dibuat nyaman menjalankan profesinya.

Pengetahuannya luas. Selaras dengan koleksi ribuan judul buku di perpustakaan pribadinya. Baca saja tulisannya saban pekan di koran ini. Sekelas mahaguru, namun tidak menggurui. Inspiratif dan mencerahkan. Ibarat membuat baju. Mulai dari merancang pola, memilih bahan, menggunting, hingga menjahit, dilakukan sendiri. Orisinal.

Saya ingat opininya tentang tugu lambang negara versus tugu lambang perguruan (edisi medio Agustus 2019). Ternyata, Kang Woto sosok pendekar nasionalis. Pun tulisan tentang istrinya yang terpapar Covid-19 (edisi awal Januari dan awal Februari  2021). Tak ada yang disembunyikan. Apalagi, tiba-tiba menghilang. Bukti, dia dan keluarganya sadar sebagai panutan yang rela mengesampingkan privasi.

Januari lalu, tiga daerah di eks Karesidenan Madiun telah menetapkan calon kepala daerah terpilih hasil Pilkada 2020. Semua masih muda. Praktis, 2021 ini, dari enam daerah di Madiun Raya, tersisa dua kepala daerah lansia. Selain Kang Woto (65 tahun), ada Wali Kota Madiun Maidi (menginjak 60 tahun).

Empat kepala daerah lain, tertua Bupati Ponorogo (Terpilih) Sugiri Sancoko, 50 tahun. Di bawahnya, jauh dari sebutan Pak Tua, Bupati Madiun Ahmad Dawami, 44. Kemudian  Bupati Pacitan (Terpilih) Indrata Nur Bayuaji, 43. Dan, termuda  Bupati Ngawi (Terpilih) Ony Anwar Harsono, 42.

Siapa favorit saya untuk HPN 2022 kelak? Ikuti saja kiprah mereka hingga setahun ke depan. Ini bukan soal prestasi. Karena saya yakin, semua kepala daerah berprestasi. Ini lebih tentang kepiawaian membangun komunikasi. Tunggu saja! (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button