Magetan

Kementerian ESDM Bangun Sumur Sibel di Tiga Desa

MAGETAN – Kesulitan warga Desa Kuwon, Karas mendapatkan air bersih pada saat musim kemarau sedikit teratasi. Setelah Badan Geologi Kementerian ESDM berencana membangun sumur sibel atau summersible di desa tersebut pada tahun ini. ‘’Titiknya sudah ditentukan,’’ kata Kabag Sumber Daya Alam (SDA) Setdakab Magetan, Yayuk Sri Rahayu.

Selama ini, krisis air bersih yang dialami oleh warga Desa Kuwon lebih disebabkan mengeringnya sumur milik mereka saat musim kemarau. Ketersediaan air tanah lebih dimanfaatkan warga untuk mengairi sawah. ‘’Setiap tahun, setiap kali musim kemarau selalu krisis air bersih,’’ ujarnya.

Dia berpendapat sumur sibel tidak akan sampai mempengaruhi ketersediaan air untuk mengairi lahan pertanian. Sebaliknya, air yang dapat disedot makin melimpah dari biasanya. ‘’Pengerjaannya dikerjakan oleh pihak ketiga, langsung dengan pemerintah pusat. Kami terima jadi berikut bak penampungannya,’’ terang Yayuk.

Untuk merealisasikan bantuan tersebut, pihaknya sudah meminta pemerintah desa (pemdes) setempat untuk menyediakan lahan sebagai tempat bangunan sumur sibel tersebut. Tetapi tentunya didahului dengan penelusuran ketersediaan sumber air di dalam tanah. Diharapkan, keberadaan sumur sibel itu nantinya juga bisa mengatasi masalah stunting. ‘’Karena daerah bawah kandungan kapur pada airnya sangat minim,’’ jelasnya.

Bantuan bangunan sumur sibel sebenarnya tidak hanya di Desa Kuwon saja. Tetapi, juga di dua desa lainnya. Tetapu, kementerian ESDM masih menunggu rekomendasi usulan dari DPUPR Magetan terkait penentuan lokasi bantuan.

Yayuk mengungkapkan sampai dengan saat ini ada empat pilihan lokasi yang potensi dibangun sumur sibel. Antara lain di Desa Nglopang, Sayutan, Pupus, dan Trosono. Semua desa itu merupakan zona kering keritis saat kemarau. ‘’Dua lokasi yang kami ajukan sebelumnya, tidak sesuai aturan teknis. Harus diganti,’’ ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris DPUPR Magetan Mochtar Wahid mengatakan, dari empat lokasi rawan kekeringan yang diajukan bagian SDA, semuanya menjadi skala prioritas penanganan kekeringan. Tetapi dua di antara empat desa itu yang akan mendapatkan bantuan pembangunan sumur sibel. Sementara, Desa Sayutan dan Trosono yang dikedepankan. Karena di dua desa tersebut tidak memiliki sumber air baku. ‘’Ini jadi masalah. Kalau dibangun disana, tapi sumbernya tidak ada bagaimana,’’ tanya balik Mochtar.

Selama ini warga Desa Trosono bergantung pemberian bantuan air bersih dari BPBD saat kekeringan. Mereka mengaku tidak ingin memanfaatkan air PDAM. Karena kelewat mahal untuk pemasangan jaringan baru dan biaya langganan airnya.

Sedangkan warga Desa Pupus, kata Mochtar, wilayahnya sangat luas. Sehingga, hanya di dusun tertentu saja yang dapat dibangun sumur sibel. Karena di beberapa dusun lainnya sudah mendapat program bantuan pamsimas. ‘’Yang jelas, rekomendasi sudah kami serahkan. Kami berharap bantuan itu segera terealisasi sebelum musim kemarau makin meluas,’’ pungkasnya. (bel/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button