Bupati Menulis

Keluarga Milenial

Oleh: Suprawoto (Bupati Magetan)

Harta yang paling berharga adalah keluarga

Istana yang paling indah adalah keluarga

Puisi yang paling bermakna adalah keluarga

Mutiara tiada tara adalah keluarga

            Selamat pagi Emak

            Selamat pagi Abah

            ………………….

DEMIKIAN bait lagu Keluarga Cemara yang pernah populer pada pertengan tahun 1990-an. Tepatnya mulai tayang perdana tahun 1996 di TVRI. Dan, kemudian ditayangkan ulang oleh TVRI baru-baru ini. Gambaran ideal sebuah keluarga yang bahagia. Keluarga yang dicita-citakan oleh siapa pun.

Tentu kita akan ingat siapa penulis skenario sinetron ini, Arswendo Atmowiloto. Seorang penulis yang sangat produktif dan begitu banyak karya-karyanya. Baik dalam bentuk buku maupun tulisan di berbagai media. Salah satunya sinetron “Keluarga Cemara.” Cerita sinetron ini sebelumnya merupakan cerita berseri di majalah HAI, di mana Arswendo bekerja sebagai redakturnya.

Arswendo adalah seorang sastrawan, jurnalis dan seniman yang sangat produktif. Tidak hanya dalam karya-karya berbahasa Indonesia, tetapi juga karya berbahasa Jawa. Ada statement Arswendo yang sangat membekas dan kemudian menjadi pelecut penggiat sastra Jawa. Salah satu statement itu adalah, bahwa “sastra Jawa telah mati.” Tentu statement Arswendo itu menjadi perbincangan penggiat sastra Jawa.

Karena yang berbicara tersebut adalah juga seorang penggiat sastra Jawa. Dan juga  seniman, jurnalis tentu ada alasannya. Sedang yang tidak setuju terhadap statement Arswendo di antaranya, (alm) Prof Dr Suripan Sadi Hutomo. Guru besar sastra Jawa IKIP Negeri Surabaya, yang sekarang menjadi Unesa. Dan juga penggiat sastra Jawa yang lain.

Namun, menurut hemat saya statement Arswendo tersebut menjadikan para penggiat sastra Jawa menjadi terlecut untuk terus berkarya. Arswendo telah berpulang beberapa hari yang lalu dengan meninggalkan banyak karya di antaranya “keluarga cemara” itu. Yang kemudian menjadi model sebuah gambaran keluarga bahagia yang diimpikan.

Yang awalnya sebuah cerita dan kemudian dibuat sinetron berseri, menjadi sangat fenomenal di hati para pemirsa. Ide cerita, dimulai dari sebuah keluarga yang kaya kemudian karena tertipu akhirnya menjadi miskin. Karena merasa sudah tidak mempunyai apa-apa lagi kembalilah ke desa. Di desa, masih ada rumah warisan yang bisa ditempati keluarga tersebut.

Cerita menjadi sangat indah ketika sinetron itu menggambarkan suasana desa dan kota kecil yang damai serta indah. Namun, dalam kehidupan tidaklah demikian. Karena hakekat hidup, dan tentu keluarga impian adalah bagaimana cara indah dalam menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi. Bagaimana guru mengajari hal yang baik seperti kalau bapaknya pulang kerja anak harus membukakan sepatu bapaknya. Sedang bapaknya tukang becak tentu tidak pakai sepatu. Namun, adegan itu divisualisasikan dengan gambar dan narasi yang indah.

Demikian juga ketika bapak dan ibunya bersitegang untuk sebuah persoalan, dan anaknya mendengar, kemudian anaknya mengingatkan dengan penyelesaian yang begitu menyentuh dan sangat indahnya. Dan dalam “keluarga cemara” ada sebuah pesan, bahwa kebahagian itu bukan monopoli pejabat, orang berpunya. Keluarga tukang becakpun bisa hidup bahagia. Tergantung kepada makna yang dihayati setiap keluarga yang dibangun.

Karena begitu panjang episode sinetron ini salah satu pemeran utama sempat berganti. Adi Kurdi berperan sebagai Abah. Kemudian sebagai Ema adalah Lia Waroka kemudian berganti Novia Kolopaking sebagai Ema. Untuk anak-anaknya Cherrya Agustina Hendiawan sebagai Euis, Anisa Fujianti sebagai Cemara atau Ara dan  Puji Lestari sebagai Agil. Tentu juga pemeran yang lain. Ketika sinetron “keluarga cemara” ini tayang anak-anak saya yang pertama masih sekolah SD, adiknya masih TK. Sehingga, kemudian menjadi salah satu totonan favorit di keluarga saya.

Demikian juga, ketika anak saya pertama masih balita, ada serial TV yang tayang di TVRI sekitar tahun 1980-an yaitu Little House on the Prairie. Saya sendiri sangat suka melihat serial TV ini. Setiap episode hampir tidak pernah melewatkannya.

Serial ini merupakan novel semi autobiografi karya Wilder. Sedang Wilder sendiri lahir pada tahun 1867. Sedang novelnya diterbitkan antara tahun 1932 dan 1943. Novel ini juga di adaptasi kemudian serial televisi pada tahun 1974 tersebut dan kemudian tayang di TVRI. Malahan baru-baru ini ditayangkan ulang.

Tentu di Amerika Serikat serial TV ini juga termasuk serial yang sangat legendaris. Jalan cerita Little House On The Prairie berkisah tentang keluarga petani di perdesaan. Sang ayah dipernakan oleh Michael Landon. Sedang sang istri diperankan oleh Karen Grassel, dan Mellisa Gilbert sebagai Laura, putri petani. Serial ini dalam setiap episodenya selalu menyajikan kisah yang juga sangat menginspirasi dari kehidupan sebuah keluarga petani yang sederhana. Setiap penayangannya, serial ini selalu menyajikan alur cerita yang sederhana. Setiap persoalan diselesaikan dengan indah. Juga sangat menyentuh. Suasana hangatnya keluarga juga sangat dalam terasa dalam serial ini.

Sosok ayah yang diperankan oleh Michael Landon yang membesarkan anak-anak bersama istrinya. Tokoh Laura sebagai anak menambah kesan hangat dalam serial ini. Dalam serial ini terkandung, Walaupun berasal dari keluarga sederhana seperti petani, namun tetap mempunyai hak hidup bahagia dan saling menyayangi satu sama lain. Keluarga kecil dalam Little House On The Prairie juga dikisahkan sangat religius. Bagaimana keaktifan dalam beribadat di gereja.

Saya menduga, cerita bersambung yang kemudian dibuat serial TV dan kemudian dibuat film sesuai judul aslinya “keluarga cemara,” pengarang sedikit banyak men dapat inspirasi dari tayangan Little House On The Prairie ini. Hanya kemudian oleh Arswendo diadaptasikan dengan kondisi dan suasana di Indonesia. Dengan suasana sama-sama di sedikit perdesaan dengan konteks agak berbeda.

Hari Jumat kemarin kebetulan saya mengikuti gerak jalan dalam rangka Hari Keluarga Nasional 2019 Kabupaten magetan dengan mengambil tema, “Hari Keluarga Hari Kita Semua.” Dan slogan yang tak kalah menariknya, “Cinta Keluarga Cinta Terencana.” Malahan dalam upacara formal kita bersama menyanyikan lagu Keluarga Cemara. Mengapa kita perlu menyanyikan lagu tersebut? Tentu kita semua sepakat, betapa pentingnya keluarga. Kita semua mendapat pendidikan yang pertama dari keluarga. Bagaimana kemudian digambarkan anak mendapat pedidikan dari kedua keluarga dalam serial TV tersebut di atas. Bagaimana kehangatkan keluarga yang kemudian membentuk pribadi anak-anaknya.

Yang menjadi pertanyaan kemudian, dari mana anak-anak milenial sekarang memperoleh gambaran keluarga ideal. Sedang membaca buku saja kok belum rasanya. Karena Indonesia di dalam kategori belum masuk jajaran sepuluh atau dua puluh negera terdepan dalam literasi. Malahan masih di atas lima puluh ke atas. Namun penetrasi internet dan penggunaan  medsos luar biasa kenaikannya. Demikian juga saat ini belum ada tayangan serial TV semacam “keluarga cemara” versi milenial yang kemudian menjadi perbincangan hangat di media sosial. Mungkin karena ketiadaan serial TV semacam itulah, kemudian serial Little House On The Prairie dan Keluarga Cemara ditayangkan ulang oleh TVRI.

Kalau kita tilik, nilai-nilai keluarga bahagia menjadi universal, bila kita belajar dan melihat alur cerita kedua serial TV tersebut. Baik Little House On The Prairie dan Keluarga Cemara. Bagaimana sebuah keluarga yang demikian harmonis, dan menyelesaikan setiap masalah dengan sangat indahnya. Bukan saya khawatir, terhadap masa depan generasi milenial terhadap pandangannya dalam membentuk keluarga bahagia. Bukankah setiap generasi membawa semangat jamannya sendiri-sendiri. Termasuk pandangan terhadap keluarga. Hanya kemudian, sekarang dengan maraknya budaya instan, jangan-jangan semua jadi instan. Juga pandangan terhadap keluarga. Kemudian kok saya jadi ingat kalimat dari pabrik kata-kata Joger di Bali. Tiga frasa yang membuat kita mungkin tertawa, “muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga!” Wallahu A’lam Bishawab. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close