Madiun

Kegigihan Garda Depan RSUD dr Soedono Tangani Covid-19

DISIPLIN KERJA TINGGI, HABISKAN 100 APD SEHARI

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Tim medis di mana pun saat ini menjadi pahlawan di garis depan dalam penanganan Covid-19. Termasuk tim khusus penanganan Covid-19 RSUD dr Soedono. Rumah sakit milik provinsi itu merupakan rujukan utama pasien Covid-19 di Madiun Raya.

Untuk keempat kalinya, dr Bambang Subarno SpP kembali dipercaya menjadi ketua tim khusus penanganan penyakit serius. Rasa waswas tetap melintas. Dokter spesialis paru itu merasakannya sejak pasien positif Covid-19 yang dirawat di RSUD dr Soedono kian bertambah. Pun, pasien yang diisolasi dari Madiun Raya sudah mencapai puluhan.

Dia selalu mewanti-wanti agar seluruh tim selalu disiplin dalam setiap menjalankan protokol penanganan. Tim khusus yang digawanginya terdiri lima dokter: spesialis jantung, umum, dua dokter spesialis anak, dan dirinya sebagai dokter spesialis paru. Total perawat yang tergabung dalam tim medis itu 40 orang. ‘’Harus patuh. Tim medis mengenakan APD (alat pelindung diri, Red) dobel atau berlapis,’’ kata Bambang di sela konferensi pers Kamis lalu (26/3).

Selama bertugas dalam tim khusus, tenaga medis ini dibebaskan dari tugas harian untuk melayani pasien lain. Guna meminimalkan penularan terhadap pasien lain. ‘’Siapa tahu saya terinfeksi, tidak ada yang tahu. Maka seluruh tim harus disiplin,’’ tegasnya.

Saat menerima gelombang rujukan pasien dari Madiun Raya empat hari awal Maret lalu, Bambang tak bisa tidur nyenyak. Tiap malam dia memantau WhatsApp untuk memonitor hasil evaluasi klinis yang dilakukan perawat. Dia selalu kepikiran setiap petugas berhadapan langsung dengan pasien. ‘’Saya tidak bosan selalu mengingatkan cara memakai APD yang betul, serta prosedur memasuki ruang isolasi,’’ ujarnya.

Bahkan, sejak itu Bambang mendisiplinkan dirinya sendiri. Setiap di rumah, dia melarang kedua anaknya masuk kamarnya. Padahal, sebelumnya dia terbiasa menghabiskan waktu bersama keluarga di kamar. Bambang sadar bila setiap harinya kini dia harus berhadapan langsung dengan pasien terjangkit. Dia ingin keluarganya baik-baik saja. ‘’Anak tidak boleh masuk kamar saya,’’ ucapnya.

Pengorbanan mengurangi waktu interaksi dengan keluarga itu wajib dia lakukan. Demi melindungi keluarganya sendiri. Karena tugas mulia tim garda terdepan ini taruhannya nyawa. ‘’Prinsip mengurangi kontak, ini tugas yang harus kami laksanakan,’’ tuturnya.

Tim medis harus masuk ke ruang isolasi. Tiga kali dalam sehari. Yakni, pada pukul 08.00, 14.00, dan 20.00. Jadwal itu belum termasuk ketika tim medis dipanggil pasien melalui tombol emergency yang ada di dekat tempat tidur. Dalam tiap waktu kontrol, tim medis juga harus berganti APD dari pasien satu ke pasien lainnya. ‘’Masuk melalui ruang antara, gunakan APD berlapis dan harus benar caranya memakai. Masuk ke ruang isolasi, lalu keluar ke ruang antara satunya, lepas APD, petugas masuk kamar mandi, lalu mandi keramas,’’ paparnya.

Seluruh prosedur itu harus dipatuhi oleh tim medis yang hendak masuk ke ruang isolasi. Mereka pun tidak diperkenankan berinteraksi terlalu lama dengan pasien. Bambang membeberkan bahwa pasien yang diisolasi sebenarnya tampak sehat. Mereka dapat makan dan minum sendiri tanpa perlu dibantu petugas. Peralatan untuk konsumsi pasien itu sekali pakai. Pasien juga diperbolehkan melakukan aktivitas kecil yang tidak berisiko. ‘’Bukan kok terus apa-apa harus dilayani. Kecuali pasien lansia dan anak,’’ katanya.

Terkait stok APD, RSUD dr Soedono menghabiskan 100 alat dalam sehari. Stok yang dimiliki rumah sakit provinsi itu diperkirakan hanya cukup untuk satu bulan mendatang. APD menjadi senjata tim garda terdepan untuk menjalankan misi kemanusiaan yang diemban. ‘’Antara pasien terkonfirmasi positif dan PDP yang masih menunggu hasil spesimen laboratorium itu dipisahkan,’’ terangnya.

Sudah semestinya paramedis ini pantas mendapatkan dukungan dan motivasi dari semua kalangan. Hal terkecil yang dapat dilakukan masyarakat adalah dengan mematuhi kebijakan pemerintah. Membatasi dan menjaga jarak sosial dan tetap produktif meski semuanya dikerjakan dari rumah. ‘’Dengan tidak keluar rumah, paling tidak itu membantu meringankan beban tim dokter yang sedang bekerja menghadapi Covid-19 ini,’’ imbuh Direktur RSUD dr Soedono dr Bangun Tripsila Purwaka. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close