Ngawi

Kedapatan Turun di Overpass Ngale, Puluhan Pemudik Diamankan

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Modus armada bus menurunkan penumpang di jalan tol untuk menghindari check point masih saja terjadi. Rabu pagi (6/5) Satgas Pencegahan Covid-19 Desa Ngale, Paron, mendapati puluhan pemudik dari Tangerang, Jawa Barat, turun di bawah overpass desa setempat. ‘’Ini sudah keempat kalinya,’’ kata Kepala Desa Ngale Yan Teguh Wibowo.

Teguh menyayangkan sikap oknum pemilik armada yang menurunkan pemudik di jalan tol. Pun, dia meminta pemerintah mengambil tindakan tegas. ‘’Karena turun di wilayah desa kami, kami sendiri yang repot. Padahal, sebenarnya kami tidak berwenang menangani pemudik,’’ ujarnya.

Selama ini, pemudik yang kedapatan turun di overpass Ngale ditahan untuk diperiksa kesehatannya sebelum diperbolehkan pulang. Namun, peralatan yang digunakan sangat tidak memadai. ‘’Kami hanya punya pengukur suhu dan masker, tidak punya APD (alat pelindung diri, Red) dan lainnya,’’ tutur Teguh.

Dia khawatir sejumlah pemudik terpapar virus korona hingga berisiko bagi petugas satgas desanya. Karena itu, dia berharap pemerintah ikut cawe-cawe. ‘’Tolong jangan benturkan kami dengan pemudik. Kami ini hanya satgas yang tidak digaji. Hargai kami, jangan ada penurunan penumpang di overpass lagi,’’ pintanya.

Sekitar pukul 07.00 kemarin pihaknya berhasil mengamankan 21 pemudik yang turun di overpass Ngale. Hasil pendataan, mereka berasal dari berbagai wilayah Ngawi. Di antaranya, Desa Jeblokan dan Tempuran (Paron) serta Ngrayudan (Jogorogo).

Usai dilakukan pendataan, mereka diminta mandi serta mengganti pakaian dan maskernya. Setelah itu, dicek suhu tubuhnya oleh satgas desa dan petugas puskesmas. Petugas juga meminta nomor telepon masing-masing untuk memudahkan pemantauan.

Di sisi lain, Pemdes Ngale langsung melaporkan kejadian itu ke kecamatan, puskesmas, dan polsek setempat. ‘’Kami berharap segera ada upaya agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan,’’ ujarnya.

Warsini, salah seorang pemudik, mengaku membayar Rp 520 ribu untuk perjalanan Tangerang-Ngawi menggunakan bus berinisial STJ. ‘’Waktu itu saya tertidur, tiba-tiba dibangunkan, diminta turun,’’ ujarnya. ‘’Seharusnya turunnya di terminal,’’ imbuhnya.

Setelah turun dari bus, Warsini bersama penumpang lain lantas melangkah melewati pembatas tengah jalan tol untuk menyeberang. Lalu, memanjat dinding ’’bokong Semar’’ untuk keluar dari area tol. ‘’Keluarnya naik dinding, lalu melompat pagar,’’ ungkapnya.

Ditanya soal larangan mudik, warga Desa Jeblokan, Paron, tersebut mengaku mengetahui. Namun, perempuan yang sehari-harinya berjualan itu tidak punya pilihan lain lantaran usahanya sementara tutup sehingga tak ada pemasukan. ‘’Kalau tidak ada penghasilan, terus mau makan apa? Makanya saya memilih pulang,’’ ucap Warsini. (tif/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close