Madiun

Kecapi Batara Menelusuri Jejak Etnis Tionghoa (2)

Antara Hollandsch Chineesche School dan Opera Hwie Ing Kiong

Bangunan SMPN 6 Kota Madiun di Jalan Cokroaminoto didirikan sejak 1930-an. Sejak era kolonial Belanda, bangunannya berfungsi untuk pendidikan. Berfungsi sebagai Hollandsch-Chineesche School (HCS). Tempat mengenyam pendidikan dengan bahasa Belanda khusus peranakan Tionghoa.

==============================

NUR WACHID, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

PELUH tidak menetes di kening siswa SMPN 6 Kota Madiun. Saat berdiskusi secara berkelompok dari halaman depan, hingga lorong dan aula. Suasana tetap terasa sejuk, meski di luar sinar matahari menyengat begitu panasnya. Kegiatan pramuka siang itu terlindungi arsitektur kuno berupa kayu berdiameter sepuluhan sentimeter. Tiap tiang terdiri dari dua kayu, hampir di tiap sisi bangunannya. Hingga kini, plafon ruangan itu belum pernah diganti.

Dari aula, terdapat jalan keluar. Ke kanan menuju lorong yang menghubungkan ke kelas yang membujur ke barat. Uniknya, ada sebuah pintu setinggi 0,5 meter di belakang aula. Kemudian ada anak tangga menuju ruang bawah. ‘’Itu sekarang untuk gudang,’’ kata Bramantara, pelestari sejarah dari Balai Konservasi Borobudur di hari kedua lokakarya bangunan lama Tionghoa bersama Kelompok Pencinta dan Pemerhati Budaya Nusantara (Kecapi Batara), Jumat (15/11).

Keberadaan ruangan lorong seperti bawah tanah di belakang aula itu mengundang banyak tanya. Sayangnya, tidak ada yang bisa masuk lantaran penuh dengan barang-barang tak berguna. Sekilas terlihat anak tangga menuju ruangan itu. Historia van Madioen (HvM) pernah mendapat informasi jika bangunan itu pernah dijadikan gedung opera Klenteng Hwie Ing Kiong. Jika dilihat dari tata letak, letak klenteng memang berada di seberang jalan persis di depan bangunan SMPN 6 Kota Madiun. ‘’Kami pernah dapat informasi, tapi secara pasti belum ada sumber yang bisa menguatkan hal itu,’’ kata Andrik Suprianto, perwakilan Historia van Madioen (HVM) yang juga turut dalam identifikasi.

Selain, didukung dengan keberadaan ruang lorong bawah tanah di belakang aula. Bisa jadi, ruang itu dijadikan pintu keluar oleh para pemain pertunjukan di aula. Kendati demikian, jika dilihat dari arsitektur bangunan berupa lorong dan kelas-kelas yang hingga kini masih asli sangat dimungkinkan bangunan itu digunakan untuk sekolah. Diperkirakan bangunan itu didirikan pemerintah kolonial Belanda 1930-an silam. Digunakan untuk Hollandsch-Chineesche School (HCS). ‘’Catatan sejarah menujukan bahwa sekolah ini didirikan untuk HCS,’’ lanjutnya.

HCS merupakan sekolah berbahasa Belanda yang dikhususkan untuk anak-anak keturunan etnis Tionghoa. Kedudukan HCS sejajar dengan sekolah Belanda atau Eropa lainnya. Seperti Hollandsch-Inlandsche School (HIS), Europeesche Lagere School (ELS), atau Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Hanya keturunan keluarga dari strata sosial terpandang yang dapat masuk ke sekolah itu. Sementara pribumi atau rakyat biasa masuk ke Sekolah Rakyat (SR). ‘’Letaknya berhadapan dengan tempat ibadat di sekitar perkampungan Tionghoa,’’ ungkapnya.

Bangunan itu memiliki letak strategis. Di depannya terdapat tempat peribadatan. Sementara di belakangnya merupakan deretean rumah yang dihuni etnis Tionghoa. Menurut Andrik, bangunan itu terkait erat dengan bangunan klenteng di depannya. Dia menambahkan, di kota setempat terdapat dua HCS. Satunya berumur lebih tua yang saat ini digunakan untuk SMPN 2 Kota Madiun. Sayang, bangunan itu kini tidak berbekas. Digantikan gedung yang baru. ‘’Meskipun secara fungsi tetap digunakan untuk pendidikan,’’ ucapnya. *** (fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button