Ponorogo

Kasus Investasi Bodong, Polisi Telusuri Keberadaan GS

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Polisi terus menelusuri aliran dana investasi bodong CV TMJ. Satu nama baru mengemuka, diduga ikut menggunakan dana dari para korban yang teperdaya kedok peternakan sapi perah itu. Statusnya masih ditetapkan sebagai saksi dalam perkara ini. ‘’Satu saksi inisial FO sudah kami mintai keterangan,’’ kata Kasatreskrim Polres Ponorogo AKP Maryoko Rabu (26/2).

FO, tegas Maryoko, bukanlah karyawan CV TMJ. Dalam pusaran investasi bodong ini, perempuan muda itu diduga berhubungan dekat dengan GS yang saat ini diburu polisi. GS diketahui adalah otak yang mendesain investasi bodong tersebut. Kedekatan antara GS dan FO juga diungkapkan para saksi lain yang telah diperiksa. Termasuk HS dan AS, dua pentolan CV TMJ yang sudah ditetapkan tersangka. Belakangan, setelah diperiksa FO mengakui hubungannya dengan GS. ‘’Berdasar keterangan yang bersangkutan, FO ini adalah istri siri GS atau GK,’’ ujarnya.

Kuat diduga, FO terlibat dalam tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang saat ini juga tengah diusut polisi. Maryoko belum membuka gamblang peranan FO. Dia hanya menyebut, keterlibatannya masih didalami. ‘’Apakah juga menggunakan uang investasi, ini masih terus kami lakukan pendalaman,’’ sebut kasatreskrim.

Di luar penyelidikan terhadap FO, polisi terus menambah keterangan dari para saksi. Di antaranya, dua karyawan CV TMJ juga telah diperiksa. Maryoko menyebut, keduanya berencana membuka brankas perusahaan yang sebelumnya telah diamankan dari rumah HS di Pulung. Maryoko berharap, GS segera menyerahkan diri. ‘’Kami terus kejar. Mudah-mudahan bisa segera tertangkap atau GS menyerahkan diri,’’ harap dia.

Informasi yang diterima dari pihak pengembang Green Palace, satu rumah yang sebelumnya dipasangi garis polisi di perumahan itu berstatus milik FO. Kepala Kantor Pengembang Green Palace Anis Wijayanti menyebut, dua kavling rumah yang digaris polisi itu sebelumnya dibeli oleh GS. Namun, bulan ini rumah tersebut beralih tangan ke FO seharga Rp 750 juta. GS sebelumnya membeli dua kavling rumah itu sekitar Rp 1 miliar. ‘’Dijual ke FO dari GS, baru di pertengahan Februari ini,’’ ujarnya. (naz/c1/fin)

Kemitraan Peternak-CV TMJ Tak Boleh Ditanyakan

RATUSAN kilometer ditempuh para korban untuk mencari keadilan. Tak sedikit di antara mereka yang mengalami kerugian hingga miliaran rupiah. Pengakuan mereka, CV TMJ manis di awal namun pahit di akhir. Besar harapan mereka polisi dapat mengusut tuntas perkara ini. ‘’Sudah sejak dua bulan lebih kami di Ponorogo,’’ kata Masriful, korban dari Palembang, Rabu (26/2).

DARI LUAR JAWA: Korban menunjukkan kuitansi terkait investasi CV TMJ di rumah singgah Munggung, Pulung.

Jauh-jauh dari Sumatera Selatan, Masriful datang bersama empat orang. Menurut dia, sejak dua bulan lalu aroma tak sedap memang sudah terendus. Awalnya adalah surat edaran dari CV TMJ kepada sebagian korban. Surat itu menyebar cepat hingga Palembang. Isi surat menyebut perusahaan itu tengah mengalami gangguan sistem. Sehingga pembayaran tersendat. ‘’Padahal, tiga tahun sebelumnya tidak ada kendala sama sekali. Baik programnya, manajemennya, maupun profit yang diterima para mitra,’’ terangnya.

Masriful mengaku telah menyetorkan investasi senilai Rp 200 juta. Belum termasuk setoran dari anggota keluarganya. Dia mengklaim, dari keluarganya total telah keluar uang nyaris Rp 1 miliar. Data yang dikantonginya, total ada 1.900 mitra CV TMJ di Palembang. Dia mengklaim nominal investasi keseluruhan mitra tembus Rp 54 miliar. ‘’Karena dulu, profit lancar. Rp 2,3 juta selalu diterima per bulan. Itu yang membuat masyarakat awam tertarik. Bahkan sebagian ada yang sampai berani pinjam modal dari bank,’’ ungkap Masriful.

Untuk meyakinkan para korban, CV TMJ sering mengajak mitra mengunjungi peternakan sapi perah di Ponorogo. Para mitra dibebaskan bertanya apa saja kepada pengurus peternakan dan pengolahan susu sapi. Kecuali satu hal, tidak boleh menanyakan program kemitraan peternak dengan CV TMJ. ‘’Apa pun boleh ditanyakan, kecuali itu. Alasannya, karena ada MoU antara perusahaan dengan pihak peternakan,’’ ujar dia.

Ruslan, korban lain asal Pekanbaru, Riau, berharap CV TMJ dapat mengembalikan dana yang telah diberikan mitra. Pihaknya juga sudah satu bulan ini tinggal di Ponorogo untuk menuntut keadilan. ‘’Kami para mitra CV TMJ dari Riau sama-sama punya hak. Ini yang akan kami perjuangkan. Kami berharap, polisi dan jajarannya mengungkap secara gamblang kasus ini,’’ ucapnya. (naz/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close