Magetan

Karantina Lokal, Sarangan Normal

Lima Warga Positif Tak Pengaruhi Aktivitas Wisata

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Kasus konfirmasi Covid-19 lima warga di Kelurahan Sarangan, Plaosan, tidak membuat Pemkab Magetan keder. Aktivitas wisata Telaga Sarangan berjalan normal.

Pengunjung bebas keluar masuk seolah tidak terjadi apa-apa. Banyak pedagang menjajakan barang dagangan. Hotel tempat pasien nomor 122 bekerja, juga telah beroperasi. ‘’Kami hanya melakukan karantina lokal. Jadi, tidak perlu menutup kawasan wisata,’’ kata Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Magetan Saif Muchlissun Senin (20/7).

Muchlis, sapaan Saif Muchlissun, beralasan sterilisasi kawasan wisata telah dilakukan. Hotel juga sudah disemprot cairan disinfektan. ‘’Pengunjung tidak perlu khawatir jika ingin menginap di hotel,’’ ujarnya.

Lima warga yang tertular dari pasien ke-122 itu satu keluarga. Termasuk orang tanpa gejala (OTG). GTPP telah mengecek rumah. Kondisinya layak sebagai tempat isolasi mandiri. ‘’Kebetulan rumahnya jauh dari lokasi wisata,’’ ungkap Muchlis.

GTPP tengah menelusuri kontak erat lima pasien. Selanjutnya ditindaklanjuti swab test. ‘’Mata rantai penyebaran harus diputus agar tidak semakin meluas,’’ ujarnya. (bel/c1/cor)

Sudah Sembuh, Belum Bisa Bekerja

FRY harus bersabar setidaknya hingga pekan depan untuk bisa kembali bekerja. Pejabat Satpol PP dan Damkar Magetan itu perlu menjalani isolasi mandiri 3–10 hari. Setelah dinyatakan sembuh dari Covid-19 Minggu (19/7). ‘’Masih membatasi interaksi supaya tidak tertular lagi,” katanya Senin (20/7).

Menurut FRY, orang tanpa gejala (OTG) lebih efektif isolasi di rumah ketimbang fasilitas kesehatan. Asalkan paham dan disiplin melaksanakan protokol kesehatan. Sayangnya, ada sebagian warga yang tidak bisa menerima langkah tersebut. Dalam kasus yang menimpanya, terjadi di lingkungan lain. ‘’Kalau di RT saya kondusif,’’ ujarnya.

Di luar efektivitas, kata dia, pemkab dan pemerintah desa (pemdes) harus mencukupi seluruh kebutuhan pasien. Dari sisi penganggaran, biayanya lebih murah ketimbang dirawat di fasilitas kesehatan. ‘’Pemkab bisa lebih irit,’’ ucapnya.

FRY mengaku tidak bisa membayangkan bila dulu menolak di-swab test. Karena merasa tidak punya gejala tertular virus korona. ‘’Semua yang berinteraksi dengan masyarakat, apalagi pasien, sudah seharusnya memiliki kesadaran untuk dites,” tegasnya. (bel/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close