Madiun

Kampung Tematik Asyik

Penulis adalah Wali Kota Madiun Drs. H. Maidi, SH, MM, MPd

KOTA ini sedang berbenah. Banyak titik yang tengah dibangun. Hal itu sering saya katakan. Tetapi yang ini beda. Karena bukan dari pemerintah. Tapi, masyarakatlah yang memulai. Masyarakat secara swadaya ikut memperbaiki lingkungan masing-masing agar semakin cantik dan menarik. Jumat kemarin, saya diundang ke lokasi itu. Masyarakat setempat menamakannya Kampung Pesona. Lokasinya di Kelurahan Madiun Lor.

Kampung ini mungkin belum begitu familier. Lokasinya juga agak masuk. Lewat jalan kecil sebelum Jembatan Winongo kalau dari timur. Beloknya ke kiri. Sekilas seperti memasuki pekarangan orang. Mungkin karena itu, belum banyak yang tahu. Belum banyak yang kesana. Tetapi ibarat kata bijak, emas tidak berada di tambang yang dangkal. Butuh usaha ekstra untuk mendapatkannya. Tetapi hasilnya tidak mengecewakan. Seperti Kampung Pesona tadi.

Sebenarnya, saya sudah dua kali ke sana. Pertama usai lebaran tahun lalu. Acaranya, juga halal bi halal. Yang mengundang komunitas bonsai Kota Madiun. Dulu belum disebut Kampung Pesona. Tapi sudah cukup bagus untuk ukuran taman. Sudah ada pernak-perniknya. Ada patung hewannya. Ada ayunanya juga. Warga juga mengkonsep Poskamling di sana seperti panggung pementasan. Bisa untuk panggung acara seremonial. Tempat tamu menyampaikan sambutan. Yang membuat taman ini semakin menarik karena berada di pinggiran Bengawan Madiun. Jadi tamannya, tidak di lokasi datar. Tetapi di kemiringan. Yang ingin melihat sungai, juga ada semacam gardu pandang dari bambu. Jadi semakin lengkap.

Jujur, taman di RT 15, RW 4 itu sudah banyak perubahan kini. Jumat kemarin saya memang diundang ke sana untuk mengikuti acara senam bersama warga. Saya tak tahan untuk berkeliling setiba di sana. Tapi karena judulnya senam, ya tentu olahraga dulu. Taman yang kini jadi Kampung Pesona itu memang yahut. Pernak-perniknya semakin banyak dibanding kunjungan saya sebelumnya. Mulai dari tugu kincir angin, rumah pohon, jembatan cinta, hingga permainan anak juga ditambah.

Unsur alaminya juga ditambah. Dulu, saya ingat betul masih banyak rumput liarnya. Maklum, kawasan pinggir sungai. Saat ini, sudah banyak bunga warna-warninya. Mungkin karena ingin melaksanakan instruksi saya. Yang kota sejuta bunga itu. Warna warni memang menambah daya tarik mata. Makanya, saya ingin kota ini berwarna-warni. Tidak hanya dari bunga. Tapi juga cat pada bangunannya. Target saya, kota kita ini jadi kota warna-warni dunia dalam dua tiga tahun ke depan.

Yang membuat Kampung Pesona ini makin menarik karena memanfaatkan barang bekas. Sejak dua tahun lalu, warga sepakat memanfaatkan lahan kosong untuk jadi ruang terbuka hijau. Namanya, juga swadaya. Bahan yang digunakan juga seadanya. Tidak ada rotan akar pun jadi. Tidak ada besi, pipa bekas tiang sound system pun jadi penyangga wahana prosotan. Warga juga mengelasnya secara mandiri. Rumah pohon pun berbahan meja bekas tenis meja. Pokoknya, sehemat mungkin. Seefektif mungkin.

Seperti ini memang seharusnya. Pembangunan butuh peran bersama. Hanya mengandalkan pemerintah tentu tidak akan optimal. Tetapi bukan berarti pemerintah lepas tangan. Rencana mewujudkan kampung-kampung tematik itu sudah ada dalam program kerja mulai tahun ini. Ada anggaran Rp 250 juta untuk pengembangan kampung tematik ini. Termasuk Kampung Pesona. Ini sebagai wujud apresiasi pemerintah. Penggunaan anggaran diserahkan masyarakat sebagai pengelola. Prinsip, harus digunakan untuk pengembangan.

Anggaran juga sebagai stimulus bagi yang lain. Saya berharap muncul Kampung Tematik lain. Masyarakat biar berlomba mengoptimalkan potensi kelurahan masing-masing. Semangat itu sudah mulai bermunculan. Seperti di Kelurahan Klegen. Tepatnya, di aliran Kali Maling. Warga di sana memanfaatkan tepi kali untuk Kawasan Rumah Pangan Lestari. Ada bermacam tanaman sayuran. Jumat kemarin saya juga ke sana. Setelah senam di Madiun Lor itu. Kita kerja bakti di sana. Bersama anggota TNI dan Polri juga.

Tanaman sayuran di sana juga mulai berbuah. Kawasan itu cocok dibuat kampung tematik produktif. Karena ada hal yang menghasilkan. Saya berangan kalau ada pasar krempeng tiap dua minggu sekali. Memasarkan hasil tanaman warga tadi. Memanfaatkan pinggir sungai tadi. Sungai memang dibersihkan agar bisa dijadikan wisata. Pasti akan ramai nanti.

Kampung-kampung ini akan dilombakan ke depan. Lagi-lagi, sebagai stimulus. Biar yang lain juga menggali potensi masing-masing. Pemenangnya tidak mendapatkan uang. Saya ingin warga berdaya. Warga terpilih akan dipekerjakan pemerintah. Tugasnya, menjaga kampung tematik di lingkungannya tadi. Biar keindahannya tetap terjaga. Biar jadi Kampung Tematik asyik.

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close