Madiun

Kampung Ledhek Kethek Kertosari Tinggal Nama

Tradisi Berhenti di Generasi Ketiga

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Priyo mulai jarang berujar “Cempluk pergi ke pasar” di hadapan banyak anak. Menghibur penonton cilik lewat tabuhan kendang yang mengiringi gerak-gerik kera peliharaannya membawa keranjang dan payung. Pentas ledhek kethek alias topeng monyet tersebut tidak lagi menjadi mata pencarian tetap pasca keluarnya larangan dari pemerintah.

Surat Edaran (SE) Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur Nomor 04/K2/Bidtek.2/KSA/5/2018 tentang Pelarangan Kegiatan Topeng Monyet dan SE Gubernur Jawa Timur 522/368/022.3/2019 tentang Pelarangan Pertunjukan Topeng Monyet di Jawa Timur. ‘’Sebelum dilarang bisa setiap hari keliling. Kalau sekarang sebulan empat kali di daerah yang belum ketat menerapkan larangan,’’ kata Priyo ditemui di rumahnya Desa Kertosari, Geger, Kabupaten Madiun, pekan lalu.

Di kabupaten ini, Kertosari dikenal sebagai Kampung Ledhek Kethek. Julukan itu berkaca banyaknya warga yang menjadi seniman pertunjukan tersebut. Jumlahnya diperkirakan lebih dari 50 orang. Diwariskan lintas generasi. Kesenian itu kali pertama diperkenalkan Surotoluh, kakek Priyo, 1960 silam. Priyo termasuk generasi ketiga.

Perubahan zaman dan sudut pandang membuat julukan Kampung Ledhek Kethek kini tinggal nama. Jasa hiburan topeng monyet dianggap eksploitasi hewan. ‘’Dulu satu gang rumah saya, punya monyet semua. Sekarang hanya saya,’’ ungkap pria 51 tahun itu.

Priyo bercerita, seniman ledhek kethek Kertosari pada masa jayanya berkeliling dari satu kota ke kota lain. Bahkan, ada yang sampai luar Pulau Jawa. Namun, bapak empat anak itu membantah pentas keliling inisiatif pribadi. Pertunjukan itu digeber hanya ketika ada panggilan. ‘’Seniman ledhek kethek di Kertosari tidak ada yang keliling. Penghasilan kami ya dari upah panggilan, tidak minta saweran ke penonton,’’ terangnya.

Membuat monyet bisa beratraksi lucu dan menghibur bukan perkara mudah. Misalnya lewat ujaran “tentara maju perang”, “naik motor”, atau “tarian reyog”. Priyo harus melatih Cempluk sejak berusia 1,5 tahun. Kera betina dipilih karena memiliki daya ingat yang bagus. Selain itu, tidak mudah bosan ketika diajak berlatih. ‘’Latihan tidak pakai kekerasan. Kalau monyet disiksa justru agresif dan berontak,’’ ungkapnya.

Kesehatan monyet tidak diabaikan. Selain memberi makan buah-buahan dan susu minimal tiga kali sehari, juga diberi vitamin. Bahkan divaksin rabies. ‘’Kera yang sudah tua atau tidak bisa lagi pentas tetap dirawat kok. Tidak kami telantarkan,’’ pungkasnya. (mg4/c1/cor)

Pemdes Kertosari Dilematis

PERTUNJUKAN ledhek kethek menawarkan penghasilan sangat besar. Tidak heran bila warga Desa Kertosari, Geger, ikut-ikutan Surotoluh menjadi seniman topeng monyet. Perekonomian terbantu. ‘’Almarhum Surotoluh satu-satunya orang yang bisa melatih monyet kala itu,’’ kata Plt Sekretaris Desa Kertosari Suparman.

Suparman mengungkapkan, topeng monyet di era Surotoluh sangat digemari masyarakat. Bahkan ada yang sampai merantau ke Kalimantan dan Papua. Namun, sejak pertunjukan ledhek kethek dilarang, peminatnya tidak seramai dulu. ‘’Banyak yang pensiun karena penghasilan dari topeng monyet tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari,’’ ujarnya.

Plt Kepala Dusun Kertosari Basuki menambahkan, kesenian ledhek kethek di kampungnya nyaris menghilang. Pihak pemerintah desa (pemdes) bingung untuk menyikapi. Satu sisi, ketika ingin mempertahankan kesenian itu, terbentur larangan penyiksaan hewan. Namun, jika tidak ada pemberdayaan, kesenian tradisional itu akan menghilang. ‘’Pemerintah desa dilema,’’ katanya.

Mengenai sangkaan eksploitasi, Basuki tidak sepakat. Dia tidak melihat adanya penyiksaan dan kekerasan terhadap monyet.  ‘’Saya sering melihat cara melatihnya seperti apa. Kebetulan, tempat yang banyak seniman ledhek kethek wilayah kerja saya,’’ ungkapnya. (mg4/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close