Opini

Kamera Siluman

MEMPERTAHANKAN yang sudah baik memang tidak mudah. Butuh upaya lebih dibanding saat menjadi baik. Hal itu yang sedang kita lakukan. Kita sedang berupaya lebih untuk mempertahankan capaian apik kota kita terhadap korona. Seperti diketahui, Kota Madiun ditetapkan sebagai zona hijau oleh gubernur Jawa Timur beberapa waktu lalu. Kota kita daerah pertama di Jawa Timur. Presiden Joko Widodo juga memberikan selamat.

Tapi, bagi saya ini beban. Selamat bisa diartikan sebagai ucapan selamat. Tapi juga ada tantangan di baliknya. Tantangan untuk mempertahankan tadi. Seolah muncul pertanyaan, apakah bisa mempertahankan. Ini harus menjadi pelecut semangat bagi kita. Baik pemerintah maupun masyarakatnya. Kita buktikan kalau kita bisa. Kota kita memang memiliki tambahan kasus positif lagi. Tapi keduanya dari luar kota. Kasus nomor 8 bekerja di Jakarta. Sedangkan nomor 9 berasal dari Makassar. Saya optimistis warga Kota Madiun itu sehat-sehat.

Karena itu, kota kita masih dinilai baik dalam penanganan Covid-19. Pelacakan kepada kontak erat kasus positif juga dinilai baik. Setidaknya, kita melakukan pelacakan lebih dari sekadar kontak erat dari tiap kasus positif. Padahal, kontak eratnya tidak lebih dari sepuluh orang. Jangkauan pelacakan sengaja kita perluas. Ini sebagai upaya pendeteksian dini kemungkinan adanya penularan.

Peran masyarakat juga penting. Kita punya data lengkap setiap ODR. Itu tak terlepas dari peran kader kesehatan di tiap kelurahan. Bahkan, hingga tingkat RT. Kader kesehatan ini merupakan relawan dari masyarakat. Mereka langsung turun melakukan pendataan begitu adanya laporan orang dari luar. Kader kesehatan juga memantau perkembangan setiap hari saat menjalani isolasi mandiri selama 14 hari itu. Kalau muncul gejala, kader juga yang memanggil petugas kesehatan. Ini menjadikan penanganan Covid-19 di Kota Madiun lebih terkendali.

Begitu juga urusan bantuan sosial. Di Kota Madiun juga melibatkan peran aktif masyarakat. Kita punya pekerja sosial masyarakat (PSM). Mereka melakukan pendataan masyarakat yang benar-benar membutuhkan bantuan. Masyarakat yang terdampak Covid-19 dari tingkatkan paling bawah. Ini menjadikan penyaluran bantuan lebih tepat sasaran. Peran aktif masyarakat inilah yang mendapat apresiasi presiden. Bahkan, kita jadi percontohan. Daerah lain juga diminta untuk lebih meningkatkan intervensi penanganan Covid-19 di tingkat bawah. Seperti di kota kita.

Peran masyarakat ini saya perluas. Tidak hanya urusan kesehatan dan bantuan sosial. Tapi juga urusan kedisiplinan. Saya sengaja membuka kesempatan bagi masyarakat untuk jadi pengawas dalam penerapan protokol kesehatan. Masyarakat bisa melaporkan temuan pelanggaran melalui media sosial masing-masing. Caranya dengan meng-upload foto pelanggaran terkait pemakaian masker dan jaga jarak. Bisa di rumah makan, PKL, mal, atau tempat berkerumun masyarakat lainnya. Foto laporan silakan untuk di-mention ke akun medsos saya. Pelaku usaha yang terbukti melanggar akan saya tindak tegas. Akan dilakukan penutupan selama satu minggu. Sanksi juga bisa lebih berat. Tergantung pelanggarannya.

Di pihak Pemerintah Kota Madiun, saya sudah membentuk pokja penegak pelaksanaan protokol kesehatan (P4K). Pokja ini terbagi dalam beberapa bidang. Mulai bidang ekonomi, sosial, hingga kesehatan. Di Kota Madiun memang sudah diperbolehkan untuk menggelar pesta perkawinan. Syaratnya, harus mengikuti protokol kesehatan. Tuan rumah wajib memaparkan penerapan protokol kesehatan ke tim pokja tadi. Tim nantinya akan memberikan rekomendasi. Jika dapat memenuhi, izin diberikan.

Tim ini juga memiliki pokja urusan pengawasan. Sama seperti peran masyarakat tadi, saya meminta adanya 25 petugas yang menyebar dengan berbekal kamera. Bukan kamera yang mencolok. Tapi cukup kamera handphone. Mereka akan berkeliling membaur seperti masyarakat pada umumnya. Seperti siluman. Mereka juga akan mengunjungi tempat-tempat yang ramai masyarakat. Seperti rumah makan dan mal tadi. Tugasnya mengambil foto jika terdapat pelanggaran. Hasilnya langsung dilaporkan ke saya. Kalau terbukti, sanksi penutupan tadi.

Pemakaian masker memang menjadi kewajiban. Tapi ada yang sekadar untuk menggugurkan kewajiban. Masker sudah dipakai, tapi kurang benar cara pemakaiannya. Biasanya, tidak menutup bagian mulut dan hidung. Hanya mulut saja. Sedang, bagian hidung masih terbuka. Ada juga yang memakainya di dagu. Jelas ini tidak memberikan fungsi apa-apa. Masker ini adalah pelindung pertama. Potensi penularan orang yang menggunakan masker setidaknya hanya satu persen. Tetapi kalau sama-sama tidak mengenakan masker potensi penularan bisa 100 persen.

Makanya, saya tegas terkait pemakaian masker ini. Tim juga saya turunkan setiap hari untuk memberikan imbauan kepada masyarakat. Tim di posko masuk juga diperketat. Pengendara tanpa bermasker pantang masuk Kota Madiun. Upaya ini untuk kebaikan kita. Karena Covid-19 musuh kita bersama.

Penulis adalah Wali Kota Madiun Drs. H. Maidi, SH, MM, MPd

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close