features

Kain Ecoprint Buatan Ani Fatimah Diminati Pejabat

Bagi Ani Fatimah, alam seolah sudah menjadi rumah keduanya. Maklum, perempuan itu biasa memanfaatkan dedaunan dan kayu untuk memoles lembaran kain hingga menghasilkan warna dan motif yang unik. Lewat kain ecoprint itu pula rupiah mengalir ke kantongnya.

SRI MULYANI, Jawa Pos Radar Madiun

PEKARANGAN rumah Ani Fatimah tampak dipenuhi berbagai tanaman. Mulai pohon mangga, jati, bunga ekor kucing, dan beberapa jenis tumbuhan lain hingga terlihat hijau dan sejuk. Sementara, di ruang sisi depan rumah tampak tumpukan kain tertata rapi di sebuah meja. Sebagian lagi dipajang di frame dan manekin.

Kain-kain yang terlihat eksotik itu mayoritas bermotif dedaunan. Namun, memiliki tekstur berbeda dengan motif kain pabrikan yang dibuat secara massal dengan mesin. ‘’Ini kain ecoprint. Pewarnaannya menggunakan bahan-bahan dari alam,’’ ujar perempuan 43 tahun itu, Selasa (24/8).

Ani menekuni kerajinan kain ecoprint sejak 2019 lalu. Keterampilan itu diperoleh dari pelatihan di Bojonegoro. Usai pelatihan, dia langsung mempraktikannya di rumah. ‘’Beberapa kali sempat gagal juga. Tapi, kainnya saya perbarui lagi agar tidak terbuang percuma,’’ kenangnya.

Proses pembuatan kain ecoprint membutuhkan beberapa tahapan. Dimulai dengan mordanting untuk membuka serat-serat pada kain agar formula pewarna dapat meresap dengan baik. Caranya, kain direndam di tawas atau tanin sekitar sembilan jam. ‘’Kemudian, kain diperas dan diangin-anginkan hingga mamel. Setelah itu, diberi pewarna alami dan diperas lagi,’’ bebernya.

Selama ini Ani memanfaatkan berbagai bahan alam sebagai pewarna maupun motif kain. Di antaranya, kayu secang, tegeran, mahoni, dan mangga. Juga kulit buah jolawe serta daun indigofera dan murbei. Tidak jarang pula dia menggunakan bunga kenikir, kamboja, dan ekor kucing. ‘’Favorit saya daun indigofera dan kemuning,’’ sebut warga Desa Kedondong, Kebonsari, Kabupaten Madiun, itu.

Bahan-bahan dari alam itu awalnya direndam dengan air cuka selama 15 menit. Lalu, dibeber di permukaan kain yang telah diberi alas plastik. Kemudian, ditutup dengan plastik. ‘’Setelah itu digulung dan diikat dengan tali rafia. Proses berikutnya dikukus selama dua jam,’’ paparnya.

Saat ini Ani dan sang suami telah mampu menyulap kain ecoprint menjadi berbagai produk fashion. Mulai mukena, dompet, hingga tas. Dia juga berencana menggandeng perajin kulit Magetan untuk memproduksi sandal kulit. ‘’Sudah ada pembicaraan,’’ kata istri Muhammad Ali itu.

Seiring berjalannya waktu, produk kain ecoprint buatan Ani semakin dikenal luas. Kini penjualannya sudah merambah berbagai daerah di tanah air, bahkan Hongkong. Pun, sejumlah istri pejabat pemerintahan kepincut dengan kerajinan tersebut. ‘’Pernah juga dibeli Bu Arumi Bachsin (istri Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, Red),’’ ungkapnya.

Selama ini, ibu tiga anak itu melakukan proses produksi tiga hari sekali. Dalam sekali produksi dia mampu menghasilkan 10 hingga 15 lembar kain. Produk hasil kreasinya itu dijual dengan harga bervasiasi mulai Rp 150 ribu sampai Rp 350 ribu. ‘’Keuntungannya lumayan lah,’’ tuturnya. * (dilengkapi Elit AS-Friska OF/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button