Magetan

Kadipaten Purwodadi Tak Masuk Cagar Budaya karena Milik Perseorangan

MAGETAN – Peninggalan sejarah kolonial Belanda banyak terbengkalai. Salah satunya adalah rintisan sejarah Kadipaten Purwodadi yang ada di Desa Purwodadi, Kecamatan Barat, Magetan. ‘’Sekarang kondisinya tinggal pagar dan gerbang utama yang sejatinya sudah tidak seperti aslinya,’’ kata Raden Septian Bagus Winata, keturunan ke 6 Pangeran Diponegoro.

Sayangnya, reruntuhan itu belum masuk ke dalam salah satu cagar budaya Kabupaten Magetan. Padahal, sudah dua kali Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan mengunjungi tempat itu. Pun, sudah memberikan saran terkait dengan syarat-syarat agar kawasan itu bisa jadi cagar budaya. Sehingga bisa direstorasi. Jadi kan tinggal dindingnya, bisa direstorasi, sehingga bisa rapi,’’ ujar Tian, sapaan Raden Septian Bagus Winata.

Dia menjelaskan, dulu Kadipaten Purwodadi sejatinya adalah benteng atau tempat yang digunakan untuk menyiapkan laskar pasukan pada masa perang Jawa. ‘’Perang Jawa sendiri adalah perang untuk mengusir para kolonial Belanda. Untuk persiapan itulah, pagar kadipaten ini memiliki ketebalan sekitar 110 sentimeter,’’ tuturnya.

Dia mengharapkan kadipaten milik leluhurnya ini bisa direhab atau diperbaiki sehingga menyerupai aslinya. Dia menyadari bahwa itu bukan hal yang mudah dan tentunya membutuhkan biaya tidak sedikit. ‘’Ini masih mencari link di pusat maupun di kabupaten sendiri,’’ kata Tian.

Selain itu, luas tanah Kadipaten Purwodadi seluas sekitar 3 hektare ternyata masih milik perseorangan. Terhitung ada 5 nama yang memiliki tanah seluas 3 hektare Kadipaten Purwodadi tersebut. Empat diantaranya adalah keluarga yang memang masih keturunan dari Diponegoro. Sementara satu nama memang bukan keturunan trah Diponegoro. ‘’Satu itu karena waktu dulu zaman eyang saya, tanah itu dijual ke pihak yang memang bukan keluarga kami,’’ urainya.

Dia sudah rembukan dengan para pemilik tanah. Mereka semua sepakat, bila tanah itu bakal dibeli pemerintah, mereka tak akan keberatan. Karena hal itu bertujuan mempermudah rehabilitasi Kadipaten Purwodadi. ‘’Nanti setidaknya tanah yang berjarak 3 meter dari pagar kadipaten ini juga diatasnamakan yayasan atau pemerintah agar mempermudah proses itu,’’ jelas Tian.

Proses-proses itulah yang kemungkinan akan memakan waktu lama. Untuk itu, dia mulai merintis tujuannya sedini mungkin. Bukan hanya untuk trahnya, tapi untuk seluruh masyarakat Magetan agar lebih menghargai peninggalan sejarah yang memang layak dilestarikan. ‘’Diusahakan sedini mungkin supaya nanti bisa menjadi cagar budaya yang memang memiliki nilai histori tinggi,’’ kata alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya itu.

Tian mengungkapkan bahwa dirinya sudah melapor pada BPCB. Pihak Trowulan sendiri sudah melakukan penelitian di Kadipaten Purwodadi, dan kali ini sudah masuk tahun kedua. Memang dulu dia bekerja sama dengan beberapa pihak mencoba untuk mengenalkan Kadipaten Purwodadi ke publik. ‘’Akhirnya pada 2015 dimulailah Festival Benteng Kadipaten Purwodadi untuk mengenalkan pada masyarakat luas,’’ pungkasnya. (fat/c1/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
               
         
close