Ponorogo

Kaca Mobil Dinas Ketua KPU Dipecah, Tas Berisi Uang Digondol

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Tahapan kampanye Pemilu Kepala Daerah (Pilkada) Ponorogo tengah berlangsung.  Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Ponorogo Munajat jadi korban pencurian dengan pemberatan (curat).

Senin malam (12/10), kaca mobil dinasnya dipecah orang tak dikenal. Tas berisi uang tunai jutaan rupiah digondol. ‘’Ini musibah, bukan teror. Alhamdulillah masih diberi kesehatan,’’ kata Munajat yang tak menduga menjadi sasaran aksi kejahatan Selasa (13/10).

Pulang kerja malam itu, Munajat tidak didampingi pengawal pribadi (walpri) dari kepolisian. Dia mampir ke dua toko buah. Pertama di Jalan Soekarno-Hatta. ‘’Masih aman-aman saja, saya juga tidak merasa ada yang mengikuti,’’ ujarnya.

Di Jalan Raya Jabung-Siman, Munajat mampir lagi ke sebuah toko buah. Dia hendak beli nanas untuk anaknya. Mobil dinas AE 1167 SP diparkir. Dia lalu menyeberang ke toko buah. Sekitar sepuluh menit Munajat di toko buah itu, dua orang mencurigakan berlama-lama membeli buah. ‘’Seperti berusaha mengecoh. Tapi saya tidak curiga,’’ tuturnya.

Terdengar suara kaca pecah. Alarm mobilnya berbunyi. Dua orang tampak bergegas ke arah sepeda motor bebek di depan mobil Munajat. Dia berusaha mengejar namun terlambat. Dia baru sadar kaca kiri depan mobilnya pecah. Tas kecilnya juga raib. ‘’Di dalam tas ada KTP, SIM, kartu ATM, dan uang tunai Rp 5,8 juta,’’ bebernya.

Munajat pun melaporkan kejadian ini ke polisi. Kapolsek Mlarak AKP Sudaroini mengatakan sudah mengantongi identitas penting terduga pelaku. Diperkirakan empat orang. Dua orang berkendara Yamaha N-Max, dua lainnya Suzuki Satria FU.

Dua terduga pelaku yang mengendarai N-Max mengecoh Munajat dengan berpura-pura beli buah. Sedangkan dua lainnya melancarkan aksi pecah kaca. ‘’Logat bahasa Indonesianya tidak seperti orang Jawa. Saat ini masih kami selidiki,’’ ujar kapolsek. (naz/c1/sat)

Tak Berhubungan dengan Pilkada

NAHAS yang menimpa Ketua KPU Ponorogo Munajat dipandang bukan aksi teror terhadap penyelenggara pilkada. Insiden itu murni kriminal biasa. ‘’Tidak ada hubungannya dengan pilkada,’’ kata Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Ponorogo (Umpo) Ayub Dwi Anggoro Selasa (13/10).

Menurut dia, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), teror adalah usaha menciptakan ketakutan atau kengerian kepada seseorang. ‘’Sehingga, sulit mengaitkan antara kasus ini dengan (lembaga) KPU,’’ ujarnya.

Dia minta kasus ini tidak didramatisasi sebagai bentuk teror. Faktanya, memang aksi curat. ‘’KPU hanya penyelenggara pemilu. Tidak ada urgensi antara insiden ini dengan jabatan korban sebagai ketua KPU,’’ paparnya. (naz/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close