Bupati Menulis

Kabinet Indonesia Maju

(Kita mau jadi aksesori atau berperan besar)

TIGA hari lalu, tepatnya 25 Oktober 2019, di Istana Negara telah dilantik Kabinet Indonesia Maju. Tidak bisa dimungkiri kabinet ini merupakan kelanjutan program Presiden Jokowi sebelumnya. Tentu dengan komposisi pembantu yang berbeda. Kecuali beberapa pos yang tetap dipertahankan.

Saya ingat betul ketika beliau –beberapa minggu setelah pilpres, gubernur, dan bupati/wali kota se-Jawa Timur– dipanggil ke Istana Bogor. Pada kesempatan tersebut beliau menyampaikan kira-kira begini,” Menurut penghitungan real count tim kami, Insya Allah memenangkan Pilpres 2019. Perlu saya sampaikan, bahwa untuk pemerintahan periode kedua, saya akan lakukan apa pun demi nusa dan bangsa. Karena saya sudah tidak punya beban lagi.”

Tentu yang dimaksud tidak punya beban, karena beliau sudah periode kedua. Tidak mungkin dipilih lagi atau mencalonkan yang ketiga. Maka, Presiden Jokowi akan melakukan apa pun jika itu demi kebaikan bangsa dan negara Indonesia.

Pandangan Presiden Jokowi tersebut tampaknya betul-betul terlihat pada sebagian pembantunya yang dipilih untuk mempersiapkan visinya ”Indonesia Maju”. Tentu semua dibuat terkejut dan terheran-heran. Karena keputusannya telah ”nyempal saka pakem” dalam istilah Jawa. Sebagai contoh, menteri pendidikan dan kebudayaan biasanya dipegang oleh tokoh Muhammadiyah. Demikian juga menteri agama biasanya dari kalangan NU. Tidak demikian pada pemerintahan Presiden Jokowi saat ini. Pun dengan pembantu serta jabatan lainnya.

Mungkin dua pembantu presiden tersebut yang menjadi perbincangan hangat sampai saat ini. Baik di media mainstream maupun media sosial. Isinya ada komentar datar, analisis, bahkan candaan serta meme. Tentu semua punya argumen sendiri-sendiri. Kembali kepada keputusan presiden, tentu untuk mencapai visinya perlu dibantu oleh pembantu yang dianggap dapat menerjemahkan pikiran dan mimpi-mimpinya.

Perbincangan Nadiem Makarim di berbagai media sebagai mendikbud, mengingatkan saya dua tahun lalu ketika Presiden Jokowi menjadi pembicara kunci di dies natalis Universitas Pajajaran Bandung tanggal 11 September 2017. Pada waktu menjadi pembicara kunci tersebut, presiden dengan setengah berkelakar menyampaikan gagasannya khusus untuk pendidikan tingginya. Adapun isinya antara lain sebagai berikut: “Harusnya Unpad ini punya fakultas media sosial, jurusannya meme. Kenapa tidak? Jurusannya animasi, kenapa tidak? Karena ini yang ke depan akan kita hadapi. Perubahan dunia sangat cepat. Misalnya, orang rasa-rasanya baru belajar internet belum lama, tapi kemudian sudah muncul mobile internet. Disusul kemudian muncul kecerdasan buatan. Untuk pembayaran, kini beli makanan atau beli apa pun tidak usah datang ke toko, cukup lewat aplikasi. Belum informasi yang demikian cepat. Ini semua akan mengubah lanskap politik global. Lanskap politik global berubah, lanskap politik nasional juga berubah. Lanskap politik daerah tentu juga berubah. Demikian juga lanskap ekonomi turut berubah. Universitas harus mengantisipasi perubahan-perubahan itu. Dunia berkembang sangat cepat. Inovasi bukan hanya membawa perubahan yang fundamental. Sekarang kita sedang berada pada tahap transisi. Bukan hanya di kota besar, tapi juga di pelosok desa.”

Apa yang disampaikan presiden tersebut bisa dimaknai “guyon parikena.” Melihat perguruan tinggi atau dunia pendidikan yang tidak kunjung berubah. Sedang dunia sudah berubah. Atau dunia telah berubah, masalah yang dihadapi berubah, tetapi jawaban tetap sama saja sejak dulu. Artinya, kalau masalah atau soal sudah tidak sama kok jawabannya sama, bisa diartikan kalau sekolah jawaban salah atau tidak lulus.

Demikian juga ketika kita melihat dunia sudah berubah demikian cepat di perguruan tinggi tetap sama saja. Kita sudah dalam era digital. Kecepatan berpikir dan bertindak salah, satu ukuran keberhasilan. Kita bisa melihat sejak saya kecil, yang namanya fakultas teknik sejak dulu ya jurusannya sipil, arsitek, mesin, elektro, dan beberapa jurusan lain. Dan, yang dibuka baru sekitar dua puluh tahun terakhir: teknik komputer. Demikian juga fakultas yang lain. Kalau kita berkaca di luar negeri, begitu banyak jurusan dan spesialisasi. Seperti ketika saya melakukan evaluasi terhadap mahasiswa Indonesia yang mendapat beasiswa dari Kemkominfo di beberapa universitas teknik di pelbagai negara. Yang namanya jurusan sudah macam-macam. Betul-betul menjawab tantangan zaman. Di salah satu universitas teknik di Belanda, sekitar sepuluh tahun lalu, jurusan creative technology, artificial intelligence (kecerdasan buatan), dan sebagainya, sudah dibuka.

Yang membuat kita kadang bingung dan bisa jadi jengkel. Ketika saya masih bekerja di kementerian Jakarta, waktu itu dengan susah payah mencari dan kemudian mengirim anak muda yang pintar untuk mengambil jurusan-jurusan tersebut guna menghadapi tantangan di masa depan. Namun, ketika pulang ke Indonesia, tidak bisa diangkat. Dengan alasan karena jurusannya tidak sesuai dengan yang dibutuhkan di kementerian. Atau, tidak ada formasinya. Salah satu sebabnya, dalam pedoman penyusunan formasi pegawai ASN kita masih terpaku pada jurusan yang ada di pendidikan tinggi Indonesia.

Demikian berat dan dinamisnya tantangan serta peluang di masa depan. Tentu menjadi relevan dengan lebih fokus pada SDM untuk menjawab era digital membawa “Indonesia Maju” menjadi fokus kabinet saat ini. Sudah tentu, masalah ini juga harus menjadi tantangan pemerintah daerah untuk ikut terlibat dalam visi tersebut. Saya kemudian menjadi ingat apa yang disampaikan salah satu tokoh pejuang bangsa Roeslan Abdul Gani, ”Pohon itu akan kuat kalau akarnya kuat. Negara ini akan kuat kalau daerah kuat.”

Demikian juga jika mimpi kita “Indonesia Maju” terwujud, tentu daerah harus maju. Hanya, yang menjadi soal adalah ketika Indonesia maju, berapa besar sumbangan masing-masing daerah terhadap kemajuan tersebut. Tentu ada yang besar dan ada yang kecil. Lalu, seberapa besar sumbangan kemajuan Kabupaten Magetan? Atau kabupaten/kota di Pawitandirogo?

Harapan kita, jangan sampai kecil sumbangannya terhadap kemajuan Indonesia. Kalau saya ibaratkan mobil begitu, ada banyak komponen-komponen. Ada yang begitu penting seperti roda, kemudi, karburator, dan lain-lain. Namun, sebaliknya ada yang tidak begitu penting. Kalau boleh saya mengatakan, hanya sebagai aksesori. Seperti stiker, lampu hias, dan lain-lain. Ada dan tidak ada pun, tidak mempunyai pengaruh apa-apa.

Demikian juga keberadaan daerah kita, Kabupaten Magetan atau kabupaten/kota lain yang kita cintai ini. Walaupun kabupaten kecil, harus memberikan sumbangan yang besar untuk Indonesia Maju. Bukankah sesuatu yang besar bermakna besar itu sebuah kewajaran? Namun sebaliknya, sesuatu yang besar namun bermakna kecil adalah kebodohan. Akan sangat indah, apabila sesuatu yang kecil namun bermakna besar. Itulah kecerdasan.

Kabupaten Magetan boleh kecil. Baik wilayah (kabupaten luas wilayah paling kecil di Jatim setelah Sidoarjo), APBD yang kecil, maupun PAD-nya. Namun, walaupun kecil, harus bermakna besar dalam bentuk sumbangan kepada visi Indonesia Maju. Sekali lagi, itulah kecerdasan. Sebaliknya, betapa ruginya kalau Indonesia Maju terwujud, kita hanya menjadi aksesorinya.

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button