Bupati Menulis

Judul (tidak) Sama Dengan Isi

KETIKA teknologi belum berkembang seperti sekarang ini, kira-kira sepuluh tahun yang lalu kita masih sering melihat setiap pagi banyak penjual koran harian. Kalau di Jakarta waktu Subuh sebelum perempatan Senen dari arah Salemba orang (agen) sibuk membagi koran bagi kepada pengecer. Demikian juga di Surabaya ada tempat tertentu waktu itu di sekitar Jalan Pahlawan sebelah Utara Kantor Gubernur.

Tidak lama kemudian, para pengecer sudah menjajakan koran pagi dipinggir jalan. Apalagi di perempatan jalan. Pasti banyak penjualnya. Apalagi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Malang, Yogya, Bandung dan kota-kota lainnya. Ketika orang pada berangkat kerja sarapan pagi adalah membaca koran.

Fenomena waktu itu ada koran yang bergantung kepada penjualan eceran. Namun ada juga koran yang tidak terlalu tergantung kepada penjualan eceran. Malahan pendapatannya dari pelanggan bulanan. Biasanya koran semacam ini adalah koran-koran serius yang telah mempunyai reputasi. Dan pelanggannya adalah orang-orang menengah ke atas.

Dengan adanya dikotomi ketergantungan pendapatan dari eceran atau pelanggan bulanan itulah kemudian ada sebutan koran perempatan dan bukan perempatan. Koran bukan perempatan adalah koran yang dijual bukan berdasarkan judul berita. Artinya judul berita bukan menjadi sesuatu untuk menarik atau daya untuk menarik minat membaca berita tersebut. Oleh sebab itu antara judul dan isi relatif sama. Apalagi bagi orang yang sibuk, kemudian cukup membaca lead berita atau paragraf pertama dari sebuah berita sudah bisa memahami isinya.

Sebaliknya berbeda dengan koran perempatan. Yang dijual justru judul beritanya. Sehingga orang berkendaraan yang berhenti di perempatan akan membaca judul berita. Kalau judul berita menarik akan tergerak untuk membeli. Oleh sebab itu koran perempatan judul berita selalu dibuat bombastis. Misal saya pernah baca “M Taufik Nekat Mencuri Perhiasan Milik Megawati.” Membaca sekilas saja orang pasti kepingin membaca secara keseluruhan. Apalagi dijual diperempatan jalan, orang akan tergerak untuk membeli. Tentu masyarakat Indonesia umumnya mengetahui Megawati (mantan presiden) memang suaminya alm Taufik Kemas. Namun kita juga tahu pasti, bahwa yang dimaksud dalam berita itu bukan Megawati (mantan presiden). Namun faktanya berita tersebut berisi bahwa mantan majikan Taufik yang perhiasannya dicuri kebetulan bernama Megawati. Dan kejadian itu di Surabaya.

Penjual koran di perempatan akan menempatan koran yang menjual judul yang bombastis tersebut pasti di posisi depan. Sedang koran-koran yang serius atau koran langganan akan ditaruh ditengah. Malahan seringkali tidak diperlihatakan. Bila pembeli tanya baru diambilkan. Justru yang didepan tumpukan dan dipegang tangan satunya serta diacungkan supaya pembeli tertarik untuk membeli adalah koran degan judul yang bombastis tersebut.

Malahan saya sendiri pernah terkecoh. Sekaliber harian ternama di halaman satu pernah memuat berita yang cukup mengecoh. Dan siapapun tentu akan membeli koran tersebut. Termasuk saya tentunya. Yang sebenarnya ketika itu saya sudah berlangganan koran tersebut. Malahan pertama saya berlangganan sejak saya kuliah dulu di Yogya. Ketika tahun 1977 saya masuk kuliah sudah berlangganan. Walaupun cara berlangganan saya ketika itu masih patungan dengan teman-teman sesama ngekos. Karena patungan, tentu membacanya bergantian. Namun ketika melihat judul di halaman satu tersebut, kok ya saya tergelitik membeli. Karena yaitu tadi, tidak sabar ingin segera mengetahui isinya.

Kejadiannya sendiri sekitar tahun 1990-an. Pada waktu itu saya naik mobil berhenti di lampu pemberhentian sekarang jembatan layang Wonokromo. Ketika itu masih banyak yang menjajakan koran. Salah satu judul di halaman satu di harian ternama tersebut judulnya kira-kira begini,”Wartawan Dilantik Menjadi Ketua Pengadilan Negeri.” Baru membaca saja rasanya aneh. Ada seorang wartawan kok dilantik menjadi ketua pengadilan negeri. Apakah ini sebuah kebijakan rezim Orde Baru yang betul baru. Tentu saya waktu itu sangat penasaran ingin tahu. Dan bisa ditebak kemudian saya akhirnya membelinya.

Setelah membaca dengan seksama saya jadi tertawa sendiri. Bayangkan saya waktu itu selain bekerja di birokrasi, kalau malam sudah mengajar dan memberi kuliah di sekolah jurnalistik. Namun masih juga terkecoh dengan judul sebuah koran ternama seperti itu. Karena isinya ternyata memang betul Wartawan dilantik menjadi ketua pengadilan negeri di sebuah kabupaten di Jabar. Namun Wartawan yang dimaksud bukan wartawan yang bekerja di sebuah media koran atau media elektronik. Namun seorang hakim yang memang bernama Wartawan. Karena promosi, kemudian dilantik menjadi Ketua Pengadilan Negeri. Tentu saja setelah saya membacanya langsung tertawa sendiri.

Tentu koran kesayangan kita Jawa Pos waktu diterbitkan salah satunya ingin melawan hegemoni koran nasional mapan dan ternama yang terbit di Jakarta. Yang juga dikenal dengan koran langganan. Oleh sebab itu motonya Jawa Pos, waktu itu adalah “Koran Nasional Yang Terbit Dari Timur.” Sebelum kemudian diubah menjadi “Selalu Ada Yang Baru” seperti moto saat ini. Walaupun waktu itu Jawa Pos awalnya masuk koran yang tergantung pada penjualan eceran. Sampai-sampai seluruh staf Jawa Pos harus ikut jualan koran.

Seiring berjalanannya waktu Jawa Pos menurut hemat saya telah masuk golongan koran berlangganan. Tentu   termasuk di dalamnya Radar Madiun dan turunnya yang menurut hemat saya saat ini bukan kategori koran perempatan lagi. Karena saat ini, kita jarang sekali melihat penjual koran harian di pinggir jalan atau di perempatan. Oleh sebab itu sudah semestinya tidak menjual judul, agar laku dijual eceran di jalan atau di perempatan.

Namun seminggu yang lalu saya termasuk yang terkejut ketika di halaman ini membaca judul berita kalau tidak salah “Bupati Magetan Menjilat Ludah Sendiri.” Yang dipersoalkan adalah ketika saya dipelbagai kesempatan ditanya wartawan siapa calon kadis kesehatan Magetan. Saya menjawab, sebaiknya calon kadis kesehatan itu dari kalangan kesehatan. Malahan akan jauh lebih bagus kalau dari kalangan dokter.

La yang menjadi soal, ketika dibuka seleksi terbuka ternyata yang daftar salah satunya bukan dari kalangan dunia kesehatan. Dan kebetulan adalah yang saat ini Plt Dinas Kesehatan. Secara administrasi kebetulan lolos. Memang dalam pendaftaran kita tidak mencamtumkan harus dokter atau tenaga kesehatan. Kita juga tidak melarang ASN dari latar pendidikan yang lain mendaftar menjadi kepala dinas kesehatan. Namun seandainya sudah ditetapkan dan saya lantik mungkin saya menjilat ludah sendiri. Lo ini baru pendaftaran. Walaupun kemudian dijelaskan oleh ketua DPRD dalam berita selanjutnya.

Seperti sudah saya sampaikan, Jawa Pos dan turunnya saat ini menurut hemat saya sudah termasuk koran langganan. Bukan lagi koran yang tergantung pada pendapatan dari penjualan eceran. Tentu politik redaksinya bukan lagi menjual judul berita. Entah kalau harus sudah bersaing dengan medsos yang demikian cepat penyebarannya yang sudah menjungkirbalikan kemapanan media mainstream selama ini. Namun kalau kita tilik secara jernih, bukankah mestinya media mainstream justru mengambil posisi menjadi media rujukan bagi para pembaca ketika saat ini terjadi banjir informasi yang kadang sulit membedakan yang benar dan sekedar hoax.

Dulu ketika saya memberi kuliah, tulisan yang baik itu “Judul berita harus mencerminkan isi.”  Namun saya tidak tahu persis, apakah itu politik redaksi di era sekarang yang demikian kompetitif. Wallahu a’lam bishawab. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close