features

Juara Lari Provinsi Tanpa Alas Kaki

Kontingen Kota Madiun pulang dari ajang Peparprov Jatim dengan kepala tegak. Itu seiring raihan dua medali emas, dua perak, dan satu perunggu dari event olahraga khusus penyandang disabilitas tersebut. Paling moncer Sri Lestari dengan catatan dua emas dan satu perak.

SRI MULYANI, Jawa Pos Radar Madiun

KAKI telanjang Sri Lestari begitu gesit menjelajahi lintasan lari dengan jarak 200 meter itu. Beberapa meter menjelang garis finis, gadis 16 tahun tersebut memacu larinya semakin kencang. Sesekali dia menengok ke belakang mengamati lima pesaingnya yang juga memperkencang laju larinya. Namun, Sri tak terkejar hingga menginjak garis finis pertama dan memastikan meraih medali emas.

Momen tersebut terjadi dalam Pekan Paralimpik Provinsi Jawa Timur (Peparprov Jatim) 1 di Surabaya 20-24 Mei lalu. Pada kejuaraan yang digelar National Paralympic Committe Indonesia (NPCI) Jatim itu Sri total menyumbang dua medali emas dan satu perak.

Dalam event khusus atlet penyandang disabilitas tersebut, pundi-pundi medali kontingen Kota Madiun bertambah lewat raihan perak oleh Yuliana –juga dari cabor atletik- dan Waluyo yang turun di cabor catur. ‘’Sri pertama ikut lomba lari di O2SN tingkat kota pada 2018 lalu,’’ kata Muhammad Fariz Nian, guru olahraga SLBN Manisrejo sekaligus pelatih Sri.

Sebelum mengikuti peparprov, Sri harus melahap latihan harian di lapangan tidak jauh dari sekolah dan dekat rumahnya. Sesekali gadis itu menjajal lintasan lari di stadion. Uniknya, saat latihan maupun berlomba Sri terbiasa nyeker alias tanpa sepatu. ‘’Dulu pernah pakai sepatu tapi kets, tapi malah merasa tidak nyaman,” ujarnya sembari menyebut sebelumnya Sri sempat menjuarai porkot dan event tingkat provinsi.

Prestasi Sri di peparprov menular kepada Yuliana, adiknya. Gadis 15 tahun itu berhasil menyabet medali perak dari nomor lari 400 meter putri. Pada 2018 silam Yuliana juga berjaya di kejuaraan bocce O2SN di Kota Batu dengan meraih emas. ‘’Persiapan ke peparprov hanya dua bulan,’’ sebut Fariz.

Di cabor atletik peparprov saingan terberat tim Kota Madiun adalah Banyuwangi dan Trenggalek. Namun, Sri dan Yuliana yang tidak diunggulkan ternyata mampu membuat kejutan. ‘’Baru kali ini tim cabor atletik kita meraih juara,’’ tutur Djonet Sukijanto, ketua NPCI Kota Madiun.

Selama ini, Sri dan Yuliana biasa berlatih pagi hari mulai pukul 05.30 selama beberapa jam. Juga sore pukul 15.00 sampai 17.00. “Paling sering latihan di jalan raya depan rumah. Saya awasi dari dekat,” ujar Tumini, ibu Sri dan Yuliana. * (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button