Advertorial

Joglo Palereman, Jagoan Lapak UMKM Kelurahan Kelun

Manjakan Lidah sambil Tetirah di Tengah Sawah

Ada Joglo Palereman di Kelun. Lapak berkonsep tempo dulu itu menjadi andalan untuk menggairahkan usaha mikro kecil menengah (UMKM) di kelurahan ini. Saban hari pedagangnya meraup pendapatan ratusan ribu. Sebulannya terbukukan omzet dua ratusan juta.

NUR WACHID, Jawa Pos Radar Madiun

JIKA lewat Jalan Kembar rasanya kurang lengkap bila tak singgah di Joglo Palereman. Duduk selonjoran di bangunan joglo bernuansa artistik Jawa. Lalu memilih varian menu kulineran yang beragam. Memanjakan lidah sembari tetirah di tengah pematang sawah. Selayaknya orang-orang tempo dulu saat mengaso di siang hari.

Joglo Palereman merupakan satu dari banyak lapak UMKM yang dibangun pemkot. Strategi jitu ini untuk memulihkan ekonomi pasca terdampak pandemi. Seluruh pengelolaannya diurusi PKK bersama LPMK dan warga setempat. Disokong dana insentif daerah (DID) dari pemerintah pusat, tiap kelurahan mendapat Rp 261 juta untuk mewujudkan kelurahan mandiri. ‘’Lapak-lapak UMKM di kelurahan ini dibangun untuk gas ekonomi demi mewujudkan kelurahan mandiri,’’ kata Wali Kota Maidi.

Pembangunan lapak masif di 27 kelurahan ini dimulai Oktober hingga Desember 2020. Memanfaatkan tanah aset milik Pemkot Madiun seluas 600 meter persegi. Ada 11 lapak yang disiapkan khusus menjajakan kuliner tempo dulu dan pernak-pernik khas di kelurahan setempat. Ada pula lapak makanan modern bantuan dari pemkot.

Lurah Kelun Siti Karlinah menjamin pengunjung bakal tertarik dengan Joglo Palereman. Disediakan beragam kulineran. Mulai dawet kendil, tepo pecel, sayur siap saji, tape ketan, singkong, dan jajanan tradisional. Ada pula olahan tempe, jenang, wedang ronde, dan cemoe. Lapak ini juga menyediakan soto mini yang semangkuknya dibanderol dua ribu perak. ‘’Saya sampai ketagihan. Kulinernya lezat dan harganya terjangkau,’’ tuturnya.

Baru berusia 55 hari, lapak UMKM ini telah menyerap 22 pedagang dari warga setempat. Mereka dibagi dua sif saat pagi mulai pukul 06.00-12.00 dan sore pukul 15.00-20.00. Saban harinya tiap pedagang meraup omzet kisaran Rp 300 ribu-Rp 500 ribu. Setiap bulannya, lapak UMKM di kelurahan ini bisa membukukan pendapatan sekitar Rp 240-an juta. Jika konsistensi bisnis berbasis kelurahan ini terjaga, tak menutup kemungkinan satu-dua tahun ke depan Kelun menjelma kampung miliarder. ‘’Terobosan ini sukses menopang perekonomian warga. Tak ada pengangguran di kelurahan ini,’’ ungkapnya.

Ketua LPMK Kelun Jariyanto menuturkan, omzet menggiurkan dari lapak UMKM ini tak lepas dari pola manajemen mumpuni. Tiap lapak dibagi kelompok kerja (pokja) PKK yang masing-masingnya menjajakan kuliner berbeda. Semisal pokja 1 menjajakan kuliner berbahan ketan, pokja 2 dengan pecelnya yang menawarkan sambal tumpang, hingga pokja 4 khusus minuman. Ada pula lapak lain yang masing-masingnya dikelola enam RW di kelurahan ini. Karang taruna disediakan lapak untuk menjajakan kuliner anak-anak. Totalnya 11 lapak. ‘’Untung bersih sekitar 20 persen dari omzet,’’ ujarnya.

Di setiap lapak, tak kurang dari lima warga kelurahan yang menitipkan dagangan. Sehingga, total 55 warga di luar pedagang yang juga menjadi bagian pemberdayaan ekonomi berbasis kelurahan ini. ‘’Antusias masyarakat cukup bagus. Sabtu-Minggu yang datang bisa mencapai lima ratusan pengunjung. Ada pula yang dari luar kota,’’ bebernya.

Tahun ini, rencananya bakal ada penambahan dua lapak dan tiga gazebo. Dilengkapi kolam pemancingan. Pengembangan yang dianggarkan Rp 320 juta ini bakal dimulai Maret. ‘’Roda ekonomi terus diputar untuk mendongkrak kesejahteraan warga di kelurahan,’’ ucapnya. (fin/c1/adv)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button