Madiun

Jembatan Setia Yasa Tamat

MADIUN – Jembatan kecil yang ramai lalu lalang kendaraan itu kini telah tiada. Jembatan Setia Yasa, kala pagi dan sore selalu ramai dilalui kendaraan. Menjadi jalan pintas banyak orang, dari Kapten Saputro menuju Setia Yasa dan sejumlah kawasan di Margobawero. Begitu pula sebaliknya. Sayang, kerap macet lantaran sempitnya lebar jembatan Setia Yasa dan Jalan Kapten Saputro. ’’Menurut kami rawan, dan di jam-jam tertentu cukup padat kendaraan,’’ kata Kabid Bina Marga DPUTR Thariq Megah.

Pembongkaran jembatan Setia Yasa sudah dilakukan sejak sebulan terakhir. Jika yang paling selatan dibongkar, maka tiga jembatan di sisi utara sepanjang jalan itu diperlebar. Dari lebar tiga meter, direncanakan menjadi 7,5 meter dan panjang lima meter. CV Sahabat Kerja menjadi pelaksana proyek dengan anggaran senilai Rp 657 juta tersebut. Terhitung kemarin, pekerjaan CV Sahabat Kerja sudah mencapai 20,18 persen. ’’Kami bongkar satu jembatan untuk dipasangi box culvert, tiga lainnya diperlebar,’’ terangnya.

Sejumlah faktor diutarakan Thariq. Paling utama untuk melayani pengguna jalan. Jalan Setia Yasa dipandang sempit. Hanya tiga meter. Tapi ramai di jam-jam tertentu sebagai jalan pintas dari dan ke Kapten Saputro. Akibatnya, kendaraan sampai memakan badan jalan di MT Haryono. Karena itulah, DPUTR merehab jembatan kecil tersebut.

‘’Awalnya sempat terpikirkan untuk dijadikan satu jembatan. Tapi, dinas PU SDA (pekerjaan umum sumber daya air, Red) Jatim menolak karena akan kesulitan jika mereka mengeruk sedimentasi sungai,’’ kata Thariq sembari menyebut pihaknya juga membuat kantong lumpur untuk menampung endapan di sepanjang aliran sungai.

Kepadatan lalu lintas di jalan pintas itu diamini Kepala Dishub Ansar Rosidi. Kendati dia mengaku belum memiliki kajian berapa jumlah kendaraan yang lalu lalang menyeberang Kapten Saputro-Setia Yasa. Namun yang jelas cukup padat di jam-jam tertentu. Pun, kepadatan disebabkan lebar jalan yang sempit. ‘’Cukup padat,’’ sebutnya.

Dari arah Kapten Saputro, lebar jalan hanya tiga meter. Begitu pula sebaliknya, pengendara yang ingin menyeberang dari Setia Yasa menumpuk di ujung jembatan karena lebarnya hanya tiga meter.  Tak jarang kendaraan sudah antre masuk ke Jalan MT Haryono yang notabene ruas jalan utama. ‘’Kalau mau menyeberang, terutama ke Kapten Saputro, harus antre,’’ kata dia.

Per tahun ini, satu dari empat jembatan yang ada di Setia Yasa dibongkar. Ke depan usai pekerjaan fisik di Setia Yasa selesai, Ansar akan mengkaji kondisi lalu lintas di sana terkait keamanannya. Sebab, lalu lalang masyarakat jelas akan terpengaruh. Pun, dishub juga terbuka terhadap masukan dari masyarakat. ‘’Jika ada usulan tertentu, kami bahas. Kebutuhan sarpras di sana apa, harus kami cek dulu,’’ ujar Ansar.

Meski cukup ramai dan melintasi ruas jalan utama, namun titik pertemuan antara Setia Yasa dan Kapten Saputro di MT Haryono tidak termasuk black spot. Kasatlantas Polres Madiun Kota AKP Affan Priyo Wicaksono memastikan hal tersebut. Namun demikian, Affan menilai adanya perubahan titik penyeberangan bagi pengendara dari Kapten Saputro ke Setia Yasa juga perlu dianalisis lebih lanjut. ‘’Apakah mengganggu R2 dan R4 atau tidak, perlu ditinjau ke lokasi dulu,’’ bebernya. (naz/c1/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button